Monthly Archives: July 2008

Protected: Serve God and Serve Others

Standard

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Protected: DL DL

Standard

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Adventurer di Dusun Kunjani

Standard

Minggu yang lalu kita kebaktian di alam.  Dusun Kunjani, daerah Rawakalong, Gunung Sindur dan sekitarnya ~aih!~  Sekalian sabat rumahtangga sekalian penamatan kelas kemajuan.  Dusun Kunjani kita sewa ~termasuk satu aula, tapi ga termasuk sound system~~ seharga 1,2jt untuk seharian.  Menurut gw mahal! ~~atau emhael menurut istilah temen gw Annah~~  Perhitungannya adalah satu orang bayar masuk 25rb rupiah.  Kenapa semahal itu ya, padahal ga termasuk makan? Engga jelas gw juga. Tapi dengan harga segitu, seharian, seluruh wilayah Dusun Kunjani menjadi milik kita.

Kebaktian pagi reguler kita duduk di dalam aula yang berkarpet.  Semua jendela dibuka dan van di langit-langit kayu berputar full. Jadi adem. Walopun ternyata banyak juga anggota yang engga ikut, acaranya tetep seru dan meriah.  Waktu sekolah sabat, anak-anak turun dan menyebar di rumput-rumput bikin acara di kelas masing-masing.  Belum-belum mereka udah heboh berlarian kesana-kemari.

Acara makan siang di depan danau buatan yang butek banget aernya.  Sebenernya berasa seperti makan di depan comberan di tanah abang…haha…Mungkin karena suasananya relax, orang jadi merasa cukup laper. Cuma sepuluh menit setelah makanan dihidangkan antrian langsung abis dan meja kosong.  Makanan cukup banyak walaupun banyak juga yang ga jadi dateng dan bawa potluck.

Acara sesudah makan siang adalah track and trail untuk anak-anak kelas kemajuan dan diskusi seputar topik rumahtangga untuk kaum dewasa.  Salah satu game yang menurut gw cukup mengesankan adalah, waktu audience dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok harus bikin sebuah rok dari enam potong karton yang dibagiin.  Hasilnya bener-bener menunjukkan taste dan kreatifitas anggota kelompok.  Walopun yang dimenangin oleh juri satu-satunya Tante Relly adalah kelompok yang bikin rok dengan belahan samping dan digambarin bunga dengan spidol ~~catetan: ampir semua kelompok menggambari kartonnya dengan gambar bunga~~ gw lebih suka dengan rok yang dipake sama Elira.  Anggota kelompoknya memang orang-orang kreatif yang berpikir out of the box. 

Satu catatan gw di acara ini.  Mengapa ya selama acara berlangsung, ada kelompok yang memilih untuk ngobrol-ngobrol aja di tempat lain. 

Acara berikutnya, yang harusnya dimulai jam 3 tapi molor jadi jam 4 adalah Penamatan Kelas Kemajuan.  Gw seneng karena walaupun tanpa konsep yang jelas, acara ini berlangsung unik dan menarik.  Setiap anak diberi kesempatan untuk membuat suatu presentasi atau demonstrasi sesuai dengan kelas-kelas yang mereka udah ambil. 

Sedikit komentar disini.  Ada seorang anak yang sejak tiga minggu yang lalu trouble buat gw.  Waktu gw cek persiapannya, dia bilang belum…dengan alasan: belum aja.  Akhirnya, Surti duduk dengan dia mencarikan bahan-bahan untuk presentasinya.  Minggu lalu, waktu rehearsal, dia bilang belum.  Lebih parahnya lagi dia nanya balik, tugas saya apa?  Notification tentang tugasnya udah berjalan satu setengah bulan yang lalu.  Anak-anak lain walaupun belum mateng banget, tapi paling engga draft-draftnya aja udah keliatan.  Tinggal dipoles. Sementara dia mentahnya aja belon keliatan. Maka gw  memberikan kesempatan kepada temen-temennya untuk memutuskan apa yang harus dilakukan untuk dia.  Temen-temennya memutuskan bahwa dia tetep harus membuat presentasinya dan kalo gagal harus siap untuk ga naik kelas.

Waktu gw panggil ke depan dan gw suruh presentasi, dia lalu berujar: “kata bapak saya engga usah bikin!”  Temen-temennya lalu ber “uuuuu….aaaaa…uuuuu” dengan kecewa. 

Ada hadiah yang sudah disiapkan untuk untuk 6 orang anak yang mendapatkan Honour, karena kerajinan dan ketepatan mereka.  Sebenernya gw berharap lebih banyak anak yang dapet, terutama anak-anak yang selama ini kurang aktif.

Angklung di Perona 2008

Standard

Perona (Pesta Rohani Anak) Se-DKI Jakarta dan sekitarnya, tahun yang lalu, pengalaman anak-anak cukup pahit.  Begitu sampai di Cibubur, lokasi acara, jam sembilan pagi, dan mengecek buku acara, udah langsung down-down-down-to-bouncy-town, karena dapet giliran ke -99!

Sepagian acara di dalem gedung juga lumayan membosankan.  Ada drum-band, yang sebenernya ga perlu-perlu amat, secara yang hadir kebanyakan anak-anak, tentu ga tertarik melihat om om, ada kotbah yang panjangnya lebih dari kereta api, drama yang waktunya kelamaan padahal ga asik, pengkhotbah cilik yang adalah anak sponsor padahal materinya biasa ajeh dan puluhan hal-hal ga worthed to see lainnya. Tahun lalu, gw pussssinng banget.  Tereak kanan, tereak kiri, bolak-balik muterin seluruh area nyari-nyari anak-anak yang berlari-larian dan ngilang.  Suara abis, hati bete, badan cape.  Maka, waktu bulan Mei lalu keluar pengumuman Perona, kita ga terlalu tertarik.

Tapi Direktur Departemen Anak-anak secara kebetulan melayani di jemaat kita dan dengan persuasif berhasil membuat kita ikut.  Beliau berhasil meyakinkan Koordinator Pelayanan Anak-anak, bahwa kekacauan tahun lalu ga akan terjadi.  Bagusnya, memang tidak terjadi!

Begitu dateng, aku disodorin buku acara yang memuat giliran kita jam 09:57. Sounds very good!  Kenyataannya agak molor sedikit, baru jam 10:30 kita tampil.  Tapi ga kecewa, karena memang masih dalam format acara.  Karena kita main angklung, kesannya agak istimewa dari jemaat-jemaat lain yang kebanyakan menyanyi koor.  Yang perlu digarisbawahi cuma: ternyata jemaat-jemaat lain well-prepared semua, walaupun nyanyiannya ga istimewa, semua anak memakai baju batik yang seragam.  Keren banget!

Gw juga harus memuji ternyata jam 3 sore acara udah kelar! Gitu dong…anak-anak ga terlalu cape, dan cukup waktu untuk have fun tanpa banyak komplikasi omelan.  Cukup makanan, cukup main, cukup hadiah….