Monthly Archives: September 2008

Hadiah apa ya?

Standard

Ngasih hadiah apa ya Sabat 13 ini?  Pertama kali di Pamulang jadi koordinator Pelayanan Anak-anak, dari awal udah minta jatah hadiah SS 13 diperbesar, dengan komitmen adalah: hanya anak-anak yang rajin sekolah sabat yang dapet hadiah, dan hadiahnya bukan berupa makanan.  Pertama itu, gw inget, beliin buku gambar, krayon, gunting, lem, kertas lipat dalam satu paket.  Tujuannya adalah: lem dan gunting itu tiap sabat dibawa untuk prakarya dikelas. Hasilnya? Anak-anak seneng, tapi minggu depannya, teteup lah, ibu guru harus siap sedia dengan segala perlengkapan perang itu.

Pernah gw beliin buku.  Huah, ternyata buku untuk anak-anak mahal banget.  Dengan budget 10 – 15rb per anak, paling dapet buku mewarnai tipis-tipis di toko buku Immanuel.  Yang agak worthed sedikit, budgetnya minimal 25 ribu. Itupun masih kategori buku terbitan tahun lama dari Kalam Hidup.  Kalau mau buku yang berwarna, tebal, alkitab 365 hari, harganya juga waaauw.  Akhirnya, Ibu guru berkorban sedikit nambahin uang jatah hadiah, hingga setiap anak bisa dapet buku yang cukup tebel, berwarna dan bermakna. Judulnya adalah doa setiap hari untuk anak-anak.

Pernah gw beliin tas dan payung dari pasar pagi.  Sayang tas-tas itu kualitasnya setara dengan harganya.  Beberapa kali pakai copot semua tali-talinya.  Sigh. Payung lumayanlah, bisa dipakai beberapa bulan.

Pernah gw fotokopi aja buku Jeremi yang bagus seperti saduran dari bahasa Inggris, plus sedikit makan bergizi seperti jus dan susu.

Pernah gw beliin buku renungan pagi anak-anak. Yang diterbitkan konfrens DKI.  Sayangnya kemudian gw yang patah hati akibat editorial buku renungan yang kurang professional.

Pernah gw paketin crayon, pinsil dan cat air.

Pernah botol minum dan tempat bekel.  Kayaknya ini paling sering, karena harganya yang sangat sangat terjangkau.

Pernah celengan kaleng. Dengan tujuan anak-anak menabung. Tapi mungkin jadi hiasan aja kali.

Pernah alkitab anak-anak, hasil fund raising jualan kalender.  Satu alkitab harganya Rp 60,000- Lumayan, tapi mencapai target One Child One Bible.

Kalau alat tulis aja, sering banget.  Terakhir kemaren, beli mainan anak-anak yang kecil-kecil.  Mobil-mobilan untuk yang laki-laki dan sisir untuk yang perempuan.

Kuartal ini? Masih puyeng, mikirinnya. Ideas?

Advertisements

Sabat Khusus Anak-anak 2008

Standard

Tema acara sabat khusus anak-anak taun ini adalah “Orangtua mengajar kami menginjil”.  Idenya seperti parents day, setiap anak yang berkhotbah akan didampingi oleh orangtuanya, dan bersama-sama berkhotbah.

Michelle didampingi ompungnya. Michelle and ompung berkhotbah tentang keperdulian terhadap lingkungan dan sesama.  Suara Michelle jernih, dan suara ompung berwibawa.

Gaby didampingi mamanya.  Dengan sedikit demonstrasi berupa air yang diisikan ke gelas, dikocok dengan kopi, menggambarkan kehidupan manusia yang dikotori oleh dosa.  Anak-anak memang memerlukan visualisasi.  Selama Gaby berkhotbah, dengungan tawon berkurang dengan drastis.

Jeremi maju sendirian, tapi sebenarnya didampingi amongnya untuk drama Daud dan Goliat.  Penampilan Jeremi agak mirip Daud, sang gembala, dengan balutan kain-kain di sekeliling pinggang dan kepalanya.  Penampilan Among agak mirip Goliat, karena perisai, baju zirah, helm dan pedang raksasa dari karton hitam, plus tombak.  Goliat tentu saja rebah kena batu dari ali-ali Daud.  Jika Tuhan beserta kita, kepada siapa kita harus takut?

Ales menutup rangkaian khotbah dengan kesimpulan untuk anak-anak menginjil.  Didampingi papanya, Ales yang sudah tiga tahun berturut-turut berkhotbah memperlihatkan kematangan berbicara karena pengalaman.  Suaranya jernih dan kata-katanya teratur. 

Seperti tahun sebelumnya, Jennifer memukau dengan suaranya yang merdu.  Julio, Jay dan kakak-kakaknya memberi warna yang berbeda dengan seragam hitam putih mereka, di antara lautan anak-anak dan jemaat ber dress code pakaian batik.  Ibu Hutagaol komentar: “Kok jadi seperti kondangan?” Memang ini kondangan, mengundang anak-anak untuk merayakan sebuah pesta rohani khusus untuk mereka.  Mengundang anak-anak untuk menikmati firman yang diperuntukkan khusus untuk mereka.

Gereja penuh dan tambahan kursi hingga maksimal.  Makanan potluck berlimpah ruah, dan semua tamu dapat hadiah. Bagus juga jika sabat tamu dan sabat anak-anak dilakukan paling tidak 2x setahun?  Walaupun suasana agak sedikit berisik, karena tidak semua tamu-tamu beragama advent dan tidak terbiasa duduk tenang berjam-jam di gereja, in overall, suasana kebaktian nya indah. 

Panggung boneka, yang kali ini gw tekel bersama-sama dengan Ibu Yanti, ternyata makan waktu sampai 15 menit. Selama bermain di panggung boneka, gw merasa ada yang narik-narik boneka yang gw pegang.  Waktu gw puter rekamannya…hahaha…Melvin tak henti-hentinya mengganggu si boneka, ternyata!