Password

Standard

You might aware that every posting with topic: Pastor’s Wife is protected with a password. Should you interested to read it, please contact me and I will be willing to share it with you.  I am writing there much of my experience and my feeling during my service as a pastor’s wife. Of much honesty I protected it against misunderstanding. If you want to share your experience as so, please write to me: cekeysh@gmail.com.  God Bless You.

Ascension

Standard

Hari ini diperingati sebagai hari Kenaikan — Ascension of Jesus Christ.

Saya ingin menuliskan sesuatu yang saya rasa menarik sehubungan dengan hari-hari terakhir Yesus di bumi. Setelah Yesus bangkit, dia tidak lantas kembali bergabung dengan murid-muridnya, namun secara random Ia menampakkan diri.

Kepada dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus, Yesus menampakkan diri.  Bergabung dalam obrolan dan berjalan bersama-sama hingga matahari hampir terbenam di kota yang mereka tuju. Anehnya, kedua murid tersebut tidak mengenali Yesus hingga ia memecah-mecahkan roti dan memberkatinya setelah mereka mendesak Yesus untuk tinggal bersama mereka. Perjalanan berjalan kaki beberapa kilo dan mereka tidak mengenali Yesus.

Pada saat murid-murid yang terdekat, 11 orang yang sisa setelah Yudas Iskariot gantung diri, berkumpul dan makan bersama, Yesus menampakkan diri. Kesebelas murid menyangka mereka melihat hantu.

Yesus juga menampakkan diri ketika murid-murid Nya menjala ikan di danau dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.  Ia sendiri yang mengatakan – tebarkan jala mu di sebelah kanan, baru setelah itu Yohanes mengatakan pada Petrus: Itu Tuhan!

Sulitkah untuk mengenali Yesus? Ini adalah murid-muridnya yang selama beberapa tahun bersama-sama, makan bersama, ngobrol bersama, menginap bersama, melakukan perjalan bersama, bahkan bertengkar bersama meributkan siapa yang paling hebat. Mereka memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu bagaimana dengan saya, yang belum pernah melihat wajahNya, belum pernah mendengar suaraNya, belum pernah jalan-jalan atau berwisata bersama denganNya? Bagaimana saya dapat mengenaliNya?

Seringkali para pemimpin menyebutkan kenalilah karakter — mungkin disinilah kuncinya. Bukan mengenali wajah, atau suara, bentuk tubuh atau nama, namun mengenali karakter. Kebiasaan. Karakter Tuhan adalah memberikan nasehat yang baik, dan setelah Ia menyebutkan menjala di sebelah kanan barulah Yohanes mengenaliNya. Karakter Tuhan adalah berdoa dan mengucapkan berkat, setelah ia memecahkan roti barulah kedua murid mengenaliNya.

Saya punya rekan kerja yang sama sekali tidak kenal dengan saya. Ia punya persepsi tersendiri bahwa saya adalah penipu, pembohong dan koruptor. Dengan setengah mati ia akan berusaha menelepon dokter atau klinik, jika saya melaporkan sebuah surat sakit.  Dengan sangat berusaha, ia akan menelepon apotik untuk memeriksa apakah kuitansi itu asli, jika saya mereimburse sebuah pengeluaran obat. Jika saya mengeluarkan Rp 10,000 untuk memberi tip kepada pengemudi GoSend maka beliau tidak akan bersedia mengganti uang tersebut karena itu dianggapnya bentuk korupsi. Di awal saya bekerja dengannya, saya berusaha untuk membuat rekan kerja ini memahami bahwa saya bukan orang jahat. Oh ya, kepada rekan kerja yang lain dia tidak begitu, hanya kepada saya, dan sampai sekarang pun saya tidak paham kenapa begitu negatif pandangannya padahal saya belum pernah mencurangi apapun. Dan, walaupun sudah terbukti berkali-kali bahwa saya tidak mencurangi apapun, ia tetap menganggap saya jahat.  Lalu, kalau bertemu di surga, lalu saya sapa, kira-kira apakah dia terkejut? Saya rasa ya, karena dia terkejut menyadari bahwa ia tidak mengenali karakter orang dengan baik. Apalagi kalau kita bertemu di perbatasan, saya yang ke surga dan beliau ketinggalan di dunia ini — pasti sangat sangat terkejut.  Buat saya ini contoh jelas gagalnya mengenali karakter. Dan banyak orang seperti ini.

