Monthly Archives: September 2011

Didikan Jemaat

Standard

Saya bukan cuma satu atau dua kali merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan lebih dari sekedar kreativitas ini dan itu yang membuat mereka giat tubuh dan mental.  Saya hampir tiap hari merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan: TELADAN.

Saya dibesarkan di sebuah gereja yang besar. Besar dalam tanda kutip.  Artinya, jemaat dengan jumlah anggota yang banyak. Satu gereja yang mula-mula dibentuk, sebuah gereja yang populer.  Gereja yang memiliki sekolah dan gereja yang letaknya dalam bangunan yang sama dengan kantor daerah. Gereja atau Jemaat ini dalam pandangan saya adalah jemaat yang lengkap, jumlah anak-anak, orang muda, orang tua berimbang dengan baik. Semua departemen dapat diisi dan digiatkan.  Saya bandingkan dengan jemaat-jemaat dimana saya ikut melayani selama ini, kadang departemen Pelayanan Anak-anak kurang giat karena tidak ada guru-guru yang terlatih dan mau melayani, dengan kata lain resources-nya kurang. Ada jemaat yang kegiatan PA-nya mandek karena orang muda hanya segelintir dan langsung kabur begitu selesai kebaktian.  Ada jemaat yang kegiatan BWA nya cuma khotbah hari sabat karena para wanita kebanyakan adalah oma-oma yang sudah lebih suka duduk-duduk.  Hm.

Kembali ke leptop. Berada dalam jemaat yang ‘besar’ dan ‘lengkap’ ternyata bukan jaminan menjadikan saya seorang ‘tiang-tiang jemaat yang handal di masa yang akan datang’ *mengutip doa-doa para pendeta yang menjadi pemimpin kepada anak-anak di jemaat.  Justeru sebaliknya.  Mungkin kedengarannya aneh dan mengecewakan.  Tetapi di jemaat ini saya belajar menjadi anggota jemaat yang penuntut =pendeta harus perfect dengan kualitas khotbah dan rajin melawat, saya belajar menjadikan mimbar dan rapat majelis sebagai ajang menghakimi orang=si ini dan si itu tidak boleh jadi ketua jemaat karena anaknya sekolah haris sabat, si ini tidak boleh khotbah karena masih ada hutang sama saya.  Di jemaat ini saya belajar untuk pamer=kesaksian-kesaksian mendapatkan untung usaha berlipat ganda, anak masuk universitas terkenal, membelikan perabot baru untuk gereja karena dapat berkat, dll, dan di jemaat ini saya belajar macam-macam hal seperti perpecahan, sakit hati, blok-blok-an dan sederetan hal-hal negatif.  Hal-hal yang seharusnya bukan merupakan ciri umat Allah yang sisa.

Saat saya masih remaja saya sudah bisa merasakan persaingan *baca=di gereja*.  Seorang ketua jemaat dan yang lainnya berlomba-lomba memberikan sumbangan kepada gereja, dengan tujuan mendapatkan pujian dan lebih banyak dukungan.  Saya salah seorang anak yang sejak dini belajar main piano *orang Advent terkenal karena banyak yang mahir piano bukan?* tetapi saya bisa merasakan favoritisme dengan adanya seorang teman yang sesungguhnya tidak terlalu mahir namun entah kenapa selalu dijadwalkan melayani lebih banyak dan pada acara yang lebih penting daripada saya yang paling banyak dijadwalkan dua kali satu triwulan, itu pun untuk acara pembukaan sekolah sabat atau acara PA, dimana hanya sedikit orang yang hadir.   Saya juga merasakan bahwa saya selalu dianggap ‘underdog’, sebagai orang yang tidak berpotensi.  Saat para remaja main drama, saya kebagian peran-peran figuran saja.  Saat para remaja menyanyi, saya tidak pernah kebagian menyanyi solo.  Saat pemilihan pegawai jemaat, saya tidak pernah dipilih selain sebagai pianis sekolah sabat.  Walaupun setelah semakin beranjak dewasa saya semakin menyadari potensi-potensi saya yang tidak biasa baik secara talenta maupun kepemimpinan, saya tidak pernah mendapatkan kesempatan membuktikannya.  Saya merasakan tidak adanya kesempatan yang sama diberikan kepada semua orang.

