I have to admit that this simple church leave a big – no, huge track in my heart.  Huge dalam artian yang positif.  Di dalam kesederhanaan, di area yang bahkan tidak tercatat di google maps, saya belajar untuk menjadi rendah hati.  Rendah hati secara jasmani dan rohani.  Seringkali di dalam jemaat, terutama setelah melewati tahun-tahun remaja di dalam sebuah jemaat yang gemar pamer, saya seringkali merasa tidak mau diunderestimate.

Beberapa tahun yang silam kami melayani di sebuah jemaat.  Ada seorang ibu yang merupakan pemusik di jemaat itu.  Sayangnya beliau kurang sportif.  Jangankan menjangkau dan menjadikan saya partner bermusik dan seperti itu, memberi saya jadwal untuk main piano hampir tidak pernah. Jika saya memimpin paduan suara, berbagai suara sumbang dan kritik akan dilontarkan secara informal ataupun formal lewat majelis jemaat.  Disitu saya sering merasa kesal.  Bukan karena saya merasa luar biasa bertalenta atau bagaimana, namun sangat tidak enak untuk diremehkan dan dikritik.

Baru-baru ini saya reuni dengan teman-teman kuliah.  Suatu hari kami anak asrama kebagian jadwal menyanyi di Chapel.  Semua ingin terlibat.  Yang bisa main piano cuma beberapa.  Kakak Monitor menunjuk saya.  Sayangnya, saat saya mulai main piano, seorang gadis mulai reseh — mainnya gini, mainnya gitu.  Kurang gini, kurang gitu, dan etece.  Setelah 25 tahun berlalu, saya masih seorang yang main piano di gereja, sedangkan dia? Hahahah, ampuni saya jika tertawa. Karena sebenarnya bukan tanpa alasan 25 tahun lalu kakak monitor menyuruh saya yang main piano kan?  Tapi pengalaman diremehkan dan dikritik itu sungguh tidak enak.  Setelah 25 tahun baru bisa diketawain.

Kembali ke Jemaat Tridaya.  Di Jemaat yang sederhana ini saya belajar untuk tidak terpancing walaupun ada yang bersikap underestimate.  Saya tenang dan bersikap santai, tidak menanggapi dan seolah tidak perduli.  Hasilnya saya lebih bahagia.  Toh, saya tetap bisa mengembangkan kaum muda di Jemaat.  Bisa membagi ilmu saya main biola dan membentuk sebuah ensamble kecil-kecilan.  Saya bertumbuh, Jemaat juga bertumbuh.

Jadi saya mau mengucapkan terimakasih yang luar biasa besarnya.  Biarlah Tuhan yang menjaga dan memberkati mereka, menaungi mereka dengan kasihNya yang tidak berkesudahan dan mengabulkan permintaan mereka. Di sana, saya terharu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s