Saya tidak ingin gagal mengenali karakter manusia — sesama di dunia. Keluarga, teman dan kerabat agar saya mengenali mereka saat bertemu kembali di keabadian.  Saya juga tidak ingin gagal mengenali karakter Tuhan — jangan sampai saya berpapasan dan tidak tahu bahwa itulah Tuhan yang telah menebus dosa saya di dunia ini.  Setiap hari saya mengenali karakter, mengenali kembali, dan mengulang kembali.

Don’t Lie, seriously

Standard

I was wondering why there are so many new cases when rapid test is massively done two weeks ago. What happened? Data is not right? Someone or something manipulating the data? Or the test?

When I saw some online post saying that some patients are not honest with their condition, then I understand. Rather than telling the medics they were travelling to Covid-infested zone, or being exposed to some people with symptoms, they completely hiding up themselves.  Medics found out later, when the test showed a positive,  then  medics or hospital panicking isolating those who were in contact with that patient. Put more health professional at isolation and risking the fact that less health professional are now can be useful in the pandemic management situation.

Why people lie?

The serpent told the woman: “You shall not die.” Genesis 3:4.  Lie to hide the bigger truth behind the smaller truth. Sure, the woman and the man didn’t die at once, but they die for sure. We, human, die.

Acts 5: 3 Then Peter said, “Ananias, how is it that Satan has so filled your heart that you have lied to the Holy Spirit and have kept for yourself some of the money you received for the land?  Lie could be to hide the big profit, or to not telling people of their luck. In Ananias’ case he lied so people will still think he is as generous as others. He doesn’t want to be less than others in the society.

When I was little, I lied to my mom many times so she won’t be angry with me.  I didn’t tell her honestly that I was playing with my friends and told her that I missed the bus home.  I didn’t tell her honestly that I was attending my friend’s birthday party, and told her I have a additional course at school.  I don’t want her to be angry knowing that I had fun.

But why people lies about their exposure for Covid-19?

Pride.

During our trouble, during our forsaken time human usually contemplating on themselves (normal people do, seriously).  They are asking themselves the very question: Did I do wrong? Or, What did I do wrong?

In a society like mine here, suffering also linked to sin.  Like all suffering happened is a punishment from heaven.  In the book of Job from chapter 4 to chapter 23, Job’s friends that sit still with him on the ground with dust on their head, accusing him to be sinned.  No matter how Job tried to defends himself, they still think his unfortunates due to his big sin.

How many of us that contemplating with that question? What-did-I-do-wrong when we had our problems? We don’t want people to know we have cancer — they will accused that is caused by our glamorous lifestyle that only ate good meaty, creamy or sweet food.  We don’t want people to know our unfortunately because it hurts our pride when people talked behind our back about our sins.

How many of us like Job’s friend (to be honest, I won’t get tired to talk about Job’s life) accuse those in trouble, in illness, when sick, or whatever trouble as a punishment from heaven? Or, perhaps, we pretends we are good people and pray for them, but at the end we kept tell them the same crazy lines — brother, so start exercising, don’t be lazy….  sister, start to eat vegetable and fruits rather than donuts. Gah.

Don’t take me wrong, I am not talking about food.  I am talking about people’s attitude makes other’s lie.  And this case, lie about their exposure to the deadly virus.  They don’t care if their lies will cost other’s lives.

Pride.

Lev 19:11 ‘Do not steal. “ ‘Do not lie. “ ‘Do not deceive one another.

When you have honest life, you don’t need too much pride.

Busy

Standard

So, this is the day 28 we stayed home in semi-quarantine mode.  We only went out for groceries once per week. We were able to manage some complimentary food (I said complimentary because it is not basic food — it is more like a comfort food) by the Go or Grab food services.  Not much choice though, because many major malls is closed, and many major outlets also downsize their business.

Some post engaging the stories of Noah to encourage those locked in their house.  Noah was inside the Ark for about a year.  For the first few days, nothing happened.  Then suddenly rain, and suddenly the Ark floating on the wave.  I’ve been to few things on the water, river and ocean.  Small boats, ship, ferries, speed boats, junk — but always the waves makes me quite sick. After a while floating and swinging, then the Ark got to the land again. But yet, they can’t go out and wait another few months (the rain is only for 40 days, by the way) — to ensure the land is safe for them again.

Imagine what happened inside the Ark.  It is all works!  Noah and his family has to feed the animals. Rather than hunting their food themselves, those animals has to surrender their food ration to Noah. I can’t really imagine how much food that Noah brought into that Ark makes they can survive for a year.  Noah and his family may started their round in the morning, feeding, and ending their round in the night cleaning up.  For a year, they are safe, sound, healthy and happy.