Jadi demikianlah pendidikan dari jemaat yang saya terima.  Demikianlah TELADAN yang saya terima. Tidak dapat saya tolak bukan?

Namun saya menyesalinya.  Saya menyesali kurang bijaknya orang-orang tua dimasa lalu mendidik anak-anak jemaat, sehingga terjadi produk-produk gagal seperti saya.

Produk-produk gagal yang akan mengulang kesalahan orangtua saya.  Yang suka mencela dan menghakimi pendeta.  Yang bersikap rigid dan legalis.  Yang tidak toleran dan tidak suka menerima perubahan, dan membuat perpecahan-perpecahan yang tidak perlu di jemaat.  Apakah saya ingin membuat sebuah generasi baru yang seperti itu juga? Huh. Tidak. Maaf.

Sejak saya meninggalkan jemaat itu saya berjuang seperti seorang ulat di dalam kepompong yang ingin keluar sebagai kupu-kupu yang cantik.  Tidak mudah menurunkah kelebihan bobot pikiran negatif mudah menghakimi orang yang sudah saya pelajari bertahun-tahun tersebut.  Tidak mudah melunturkan belang-belang blok-blok an yang sudah melekat di tubuh saya paling tidak selama 17 tahun.

Suatu waktu saya pernah melayani sebuah jemaat.  Walaupun pemimpin musik tahu saya handal bermain piano, ia hampir tidak pernah menempatkan saya sebagai pianis dalam jadwal, dan memberikan tempat kepada orang-orang muda yang kurang handal dan kurang berkomitmen.  Saya teringat kembali pengalaman saya bertahun-tahun lalu ketika saya remaja dan mendapati bahwa sang pemimpin musik adalah produk yang sama seperti saya.  Saya berubah.  Dia tidak.

Beberapa tahun yang lalu seorang anggota jemaat mendekati saya dan berbisik: “Maaf Bu Pendeta, tau kan si Anu itu, tolong ditegur dong, kita engga enak ngeliat dandanannya yang sedemikian.”  Saya memandanginya dengan tegas berkata: “Ibu bilang saja sendiri sama dia.  Saya tidak terganggu.  Buat saya enak aja dan tidak ada masalah.”  Anggota jemaat itu mendesak: “Tapi kan berdandan sedemikian tidak sesuai dengan doktrin Advent?” Saya angkat bahu: “Soal doktrin mari kita duduk bersama untuk membicarakannya, namun saya meyakini tidak ada keharusan seorang wanita Advent harus tampil bak Ny Ellen White di tahun 1800-an.”

Sama jika seorang mengatakan bahwa mereka ingin menyanyi di gereja menggunakan gitar dan drum. Saya akan senang-senang saja.  Sama senangnya jika seseorang menyatakan ingin menyanyi menggunakan piano, atau suling, atau angklung, atau apapun.   Saya menyadari banyak pertentangan antara kubu yang ingin mempertahankan konservatisme dan bernyanyi hanya merujuk pada lagu-lagu yang ditulis di Lagu Sion dan kubu yang suka mengeksplorasi dan mengadaptasi lagu-lagu dari denominasi lain, sama banyaknya dengan kubu yang suka mendengarkan berbagai jenis musik bertentangan dengan kubu yang hanya merasa bahwa piano-lah yang layak.  Silakan kalian bertentangan! Namun ingatlah baik-baik, anak-anak yang sedang bertumbuh, generasi dibawah ini, sedang dididik oleh jemaat dan mereka tidak bisa menolak didikan itu.  Apakah mereka akan bertumbuh sama persis seperti generasi sebelumnya atau menjadi generasi yang lebih bijaksana sangat tergantung kepada didikan itu.  Kecuali kita menghendaki sebuah generasi yang juga suka pecah-pecah gereja, silakan!

