Monthly Archives: October 2009

Hari Anak

Standard

sabatanak

Persiapan? Seminggu. ūüėĬ†

Dimulai dengan song service yang dipimpin ibu Mei, anak-anak berbaris ke depan dan mulai menjalankan acara kebaktian Sekolah Sabat.  Fifin sebagai pemimpin acara dengan lancar mengarahkan teman-temannya yang bertugas untuk doa pembukaan dan berita mission (Ryan).  Sebelum berpisah kelas, anak-anak menyanyikan sebuah lagu, Give me Oil in My Lamp  dan sesudah pelajaran sekolah sabat yang berpisah kelas, anak-anak langsung bersiap di hadapan jemaat untuk membawakan lagu istimewa berupa Medley, I Am Giving, Clap Your Hands dan All Nights All Days. Patricia melanjutkan dengan dorongan PP.  Topiknya tentang nama yang telah diberikan orangtua kita kepada kita dan bukan hanya bermakna untuk panggilan tetapi sesuatu yang harus dijaga karena Allah juga mengenal kita dari nama dan tabia kita. Doa Penutup dibawakan oleh Justin.

Kalau biasanya cuma tiga orang maju ke mimbar, kali ini enam orang maju. Yang khotbah aja tiga orang kan? Ibu Mei mengambil peran sebagai pemimpin acara yang berdoa pembukaan dan memimpin ayat bersahutan. Lagu yang dinyanyikan sabat ini khusus juga lagu anak-anak. Bacaan persembahan dibacakan oleh Patricia dan doa persembahan dipimpin oleh Guruh.

Cerita anak-anak lumayan seru. Mungkin Arvy gugup kali ya, waktu latihan, gayanya oke banget, tanpa liat text dan mengacungkan tinggi-tinggi betadine dan hansaplas sembari bertanya pada teman-temannya.¬† Tapi begitu waktu cerita anak-anak dimulai, Arvy mulai membuka lipatan kertas dan membaca….aaawww.¬† Hehe…lain kali Arvy bawa gambar yang belakangnya ditulisin aja kalee ya? ūüôā

Khotbah yang pertama dibawakan oleh Sharon, berjudul Biarlah Terangmu Bersinar. Sharon menggunakan alat peraga berupa lilin yang walaupun ditiup berkali kali akan menyala. Artinya, walaupun setan berusaha mematikan terang kita, dengan adanya Yesus di hati kita, terang kita akan terus menyala dan menyala lagi.

Khotbah yang kedua dibawakan oleh Jeremi, berjudul makanan di atas tanah. Jeremi membawa Oreo dan sebotol madu yang ditawarkan kepada jemaat: “Siapa suka Oreo?” Intinya, tidak seperti orang-orang Israel di padang gurun jaman dahulu yang bersungut-sungut walaupun Allah telah menyediakan mereka makanan persis di luar tenda mereka, kita harus bersyukur atas semua pemeliharaan Allah kepada kita. Khotbah ketiga dibawakan oleh Steven, berjudul Peta Untuk Kehidupan. Jika kita memerlukan peta untuk mencari jalan ke surga, ambillah Alkitab. Allah telah menyediakan penuntun yang lengkap.

Kesimpulan ditutup dengan cerita dari buku Treasures of the Snow, tentang anak-anak di Swiss yang berubah karena pelajaran dari Alkitab. Anak yang jahat dan licik menjadi seseorang yang berani mengorbankan nyawanya melalui badai salju untuk mencari seorang dokter untuk teman yang pernah disakitinya. Demikianlah pengaruh besar firman Tuhan dalam kehidupan seseorang.

Sesudah doa penutup, setiap anak berkumpul untuk didoakan dan foto bersama, lalu mendapatkan bingkisan berupa makanan kecil. Asik. Kapan lagi ada hari anak?

Advertisements

Cerita Yang Nyata

Standard

Ada satu hal dari masa kecil saya yang membuat saya merasa ‘dicekoki’ dengan sebuah pengajaran yang salah. Beberapa dan terbilang sering, dongeng dan kisah tentang tiga orang bersaudara atau tiga orang anak, menempatkan anak bungsu sebagai anak yang paling bijaksana. Coba ingat-ingat….benarkah demikian?¬† Jika seorang raja memiliki tiga orang anak, maka ia akan memilih si bungsu sebagai penggantinya karena hanya si bungsu yang berhasil memecahkan teka-teki yang ia buat.¬† Jika tiga bersaudara dapat warisan, maka si sulung dan anak tengah akan menguasai harta benda hingga karma berpindah dan si bungsu hidup bahagia selama-lamanya.¬†

Padahal dalam dunia nyata, hal yang sebaliknya lah yang lebih sering terjadi. Karena itulah saya sangat setuju penokohan Yesus dalam perumpamaan Anak Yang Hilang!  Bukan sekedar memuji-muji kehebatan Yesus yang hanya seorang tukang kayu tidak pernah kuliah psikologi, tapi bukankah ternyata hanya Dia yang bisa mengarang sebuah cerita yang sungguh nyata? Tidak salah saya mengikuti jejakNya.