Well, I am not sure if they are happy. They must have arguing, must have conflict, and must be bored. How they survived that? That’s what family is.  No matter how much you arguing, conflicting and boring with each other, you stand still and support each other.  That’s what bring you to the safe land.

Imagine what happened with the animals? Do you think they don’t stink — all time round sit and eat? It must be unbearable to a point. Animals could also fighting, if the lion hungry and saw the deer, doesn’t it thinks about food? Yet, with all works and difficulties, the family safe got to the dry land.

I wonder if we can imagine we are inside the Ark. If we don’t work, don’t make ourselves busy from morning to night like Noah’s family, we won’t survive this.  Some mothers complaints about how they burdened to teach their children.  Some father complaints about they burdened to hear the wife nagging.  Some children complaints about not able to play games. What all those comparing with Noah’s burden? 

Be safe, don’t complain.

 

Paskah

Standard
For many of believers this is Easter.
Untuk seru-seruan, anak-anak mengecat telur, dan bermain egg-hunting-games, dimana telur-telur disembunyikan dan ditemukan.
Tapi Paskah bukan telur dan bukan kelinci. Itu mah lucu-lucuan.
Paskah adalah sebuah ingatan yang menyakitkan, bahwa di suatu waktu, di suatu masa, ada orang terjajah yang ingin merdeka. Kemerdekaan itu ada harganya — ada sampar, ada gelap, dan ada kematian. Hanya rumah-rumah yang ambangnya tersapu darah domba yang dilewatkan.
Paskah adalah sebuah perjalanan jauh, bukan hanya berjalan kaki berkilo-kilo meter, tetapi juga perjalanan mental, meninggalkan kebiasaan hidup yang lama dan menggantinya dengan kebiasaan yang baru. Meninggalkan kebiasaan berbelanja dan menggantinya dengan mengumpulkan makanan di atas rumput. Meninggalkan kebiasaan bekerja membanting tulang demi uang dan menggantinya dengan istirahat dan meditasi panjang.
Paskah juga adalah sebuah memori yang membebani ketika Seseorang tahu, besok pagi buta, dia akan ditangkap oleh tentara dan disiksa. Makan malam yang seharusnya adalah sebuah makan-makan sebelum pesta peringatan kebebasan menjadi pembuka sebuah takdir yang tak dapat lagi dielakkan.
Untuk Seseorang, itulah Jumat paling mengerikan dalam sejarah seorang manusia. Ketika Ia dituduh, didera, dan diolok-olok, bukan atas kesalahan yang diperbuatNya.  Jumat paling menyebalkan ketika perjalanan pendek ke Golgota menjadi panjang, melelahkan, karena tubuh yang sakit, lapar dan haus, bercampur dengan sakit hati tidak terperikan. Jumat yang tidak akan pernah dilupakan karena langit menjadi gelap, gempa menggoncang, tempat suci porak poranda.  Saat Ia mati.
Tahun ini Paskah menjadi momen perjalanan iman yang panjang.  Meninggalkan kebiasaan menuduh, mendera dan mengolok-olok lalu menggantikannya dengan kebiasaan untuk percaya (percayalah Pemerintah tidak bodoh).  Meninggalkan kebiasaan bekerja berjam-jam lalu menggantikannya dengan berdoa berjam-jam.  Meninggalkan kekuatiran dan menggantikannya dengan semeleh. Menahan diri dari berkumpul dan bersilaturahmi, menyanyi bersama dan makan bersama menjadi pujian dan doa pribadi.
Pandemi ini mungkin masih panjang.
10410811_10152352250869221_2375628951705841046_n

Are We God’s People?

Standard

Grup-grup whatsapp memang dibanjiri oleh berita. Antara update terbaru mengenai jumlah penderita yang positif, hingga berbagai cara untuk menghindari terjangkit penyakit ini.  Dari mulai empon-empon hingga jahe merah, sampai sirih dan air hangat, sinar matahari, hingga khasiat bawang merah dan makanan-makanan tertentu.

Semua orang kuatir, walaupun sedang mengasingkan diri.  Kuatir terjangkit, kuatir tertular. Saya kuatir, karena imunitas saya pun bukannya luar biasa hebat, dan usia saya menjelang 50 tahun.