Saya? Saya tidak akan menghakimi seorang yang minum teh.  Tidak menghakimi orang yang bersekolah hari sabat.  Tidak pusing dengan jenis pakaian dan jenis musik.  Menerima perayaan dan ucapan natal dengan gembira, dengan satu maksud: Saya menjadi seorang TELADAN yang benar di dalam jemaat.  Generasi yang akan datang akan muncul sebagai tunas yang berbuah.  Yang tidak bersaing siapa paling kaya di gereja, yang tidak menghakimi saudaranya.

Seorang pernah berkata: Pikiran hanya bisa digunakan jika ia terbuka!

PS: Seorang pernah memprotes saya karena saya menempatkan setiap anak menyanyikan satu bait dari lagu yang dinyanyikan bersama-sama dalam sebuah acara SS13.  Si anak memang fals.  Saya angkat bahu.  Saya tidak ingin mengulang kegalauan saya di masa lalu. Bukankah di mata Allah segala pujian adalah indah?  Anak itu fals, namun ia bisa dilatih.  Daripada dicela dan dijadikan anak bawang atau underdog, well, saya tidak merasakannya sebagai suatu metode yang bagus.  By the way, daripada teman-teman saya yang sama-sama belajar main piano di jaman dahulu di jemaat itu, mungkin cuma saya-lah yang masih setia melayani main piano hari Sabat di gereja.

Advertisements

Music for Life

Standard

Lebih dari enam bulan belakangan ini, anak-anak Galilea kembali digiatkan dengan kegiatan kelas kemajuan.  Karena itu kegiatan membuat prakarya berkurang.  Siang hari sehabis kebaktian digunakan untuk latihan biola *nah, ini memang baru* dan kelas-kelas.

Tentang biola, tahun 2011 kekompakan tim semakin kuat.  Tahun 2009 dimulai dengan musik gedumbrangan menggunakan kaleng-kaleng bekas, menggantikan perangkat perkusi.  Tahun 2010 maju dengan angklung, dan tahun 2011, instrumen biola menjadi iringan tetap di acara kebaktian baik sekolah sabat maupun khotbah.  Ada anak-anak yang cepat maju dan mampu membaca not balok lagu mana saja, dan ada anak-anak lain yang lumayan bisa ikut-ikut walaupun tidak mahir.  Setidaknya, semuanya belajar kooperatif satu dengan yang lainnya, menajamkan sense musikalitasnya dan terutama roh pelayanan kepada Tuhan.

Saat Kongres Anak di Bandung, anak-anak Galilea bergabung dengan jemaat Kota Wisata, memainkan biola dan menyanyikan dua lagu.  Sangat disayangkan kualitas microphone-nya kurang memadai sehingga penampilan tidak maksimal.  Anak-anak merasa kecewa karena menyadari suara mereka tidak terdengar bagus dan karena melihat para juri menggeleng-gelengkan kepalanya *ini suatu kritik membangun, kalau merasa cukup bisa menjadi juri anak-anak harusnya sadar betul bahwa anak-anak adalah mahluk yang bisa sangat sensitif merespon tindakan orang lain.  saya juga mau mengkritik pihak panitia yang tidak suka test-mic, mengakibatkan hal-hal yang tidak diharapkan seperti itu.  setelah terjadi hal yang kurang baik, baru di acara pagi hari mic-nya diganti*

Dari pengalaman bermain biola di acara-acara kebaktian di gereja dan di acara-acara lainnya juga, seperti acara PA Gabungan mudah-mudahan tahun depan lebih semangat untuk belajar main biola dengan lebih baik! Main biola tidak terlalu sulit asal suka belajar dan mau berlatih.  Anak-anak yang teratur berlatih mudah menerima pelajaran baru dan tidak ragu membaca not.  Harga biola juga tidak terlalu mahal *apalagi dibandingkan dengan harga piano :)* jadi hampir semua anak yang giat akan bergabung dalam tim. Cheers!

