Monthly Archives: November 2011

Berfoya-foya?

Standard

Mungkin ini adalah topik yang sensitif.  Tapi saya tidak mem-password-nya kali ini.  Mudah-mudahan yang membaca memahami sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang ke-advent-an biasa  dan keyakinan untuk setuju-untuk-tidak -setuju yang saya miliki.

Sebuah milis Advent kerapkali menggangu saya.  Posting-postingnya, kalau tidak terlalu ‘sok-alim’, terlalu ‘menghakimi’. Bahkan saat menghakimi nuansa-nya tetap sok-alim.

Seorang manager di kantor saya pernah mengirim sebuah email yang ‘pahit’, isinya menyindir agar semua pemakai toilet wanita mengikuti sebuah SOP penggunaan toilet. Email itu begitu nyinyir dan menuduh bahwa para wanita di kantor jorok dan tidak memahami cara menggunakan toilet modern.  Tidak heran penerimanya merasa tersinggung dan ada yang marah.  Anehnya, segera setelah mengirimkan email itu, sang manager mengirimi pegawai yang beragama kristen dengan sebuah renungan singkat. Wot? Apakah gunanya renungan itu? Sebagai pernyataan bahwa: maaf tadi email saya terlalu nyakitin?, atau: saya orang yang religius jadi tolong tanggapi email saya dengan serius?  Apapun, renungan singkat -nya masuk junk box.

Kembali ke milist Advent.  Saya sering merasa tersentuh dan gatal ingin me-reply saat dibahas mengenai pendeta.  Pendeta ini tidak benar-lah, pendeta itu tidak benar-lah, ada saja kesalahan yang bisa dicari, lalu merembet kepada masalah perpuluhan dan persembahan yang diselewengkan penggunaannya oleh para pendeta untuk bermewah-mewah.

Biarkan saya menarik nafas sejenak.

Suami saya pendeta.

Saya tidak pernah hidup mewah.

Rumah menyicil, mobil menyicil, bahkan biaya pendidikan anak saya yang seharusnya dibayar sekian persen sesuai peraturan tetap harus saya bayar sendiri.  Saya tidak pernah minta-minta uang kepada anggota jemaat mencurhatkan betapa beratnya keuangan rumahtangga.  Potluck saya tetap bawa, sama dengan anggota jemaat yang lain. Retreat tetap bayar sama dengan anggota yang lain.  Apa kemewahannya?

Biarkan saya bertanya bagian apa dari perpuluhan yang dihambur-hamburkan oleh para pendeta untuk berfoya-foya?  Saya kenal suami saya dan bisa tahu makanan apa saja yang dimakannya.  Tiga kali sehari ia makan di rumah, masak sendiri. Kalaupun pergi ke kantor jarang mengunyah nasi kotak yang disediakan karena alasan kesehatan.  Ia tidak pakai blackberry, tidak bersepatu rockport, bahkan jika seminar ke luar kota mencari-cari tiket termurah dan hotel termurah sangkin menghematnya.  Dimana berfoya-foya-nya?

Saya sungguh tak tahu dan tidak bisa merasakan kemewahan apapun seperti yang sering dituduhkan.  Malahan, sebagai isteri pendeta, saya selalu mengalami kritik dan kritik dan kritik dan kritik.  Kritik yang bias dan menyakitkan.  Bukan saja menyerang saya sebagai pribadi yang bebas beropini tapi juga menyerang jiwa rohani saya dengan dikte bahwa seorang isteri pendeta harus selalu mau melayani tanpa boleh lelah dan tampil konservatif bak EG White di tahun 1800an.

Hakimi saya.

Advertisements

Takdir. Saya Percaya.

Standard

Ada dua hal yang bersarang dan tak mau pindah dari benak saya minggu-minggu terakhir ini.

Baiklah saya urai dari pertama.  Takdir.

Saat bercanda-canda dengan teman-teman di penginapan, kami yang sama-sama Advent,  terhadap sebuah situasi yang tidak terkendali saya berujar: “Ya mau diapain? Itu kan takdir.”  Seorang teman langsung menyambar: “Hush!”

Hush?

Saya tahu benar orang Advent adalah para ilmuwan alkitab yang setia belajar, mendengar, membaca dan mendiskusikan Alkitab.  Saya juga tahu benar bahwa orang Advent tidak percaya pada takdir.  Dalam pembahasan-pembahasan sekolah sabat baik di khotbah pasti ditekankan, dan berulang-ulang: Tidak ada takdir.  Mengapa? Karena Allah membekali manusia dengan kuasa untuk memilih.  Power of  Choice.  Manusia boleh memilih menjadi baik atau menjadi jahat.  Manusia bebas memilih menjadi pengikut Kristus atau pengikut setan.  Manusia boleh memilih tempatnya di surga atau di neraka.  Semata-mata of the power of choice.

Tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi manusia jahat.  Benar.  Melebar menjadi: tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi perampok atau pembunuh.  Benar juga.

Namun siapa yang bisa memilih dari orangtua mana mereka lahir?  Jika saya boleh memilih saya tidak akan memilih dilahirkan di Indonesia apalagi tinggal di kota semacam Jakarta yang mahluk hidupnya sangat individualis dan kasar.  Lebih baik saya memilih pedesaan yang sejuk di NZ atau kota besar di negara maju seperti NY di US.  Jika saya boleh memilih tidak sudi saya punya pemimpin dan parlemen doyan korupsi dan disebut dunia sebagai negara berkembang (kalo bukan negara miskin) dengan penduduk terpadat dan polusi terparah. Aih.  Namun, mana saya boleh memilih?

Kalaupun ada pilihan untuk saya tidak serta merta saya bisa bilang: Ah, saya mau pindah tinggal di London! umpamanya.   Manalah bakalan negara itu memperbolehkan seorang yang hanya tamatan sekolah di negara berkembang menjadi warganegaranya dengan mudah?  Jangankan jauh hingga ke sana.  Saya saja tidak bilang sembarang bilang: Ah, saya mau tinggal di Singapore saja! Padahal Singapore cuma dua jam perjalanan pesawat dari Jakarta dan relatif banyak warganegara Indonesia yang bekerja di sana.

Saya jelas tidak bisa memilih.  Saya dilahirkan dalam keluarga Advent, bersuku batak, yang kondisi keuangan pas-pas an, saya tidak bisa serta merta memilih untuk keluar dari situasi itu, bukan? Lihat sekeliling.  Jika menjadi tukang becak adalah alternatif pekerjaan yang terbaik bagi seseorang, apakah kita bisa bilang bahwa ia punya kebebasan memilih.  Ia bisa memilih menjadi manager, ngapain pulak jadi tukang becak? Eits, memangnya jadi manager tidak perlu pendidikan.  Beruntunglah mereka yang punya orangtua yang cukup uang untuk sekolah setinggi-tingginya, jika tidak? Apalagi di kondisi negara dengan 70% masyarakat miskin seperti Indonesia? Apakah mereka bisa langsung memilih mengubah nasibnya? Mengubah takdirnya? Jika pun bisa tidak semudah membalik tangan, bukan sekedar kerja keras, namun juga ada bermacam hal lain menjadi faktor yang menentukan.

Saya percaya takdir.  Di dunia yang fana ini takdir berlaku. Di dunia ini, takdir yang kejam, sedang berlaku. Power of choice berlaku untuk mengesahkan kekekalan kita di dunia baru yang Tuhan janjikan, tapi bukan di dunia yang ini.