Salah satu yang menjadi perhatian saya dalam grup-grup ini, bukan saja kualitas informasi dan penyaringan antara hoax atau bukan, namun kepada pribadi manusia. Kita semua mengaku umat Tuhan.  Sebagian umat Tuhan mengambil sikap pasrah, bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah amaran yang telah diberikan Tuhan mengenai tanda-tanda menjelang kedatanganNya yang kedua kali. Ya, tidak salah.  Kepasrahan dan keikhlasan tersebut adalah hal terbaik untuk menerima keadaan yang sulit dan mengikuti jalan Tuhan, dan lebih dekat ke hadiratNya.  Tapi, sikap yang sama juga menjadi “gangguan” saat terlalu banyak didengungkan — seolah-olah sangat kuat dan rohani, mengutip segala yang dapat dikutip dari ayat dan buku, tanpa memperdulikan bahwa ada orang-orang yang sedang kuatir. Bukan hanya kuatir mengenai masa depan, namun kuatir mengenai hari ini.

Kekuatiran hari ini karena sudah terdesak secara finansial.  Kekuatiran hari ini karena tidak ada lagi makanan hangat di meja.  Kekuatiran hari ini karena ada anggota keluarga yang berada di luar sana — yang terpisah jarak, bahkan waktu, ada yang masih harus bekerja, ada yang tidak punya kemewahan untuk mengasingkan diri.  Cukup peka kah terhadap kekuatiran-kekuatiran mereka?

Serahkan semua kekuatiranmu kepada Tuhan.

Ya, berbicara itu mudah. Tidak semudah itu jika kulkas-mu kosong, atau saldo atm tidak bersisa.

Kekuatiran hari ini cukuplah untuk hari ini.

Ya, berbicara kekuatiran hari ini bukan lagi pada pesatnya jumlah penderita yang dirawat di RSUP atau Wisma Atlet, tapi juga pada langkanya masker dan hand sanitizer yang mendadak menjadi salah satu kebutuhan pokok, yang mengakomodasi manusia untuk bergerak ke luar rumah entah untuk keperluan apa.

Saudara, mobil saya perlu ganti oli. Sudah kelebihan 1.000 kilometer.  Mungkin kekuatiran yang recehan dibandingkan kekuatiran seorang ibu yang terpisah dengan anaknya yang merantau sendirian di kota lain.  Badan saya pegal-pegal tapi saya tidak bisa ke salon untuk massage, kekuatiran yang juga recehan dibandingkan dengan kekuatiran seorang ibu yang baru memiliki bayi dan harus mengunjungi rumah sakit demi vaksinasi, padahal ODP dan PDP sedang berada di sana.

Jika kita mengaku umat Tuhan, bukalah hati untuk lebih peka. Percaya kepada penyertaan Bapa bukan berarti kita petantang petenteng seolah-olah lebih kuat iman, dan merasa paling benar dalam segala sesuatu. Share truth, not hoax!  Share hope, not blame!

 

Doa Abraham

Standard

Saya menuliskan ini di tengah-tengah outbreak Covid 19.  Sudah genap dua minggu saya WFH, dan masih diperpanjang satu minggu lagi.  Itupun dengan catatan: jika keadaan sudah membaik. Saya sungguh lelah dengan pemberitaan di media.  Bahkan WHO yang seharusnya menjadi sumber yang terpercaya pun tidak lagi bisa dipegang. Sebentar beliau menyarankan distancing 1 meter antara manusia, sebentar kemudian 2 meter, sebentar dia menyebutkan virus tidak hidup di udara, hanya dibawa melalui udara, namun sebentar kemudian WHO sendiri yang mengoreksi mengatakan virus itu hidup di udara. Sigh.

Dalam grup-grup whatsapp ada himbauan dan daftar-daftar doa berantai.  Grup-grup WA adalah media yang, satu sisi memberikan pemberitaan dan update mengenai apa yang terjadi di dunia luar sana.  Namun, di sisi lain, dia juga menjadi pemberita hoax dan berita-berita yang tidak terkonfirmasi.

Nanti saya akan bahas secara terpisah mengenai grup-grup whatsapp ini.

Mari bicara mengenai doa.

Ada pokok-pokok doa dalam doa berantai. Yang paling utama, adalah mendoakan keselamatan pribadi dan keluarga, keselamatan bangsa dan negara, dan kepulihan dunia.  Termasuk di dalamnya ada doa untuk para pemimpin agar bijak mengambil keputusan dan para tenaga medis untuk selalu diberkati dengan kesehatan dan ketabahan.

Abraham berdoa : Jauhlah kiranya yang demikian dari padaMu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?

Lalu Tuhan berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat  itu karena mereka.”

Abraham berdoa lagi: Seandainya kurang lima orang dari kelimapuluh orang benar itu?

Lalu Tuhan berfirman: “Aku tidak memusnahkannya jika Kudapati empat puluh lima orang disana”

Abraham berdoa lagi: Sekiranya empat puluh?

Kata Tuhan: “Aku tidak akan demikian karena yang empat puluh itu.”