Say No To ‘Advent’ Grafitti

Standard

Tidak disangkal bahwa orang Advent suka untuk menjadi terkenal.  Tidak mengapalah saya menyebut orang Advent bukan? Karena memang demikianlah cara kita menyebutnya? Petuah dari Yesus kepada ke dua belas murid untuk : pergi, ajarlah dan baptis-lah, menjadi suatu acuan sehingga begitu giatnya orang Advent untuk melakukan pekerjaan pengabaran injil.  Jika ada yang menanyakan mengapa anda tidak makan kepiting yang enak itu? Tidak ragu itu adalah suatu cara untuk menyatakan: Saya Advent, kami tidak makan kepiting, udang dan jenis-jenis seafood lain selain ikan yang bersisik dan bersirip. Dan jika si penanya tertarik maka pembahasan akan berkembang mudah-mudahan sesuai harapan.

Saya jadi teringat jaman tahun 80-an, di kota kecil di tempat saya tinggal sangat mudah membedakan orang Advent pada Sabtu pagi.  Selain baju rapi, mengenakan dasi dan jas, dan para wanita mengenakan stocking, alkitab dan lagu sion selalu ikut dikepit naik angkot menuju ke gereja.  Pula jika orang Advent makan di restoran yang masih sedikit di kota kecil saya itu, pasti mereka akan minta ‘cai herang’ alias air putih sebagai pengganti teh yang complimentary pasti langsung disajikan pelayan tanpa perlu memesan *saya sering merasa kehilangan saat-saat seperti itu, sekarang jarang sekali ada resto atau warung makan yang menyediakan minuman complimentary, untuk segelas aqua harus pesan dan segelas air putih harus bayar*

Dengan semakin majunya teknologi, orang Advent semakin terkenal.  Mengudara melalui radio dan tayang di televisi.  Duduk bersama pemuka-pemuka agama lain dalam forum antar agama dan diberitakan di seluruh dunia.  Choir ini dan itu mendapatkan pujian dalam festival-festival musik  dan malah memenangkan perhargaan dalam kompetisi.  Saya masih menunggu-nunggu apakah ada orang Advent Indonesia yang akan berjaya menjadi seorang pianis, secara begitu banyaknya pianis yang handal di gereja, dan anak-anak dibiasakan dengan musik sejak masih sangat dini.  Bukankah baik terkenal dengan cara-cara demikian?  Stigma-stigma ekslusivitas akan mengelupas jika orang Advent terkenal dalam sisi-sisi positif.

Tentunya jauh lebih baik daripada terkenal terkenal melalui grafiti-grafiti di tembok-tembok pembatas jalan, di kursi-kursi metromini atau bis non-AC, atau di tembok-tembok perkantoran dan rumah. Ealah. Saya sendiri sangat anti grafiti.  Di masa sekolah, saya tidak punya kecenderungan duduk-duduk dengan teman-teman lalu menggrafiti dinding.  Setiap waktu luang dipakai untuk belajar dan belajar lagi. Belajar main piano, latihan renang, latihan basket, latihan baris-berbaris bersama grup paskibra, lalu membaca buku ini dan itu, hampir tidak ada waktu luang walaupun hari minggu.  Jika kita kepengen kumpul-kumpul, maka kami pergi ke toko buku Gramedia dan mencari bacaan, atau makan bakso lalu ngumpul di rumah salah satu teman menghabiskan sekantong keripik sambil nonton TVRI.  Sederhana.  Buat apa menggrafiti? Begitu banyak-kah waktu luang orang muda jaman sekarang? Dan kenapa harus menggrafiti kata-kata yang begitu baik: Advent? Advent artinya menantikan kedatangan Yesus, tetapi dijadikan coretan yang mengotori kebersihan kota dan angkutan publik.

Suka untuk terkenal. Ya. Grafiti? Tidak.