Monthly Archives: February 2009

Bersaksi

Standard

Saya harus akui bahwa saya seringkali menghindari waktu-waktu kesaksian dalam perbaktian.  Saya hampir tidak pernah memberikan kesaksian.  Pada tahun baru 2005, saat waktu kesaksian, saya membacakan sebuah puisi.  Hanya itu selama hampir 40 tahun usia saya.

Ada alasan-alasan mengapa saya ‘takut’. Pertama, sedari kecil saya mendengar orang yang menggunakan mimbar kesaksian sebagai ajang pamer diri.  Contoh: “Saya bersyukur bahwa Tuhan sudah memberkati saya bulan ini sehingga saya dapat membeli sebuah Mercy terbaru.”  Orang itu memang kaya dan berganti-ganti mobil setiap beberapa bulan. Bagaimanakah perasaan orang lain yang bahkan tidak mampu untuk membeli sebuah motor merasa tergugah, selain daripada merasa sebal? Orang dengan mudah membedakan apakah dia sedang bersaksi atau sedang menyombongkan diri.  Akan berbeda jika seorang yang sederhana dan selama ini datang ke gereja dengan angkot bersaksi: “Puji Tuhan, setelah sekian lama saya berhasil membeli sebuah mobil Daihatsu.”

Kedua, ada orang-orang yang menggunakan mimbar kesaksian sebagai ajang curcol atau curhat colongan. Kalau curcol nya hanya tentang dirinya sendiri mendingan, ada yang curcol nya tentang anggota jemaat lain: “Saya tersinggung dengan sikap seorang ibu di jemaat ini yang meminjam uang kepada saya tapi tidak dikembalikan.” What? Ini jelas bukan kesaksian yang menguatkan, tapi pekabaran tentang kelemahan orang lain. Seringkali ajang kesaksian menjadi curcol orang-orang yang tersinggung, marah, tidak senang dengan orang lain.

Ketiga, saya pernah bersaksi pada saat berusia 12 tahun, bahwa saya ingin didoakan agar bisa lulus ujian saringan masuk SMP negeri.  Setibanya di mobil ayah saya menegur: “Jangan bilang-bilang orang kamu mau masuk SMP negeri, nanti mereka marah.” Kenapa? karena sebagai anggota majelis jemaat, seharusnya ayah saya secara moral menyekolahkan anak-anaknya di sekolah gereja.  Dalam usia 12 tahun mana saya tahu urusan politik seperti itu, saya hanya berbicara apa adanya.  Tapi saya malu ditegur begitu, dan saya jadi ‘trauma’ untuk memberikan kesaksian pada lain kalinya.

Kesaksian adalah saat pengalaman kita memberikan kekuatan rohani kepada orang yang mendengarkan, bukan sebaliknya. Kesaksian adalah saat kehidupan kita menjadi suatu kegembiraan kepada orang lain, bukan sebaliknya. Kesaksian adalah pada saat roh kudus yang memimpin bukan pemikiran kita sendiri.

Advertisements

Protected: Share and Give

Standard

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Kesan

Standard

Saya mencoba mengenang beberapa gereja yang pernah saya kunjungi dan membuat ranking berdasarkan keramahtamahan mereka kepada saya.

Tahun 2002-2006 saya sering banget ke Lombok untuk urusan kerjaan. Di Lombok hanya ada satu gereja Advent, di Ampenan. Ampenan dan Mataram sebenernya hanyalah dua buah tempat yang cuma dipisahkan oleh sebuah kali yang ga begitu besar. Seperti Krawang dan Bekasi.

Gereja di Mataram menurut saya okey banget dari sisi keramahtamahan. Ada yang mengajak saya ngobrol bukan sekedar menyalami selamat sabat, ada yang ngajak makan potluck habis kebaktian dan bukan sekedar basa-basi. Jadi saya betah, tinggal sampe siang, menghadiri acara PA dan kebaktian rabu malam.

Gereja lain yang berkesan untuk sayaadalah gereja di Taipa. Waktu saya masuk lumayan deg deg an kuatir engga ada yang bisa bahasa Inggris. Ternyata kebaktian dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan ke Cantonese. Aman! Saya langsung duduk di bagian belakang, yang kebetulan udah ada Yuimi dan seorang Filipino yang datang untuk mengajar kelas guru-guru. Sepanjang kebaktian Yuimi nemenin saya duduk, padahal dia juga harus mimpin acara sekolah sabat dan nyanyi (plizz) pas kebaktian khotbah. Anggota jemaat yang manis begini bikin betah duduk sampe acara PA sampe sore.

Satu gereja yang terburuk dalam urusan ramah tamah, saya temukan di Semarang. Ga tau persis ada berapa banyak gereja di Semarang, tapi temen saya kebetulan mengantarkan ke gereja yang satu ini. Sayangnya, sepanjang kebaktian, saya bener-bener sendirian. Pendeta datang nyamperin hanya untuk bilang selamat sabat dan nanya: dari mana. That’s all! Dari depan ada pengumuman, kami mengundang semua tamu-tamu untuk makan bersama. Tapi kalo ga ada yang ngajak, mana saya mau? Plis deh. Selesai salaman, ga ada yang nyamperin saya, menyalami atau apapun.

Saya menyadari bahwa sendiri sebenernya ga terlalu komunikatif kalo urusan tamu-tamu. Tapi paling engga, kalo udah keluar gereja, udah mulai ngajak-ngajak makan, saya lumayan aktif lah.  Apalagi kalo orangnya obviously ingin diajak? Hehehe.