Abraham berdoa lagi: Janganlah kiranya Tuhan murka, sekiranya tiga puluh kaudapati?

FirmanNya: Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.

Abraham berdoa lagi: Sesungguhnya aku terlalu berani, sekiranya ada dua puluh?

FirmanNya: Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.

Abraham masih mencoba: Sekiranya sepuluh didapati disana?

Tuhan berkata: Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.

Sepuluh.

50. 45. 40.30.20.10. Enam kali seakan-akan ada tawar menawar dan negosiasi di antara Abraham dan Tuhan. Dan Tuhan berkeras, sekiranya ada sepuluh saja, maka Tuhan tidak akan menghukum Sodom dan Gomora, walaupun hatinya sangat terluka melihat dosa-dosa mereka.

Kontemplasi yang sama saya ingin lakukan saat saya berdoa.  Terlalu gila-kah saya jika menawar 10 orang saja kepada Tuhan? Jika ada 10 orang benar di Indonesia ini, maka Tuhan tidak akan menghukumnya terlalu keras? May I? Can I? Yang saya kuatirkan adalah jawaban Tuhan yang serupa dengan jawaban yang diberikannya kepada Abraham.  Jika ada sepuluh orang benar kudapati, maka Aku tidak akan mengijinkan wabah ini datang kepada mereka.

Dear Father, with all my humble heart that filled with sins, let me repent and let me bow.  If there is only 10 people, let me be one of them.

Saat Berdoa

Standard

Sebuah group wag dipenuhi oleh daftar nama yang perlu didoakan. Dan semakin hari daftar nama ini tidak semakin berkurang namun semakin bertambah, sehingga lama-lama bukan hanya membingungkan dan melelahkan, namun juga kehilangan fokus nya. Untuk saya, disinilah letak masalahnya.

Apakah benar bahwa prayer until something happen itu berlaku? PUSH? Ya, saya percaya.

Apakah karena itu kita terus-menerus mendoakan hal yang sama-sama terus? Perhaps.

Pernahkah saya mendoakan hal yang sama terus-menerus? Pernah. Saya berdoa tiga sampai empat kali sehari di dalam hati, sering kali jadi seperti sebuah ritual, atau kebiasaan daripada sebuah doa, memohon perlindungan dan tuntunan dari Tuhan.  Dua sampai tiga kali sehari sebelum makan. Satu kali sehari sebelum tidur. Dan harus saya akui, menjadi sebuah kebiasaan.

Kata-kata yang sama diulang-ulang seperti litani: “Tuhan berkati makanan ini, amin” Jangankan sempat meresapi, jangankan sempat memahami.  Beberapa mungkin doanya lebih panjang sedikit “Tuhan terimakasih untuk makanan ini berkati menjadi kesehatan bagi tubuh kami pelihara orang berkekurangan, para yatim piatu dan janda, amin” But, let me ask you this very question, pada saat mengatakannya, are you really concern about those orphans and widows? Apakah ada porsi dari makanan yang sedang kita akan nikmati kita berikan kepada para yatim dan janda? I don’t think so. Jangan ketawain saya, memang suasana dan lingkungan tidak mengijinkan kita untuk selalu menyisihkan makanan untuk orang berkekurangan. Walaupun selalu ada yang berkekurangan di sekeliling kita, tapi kita tidak selalu bersama-sama dengan mereka.  Dengan demikian, saat menyatakan di dalam doa “pelihara para yatim piatu dan janda” kita lebih kepada mengatakan sebuah kalimat yang diulang-ulangi, namun maknanya tidak selalu kita pahami.

Selama hidup kita, berapa banyak kita berdoa untuk makanan? Berdoa untuk perlindungan? Semua itu diulang-ulang. Kata-kata yang sama. “Tuhan, berkati kami.” Tapi kita tidak pernah kehilangan fokus, karena doa itu sendiri lama-kelamaan menjadi sebuah dinding rohani, yang melindungi jiwa dan mental kita dari ketidakseimbangan dunia ini.