Baiklah. Tulisan ini masih lanjut. Dalam kisah-kisah sebelum tidur yang lain, seringkali diposisikan seseorang yang baikkkkkk banget dan seorang yang jahaaaaaat bangets. Nah. Ambil contoh Bawang Merah dan Bawah Putih ~~yang karakternya diadopsi oleh sinetron Indonesia~~.  Bawang Merah digambarkan begitu jahatnya hingga tidak ada sisi baik sedikitpun, dan Bawang Putih digambarkan begitu baik dan sempurna.  Contoh lain lagi, Cinderella yang terkenal itu. Merana diperlakukan sebagai budak tapi selalu tampil lembut dan sopan tanpa perlawanan sedikitpun.  Apakah mungkin seorang manusia yang normal bertingkah seperti itu?  Saya percaya tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup terus-menerus baik tanpa cela sedikitpun.  ~~sekali waktu saya pernah nonton Drew Barrymore bermain sebagai karakter Cinderella. Menurut saya baru itulah penokohannya masuk akal, karena Cinderella yang pekerjaannya menggosok lantai dapur bisa iseng mengerjai ibu tirinya~~

Penokohan-penokohan seperti itu membuat anak-anak dan manusia umumnya berpikir hitam dan putih. Bahwa manusia yang baik akan baik terus dan manusia yang jahat akan jahat terus. Mengapa seorang ibu dalam cerita anak-anak tentang Ayub bercerita begini: “Anak-anak jangan seperti isteri Ayub ya? Walaupun sengsara jangan pernah berpikir untuk mengutuki Allah.”¬† ~~saya juga pernah diceritai demikian bertahun-tahun yang lalu~~¬†¬†Padahal, jika saja kita berdiri di tempat isteri Ayub mungkin juga kita akan mengatakan hal yang sama kepada pasangan kita. Ayub duduk di atas debu meratapi nasibnya saja. Bicara soal kehilangan, bukankah kehilangan yang ia rasakan sama banyaknya dengan yang dirasakan isterinya. Bahkan lebih, karena isterinya yang merasakan sakitnya melahirkan sepuluh orang anak dan yang berletih merawat mereka selama itu? ~~beberapa tahun yang lalu pelajaran sekolah sabat dewasa¬†memperbaiki posisi isteri Ayub yang selama puluhan tahun menempati posisi sebagai si jahat ini~~

Karakter lain yang¬† juga sering diceritain kepada anak-anak sebagai tokoh yang kurang baik adalah Martha.¬† Saat Yesus dan murid-murid berkunjung ke rumah mereka, Martha sibuk di dapur menyiapkan santapan.¬† Ia mengharapkan bantuan dari Maria, yang selama itu duduk dekat dengan Yesus mendengarkan beliau berbicara.¬† Karena Martha tahu tidak akan yang lebih berkuasa daripada Yesus untuk menegur Maria maka ia meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya.¬† Lalu pencerita untuk anak-anak akan bertanya: “Siapa yang mau seperti Maria ? Siapa yang mau seperti Martha?”¬† Aha! Sekali lagi satu menjadi tokoh jahat dan satu lagi menjadi tokoh baik.

Saya menyakini Martha juga ingin untuk duduk-duduk mendengarkan cerita Yesus. Tentunya hal itu lebih menarik daripada berkeringat di dapur. Tapi Martha memikirkan kepentingan semua orang.  Ia tahu jika santapan terlambat disajikan, maka orang akan merasa lapar, dan pekerjaan penting Yesus yang berikutnya boleh jadi akan terhambat.  Yesus menegur karena seharusnya Martha bersukacita dengan bebannya, bukan karena Martha melakukan sebuah kejahatan.

Menutup tulisan ini, mudah-mudahan dimasa yang akan datang, setiap orang dewasa yang bercerita untuk anak-anak lebih waspada. Memaknai sebuah cerita bukan demi hitam dan putih atau baik dan buruk saja, tetapi menggali lebih dalam. Mengisahkan sebuah cerita yang nyata, seperti teladan yang telah diberikan Yesus sendiri.