Pernahkah saya berdoa secara khusus untuk meminta sesuatu? Pernah. Dimasa muda saya pernah begitu khusyuk berdoa dan bahkan berpuasa memohon agar saya bisa lolos seleksi atau lolos ujian. Saya berdoa dan berpuasa memohon agar saya mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan teman hidup.  Apakah saya lulus seleksi? Tidak. Apakah saya lolos ujian? Tidak. Setelah itu apakah saya berhenti mendoakan keinginan itu? IYA. Sedapat mungkin saya mencoba memahami maksud Tuhan dalam hidup saya.  Jika memang saya harus gagal, saya memahami nya sebagai hal yang terbaik. Bukan melulu karena saya bodoh, atau kurang usaha, namun juga lebih kepada takluk nya saya kepada Tuhan. Apakah saya mendapatkan pekerjaan? Ya.  Apakah saya mendapatkan teman hidup? Ya. Tapi, prosesnya tidak instan. Tidak sekali berdoa langsung terjadi.  Jatuh bangun dan pergumulan menjadi bagian dari proses dikabulkannya doa tersebut. Setelah saya mendapatkan pekerjaan apakah saya berhenti mendoakannya? IYA.  Setelah mendapatkan teman hidup, apakah saya berhenti meminta? IYA. Ada batas-batas dimana doa, baik dikabulkan maupun tidak dikabulkan berhenti kita doakan.

Batas-batas itu membuat kita bukan berdoa sekedar untuk meminta, namun berdoa untuk mencari kehendak Tuhan.  Dan disinilah saya merasa agak terganggu dengan daftar doa yang panjang tersebut.  Dalam daftar doa tersebut ada mendoakan orang yang sakit. Well, penyakit memang selalu tidak diharapkan, dan menjadi bagian hidup sehari-hari. Let’s pray for health!

Ada doa untuk pembangunan gereja, pengumpulan dana dan pertentangan masyarakat sekitar. Sel-sel yang hidup memang harus dibangun, tapi pengumpulan dana tidak melulu lewat doa.  Tuhan akan mengirimkan mujizat di saat yang tepat, namun jelas bukan disaat kita berdoa minta dana untuk membangun gereja, namun kita juga di saat yang sama tidak rela menyisihkan penghasilan kita, dan membangun pundi-pundi asset pribadi kita. Jadi let’s ora et labora, berdoa dan bekerja!

Ada doa permintaan untuk jodoh yang sudah didoakan lebih dari sepuluh tahun.  Apakah kita sedang tidak percaya kepada kehendak Tuhan? Bukankah kita yang selalu mengatakan Indah Pada Waktunya atau menyebutkan Waktu Tuhan Yang Terbaik? Saya belajar untuk berhenti ngotot mendoakan sesuatu disaat saya pasrah, atau nrimo atau semeleh. Di dalam semeleh ada kedamaian yang lebih luar biasa, menyadari bahwa Tuhan bekerja dalam kesesakan dan penderitaan kita. Di dalam pasrah dan penerimaan ada kesedihan yang tidak dapat dihibur oleh kata-kata, namun oleh kehadiran Tuhan sendiri. Tidak semua di dunia ini berjalan menurut keinginan kita. We pray until something happen, dan di banyak hal, something itu adalah kerelaan kita untuk menerima.

Dan satu lagi yang buat saya kurang cocok — orang-orang langsung mengetikkan doanya di pesan wag tersebut, bukannya benar-benar berbicara dalam persekutuan dengan penciptaNya, namun memasang kata-kata. Jadi benar yang disindir orang: Kepada fesbuk aku berdoa. Ya begitu.

 

Bildad

Standard

Bildad, orang Suah, punya pendekatan yang lebih fanatik. Walaupun ia tidak berani terang-terangan seperti Elifaz yang menyuruh Ayub untuk mengakui dosa-dosanya agar kehidupannya dipulihkan, Bildad jelas-jelas berdiri di sebelah kanan Elifaz. Bildad berargumentasi bahwa jika kita ((kita)) adalah orang-orang yang baik maka tidak ada kesusahan yang akan menimpa kita.

Bildad percaya penuh bahwa Tuhan itu adil.  Benar. Bildad juga percaya penuh bahwa orang yang benar pasti akan dibela oleh Allah. Benar juga. Bildad menyatakan karena Allah adil maka Ia tidak akan mendatangkan kesusahan kepada orang benar.  Tidak salah juga.

Tapi, ini adalah sebuah twisted plot. Benar bahwa Allah tidak mendatangkan kesusahan — namun Allah mengijinkan kesusahan itu datang, baik kepada orang benar, maupun kepada orang yang tidak benar. Sama seperti udara dan sinar matahari yang mengalir dan bersinar untuk siapa saja.  Sungai dan laut yang tetap indah, siapapun orangnya.  Kasih Allah juga sama untuk siapapun saja.

Bildad belum tahu, mungkin karena hidupnya baik-baik selalu, dan mungkin karena ia sangat berprinsip nrimo, semeleh dan tawakal, bahwa dia pun bisa-bisa kena musibah yang serupa dengan Ayub.  Tak perlu alasan, tak perlu perhitungan dosa, tak perlu menimbang segala kesalehan dan kebaikan. Begitu saja terjadi hufffff dan segala nya tersapu. Mungkin Bildad merasa segala berkat yang diterimanya adalah karena kebaikannya. Mungkin Bildad merasa semua kekayaan nya adalah kerja keras nya.

Tanggal 21 Sep selalu menyisakan cerita mengenai bagaimana keterkejutan dunia ini, akibat dua gedung penuh dengan orang, berisi para karyawan dan pekerja di jam kerja produktif, mendadak runtuh karena ditabrak oleh pesawat.  Apakah orang-orang di dalam gedung itu semuanya orang TIDAK BENAR? Apakah para penumpang pesawat yang dibajak dan dijadikan bom raksasa itu semuanya orang TIDAK BENAR? Saya akan menggeleng kepala kalau saja ada yang berpendapat demikian.  Diantara ribuan korban tersebut — ada orang-orang yang sangat setia dengan Tuhan, yang memanggil dan memuji Allah siang dan malam,

Cara memilah orang benar dan orang tidak benar, tidak sesederhana seperti cara pandang Bildad.

 

Teman

Standard

Suatu hari seseorang berkata begini kepada saya: “Saya mau tag kamu di facebook tapi ga ketemu-ketemu, pake nama apa sih?” Di dalam hati saya: “Kita ga berteman di facebook”, tapi akhirnya saya bilang, “Gw pernah bersih-bersih, mungkin ke remove, coba di add ulang, biar gw approve”. Dan dengan demikian kami berteman di facebook, dan Sang Teman ini bisa men-tag saya pada foto-foto dimana kami bersama-sama.

Tidak lama berselang, hanya sekitar beberapa bulan, bahkan belum setahun dari kejadian itu, Sang Teman “menusuk” punggung saya dengan menyodorkan dokumen pemaksaan pengunduran diri dari pekerjaan saya.  Walaupun dia menyebut dirinya: saya kan teman mu, tapi dia tidak memberi sedikit pun ruang untuk berdialog menyelesaikan sebuah persoalan kecil yang sesungguhnya bisa diselesaikan tanpa harus resign dari pekerjaan.  Walaupun dia berpenampilan: gw mau menjadi facebook friend-mu, tapi dalam kenyataan dia bahkan tidak mau memberi ruang untuk pembelaan dan hanya mengajukan satu jalan keluar.  Jelas saya berpikir: Teman macam apa itu?  Tanpa ragu saya remove dia dari facebook friend list.  Lalu Sang Teman mengadu: Saya di remove dari facebook – nya!

Elifaz kebetulan berasal dari suku Teman — sebuah permainan kata yang mengena dalam Bahasa Indonesia. Elifaz sesungguhnya adalah seorang teman yang baik.  Tidak semua orang mau duduk berdiam selama tujuh hari dan tujuh malam bersama sahabatnya yang menderita. Lebih enak tidur beralaskan kasur dan berselimut daripada duduk bengong bersemedi.  Entah mengapa para pembaca buku Ayub sering salah mengerti bahwa Elifaz (dan teman-teman Ayub yang lain) menganggap mereka adalah teman-teman yang tidak baik.  Elifaz berusaha menasehati Ayub — akuilah kesalahanmu agar mendapatkan pengampunan Tuhan! Apa yang salah dengan nasehatnya ini?

Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapatkan pertolongan yang kuat (Ayub 5:11). Elifaz sangat percaya dan memuja Tuhan sebagai Allah yang maha adil dan maha menolong.  Apa yang salah dengan nasehatnya ini?

Elifaz hanya salah kaprah. Elifaz menganggap musibah sebagai akibat dosa, dan pertobatan akan menghapuskan musibah tersebut. Elifaz hanya naif. Jika Elifaz hidup di jaman ini, dia tidak akan mengatakan hal tersebut setelah melihat dan mempelajari bahwa orang-orang baik pun hidup menderita, dan orang-orang yang berserah kepada Tuhan juga terkena kanker ganas!

Elifaz still a good friend. He just doesn’t know what he doesn’t know.

A Judging Elifaz

Standard

Setelah tujuh hari dan tujuh malam berlalu. Elifas mulai berbicara. Meyakini bahwa inti dan maksud dari pembicaraannya adalah untuk menghibur Ayub, Untuk meredakan kesedihan dan kegetiran Ayub maka ia berbicara panjang lebar.

Pertama, ia memuji Ayub.  Di masa lalu sahabatnya adalah orang yang selalu mau menopang dan membantu orang-orang yang lemah dan berkekurangan. Bukan hanya bicara soal uang, namun lebih kepada kekuatan moril.  Tidak semua orang di dunia ini punya talenta untuk menasehati dan menopang orang lain. Ambil contoh manusia jaman sekarang — manusia yang “nasehatnya didengar” adalah yang tentunya mapan secara finansial, memiliki keluarga yang tidak bermasalah, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kemanusiaan.

Kedua, ia menyebut bahwa saat musibah datang kepada Ayub, Ayub marah.  Saya tertegun untuk sebuah penafsiran yang agak dangkal ini.  Tidak wajarkah Ayub marah? Dan mengapa Elifaz mengira bahwa Ayub marah karena mendapatkan musibah?

Ketiga, untungnya Elifaz mengingatkan Ayub mengenai hidupnya yang setia di hadapan Tuhan sebelum musibah tersebut terjadi.  Elifaz berkata (Ayub 4:6): Bukankah takutmu akan Allah menjadi sandaranmu dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu.

Saya ingin agak sedikit berargumentasi dengan Elifaz segera setelah ia menyebutkan ayat ini.  Saya percaya kesalehan hidup kita tidak menjadi sebuah pengharapan yang akan sebuah kehidupan yang aman tenteram damai sentosa.  Saya menyadari, seringkali dengan sedikit sakit hati, bahwa kasih Tuhan sama rata ((sama rata))  kepada semua orang.  Apakah orang itu baik atau jahat.  Apakah orang itu takut akan Tuhan atau tidak memperdulikan Tuhan, atau apakah kehidupannya saleh atau tidak saleh.

Elifaz melanjutkan pidatonya, yang ia maksudkan untuk menghibur dengan dua pernyataan : (yang jika ditujukan kepada saya akan membuat saya lebih marah.  Jadi, ijinkan saya duduk di sebelah Ayub.)

Menurut Elifaz, orang jahat akan hidup sengsara dan orang baik akan hidup damai. Menurut Elifaz, Ayub harus mengakui kejahatannya yang dia sembunyikan agar hukumannya diampuni.

Saya salah seorang yang sangat tidak setuju dengan teori kemakmuran — sebuah teori yang menyebutkan orang yang tidak kaya, adalah contoh, adalah bukti, daripada orang-orang yang kurang percaya kepada Tuhan! Orang miskin adalah orang-orang yang tidak diberkati Tuhan!

Excuse me? So what happened dengan: berbahagialah kamu yang miskin di hadapan Allah, karena kamu akan memiliki kerajaan surga?  Mungkin ayat ini boleh ditafsirkan dengan “miskin” firman Tuhan, tapi saya meyakini saat Yesus menyebutkan ucapan bahagia ini Ia sedang memandang ribuan umat yang berkekurangan, yang miskin secara finansial, dan Ia sedang menjangkau mereka.  Di surga, miskin dan kaya bukan masalah uang man…

Di dunia ini orang yang tidak memperdulikan Tuhan bisa hidup baik-baik saja. Orang yang rajin mencari Tuhan malah sakit-sakitan dan dihina orang.  Di dunia ini kekayaan adalah sesuatu yang menipu — orang boleh memiliki banyak harta tapi sulit tidur di malam hari dan tidak bisa menikmati segala jenis makanan.  Sedangkan orang yang miskin, tidur di bedeng bobrok dengan nyenyak, dan berbagi sepiring nasi bersama keluarganya dengan lahap.  Siapapun manusia, begitu tercebur di kefanaan dunia ini, sebagaimana pun baiknya, tidak mudah terhindar dari derita. Kekayaan mungkin bisa memperpanjang umur — ambil contoh ratu Inggris yang selalu makan quality food, punya pelatih dan dokter pribadi.  Tapi, saya boleh bersaksi, dalam hidup ini saya tidak rakus makan daging, saya mengutamakan sayuran dan buah untuk asupan serat, saya berolahraga dengan teratur namun, voila, saya tetap jatuh sakit!

Elifaz adalah seorang sahabat yang baik, but unfortunately mister, you need to learn more from this life. I wish I can offer you a time machine to this year and show you the world.

Saya juga tidak setuju jika kesengsaraan adalah cara Tuhan untuk menghukum manusia.  Lalu apa kabar dengan para koruptor di Negara ini? Mereka mungkin tertangkap KPK. Tapi, lebih sering, mereka lolos-lolos saja. Apa hukuman Tuhan? Kebakaran? Kena kanker? Engga juga tuh. Mereka hidup bahagia gemah ripah loh jinawi. Kesengsaraan bukan cara Tuhan untuk menghukum dosa.

Saat kita menghibur teman kita, let’s put ourselves in a non-judging situation.