Category Archives: Uncategorized

More Concern to Person than to Activity

Standard

You know what, by years of service I realise something.

My concerns are swiftly changed, from activities to people.

Back on my previous years, I always chosen as part of the Church Committee. Serve as the chair or this or that department.  My mind is working harder than a clock to think what the best activities to make so the goals of having everyone involved, having the need served, having the children learned, having the youth growth is achieved. While other church members usually sit down and talk after the sermon, I would go up or inside or wherever the activities is conducted. To arrange, manage, teach, make things happen and the energy rolled. I don’t give myself time to chat, to share news and gossips or else may happen during that idle time.

But after 18 years, I started to think to myself. I don’t really have a friend from the church members. First, because we keep on moving on after two or three years. Second, because maybe I don’t really open up. I have the habit to keep distance from everyone. They can come to chat, to talk, to pour their heart. But only them. I never did so. If I need to chat, talk or pour my heart I went to my husband or the heavenly God Himself. If I talked to my close friend none of them share similar experience.  I don’t really talk to other pastor’s wife as the nature of relationship is also odd.

So why I start to concern about people? Because I care about me. What if, among these people to appear to be happy and contented, they actually bore a big burden. Like me? And they have nobody to pour their heart to.  Like me?

 

Advertisements

Farewell

Standard

I will miss them so too much.  God bless them to be blessing to others through their music, through their spirit and evangelistic passion.  May God brought them up and far and beyond to the best place, granted them with their wish in their study and future.

I had such a great 3 growing years with them.  Mentally and spiritually.

Tridaya Violin to Kota Legenda

Standard

Di bulan January 2015, grup Tridaya violin diundang oleh Jemaat Kota Legenda untuk “konser” di acara PA.  Tentu saja kami semangat! The group menyiapkan sekitar 1o lagu instrumental dengan biola, 1 lagu dengan nyanyian oleh Cia, dan sebuah drama musikal yang pernah dipentaskan di gereja sebelumnya.

violin2

Lebih banyak yang terlibat bermain biola saat konser yang ini daripada waktu acara pernikahan, sehingga suara biola lebih terdengar harmonisasinya. Setiap selesai satu lagu, mic diambil alih oleh anak yang lain dan menyebutkan judul lagu berikutnya yang akan dimainkan beserta sedikit kesaksian mengenai makna lagu tersebut.

violin3

Tridaya Violin

Standard

Tiga tahun terakhir ini saya fokus untuk mengajar para remaja bermain biola.  Di awal kami ditempatkan di jemaat ini, jujur saja saya tidak punya mimpi akan memimpin sebuah ensemble biola. Beli biola menjadi tantangan tersendiri, karena saya tahu tidak semua orang suka “membuang” uang untuk investasi macam begini. Ajaibnya, animo para orang tua dan anak-anak cukup tinggi. Hampir semua yang berada di kategori remaja 12 tahun ke atas bergabung untuk belajar.

Dari sekian banyak ada beberapa yang drop, tidak sanggup melanjutkan hingga akhir. Namun yang melanjutkan hingga hari ini, saya bisa pastikan permainan mereka sudah mulai “jadi”. Fingering nya tidak fals lagi dan bowing nya mulai berbentuk.

violin

Foto ini berasal dari tanggal 30 November 2014 bermain di sebuah acara pernikahan.

Rasanya Masih Sama

Standard

Sudah limabelas tahun saya melayani sebagai isteri pendeta. Kesan saya: Aduh!

Seorang isteri pendeta senior pernah berkata, sebelum saya menikah, bahwa ke-nikmat-an menjadi isteri pendeta baru akan dirasakan setelah lima tahun pelayanan. Saya sudah lima belas tahun, rasanya masih sama. Entah karena saya masih melihat orang yang sama, atau saya masih memiliki paradigma yang sama.

Mungkin dua-duanya.

Diawal-awal pelayanan saya, banyak kritik yang saya terima. Saya tidak hargai. Sungguh. Bohong kalau saya bilang saya menerima dan menghargai kritik yang sekedari membangunkan kemarahan itu. Kritik yang paling nyakitin adalah sebutan bahwa saya tidak cocok menjadi isteri pendeta. Rasanya saya ingin menggugat dengan bilang: memangnya ada kriteria khusus menjadi isteri pendeta? Semacam menjadi polwan atau pramugari? Semacam lulus D3, tidak berkacamata, sehat jasmani rohani dan punya surat keterangan baik dari kepolisian? Kan tidak ada! Lalu kenapa sembarangan orang mengkritik bilang ga cocok? Asbun. Sorry. Tapi buat saya kritik itu jelas asbun.

Kritik kedua yang juga sering menyakiti saya adalah sebutan bahwa saya tidak ramah. Saya pernah men-detox diri sendiri untuk berganti kepribadian. Menjadi orang ramah tamah yang menegur semua orang dengan manis budi dan baik hati. Saya cuma kuat beberapa lama dan kembali ke personality saya yang sesungguhnya. Karena cape menjadi orang lain. Cape jaga image.  Karena toh, sesudah saya bersikap ramah tamah tetap saja saya mendapat kritik. Kritik yang lebih ga penting lagi malahan. Seperti, ibu pendeta kok ga selalu pake kebaya ke gereja? ibu pendeta kok ga disanggul rambutnya? ibu pendeta kok pake sepatu 12senti? Hampppuuun. Kalo didengerin semua bisa seperti cerita Nasrudin membawa onta. Onta dituntun dibilang bodoh kenapa onta ga ditunggangi. Ditunggangi sama anaknya, dibilang anak durhaka membiarkan orangtuanya berjalan. Ditunggangi Nasrudin, dibilang orangtua ga punya hati membiarkan anaknya menderita. Dua-dua menunggangi, dibilang penganiayaan hewan. Bah!

Dalam lima belas tahun perjalanan pelayanan ini, jumlah kritik dari anggota jemaat memang berkurang. Entah saya yang sudah semakin developed, atau memang usia saya yang separo baya mulai membuat orang segan bicara sembarangan. Saya tidak segan menunjukkan bahwa saya suka melayani. Mengepel lantai gereja, mencuci piring, menyetel AV, supaya orang tahu bahwa saya bukan orang sombong. Saya tidak mengeluh jika saya yang main piano, yang ngajar, yang khotbah, dan setelah potluck cuci piring. Let people know bahwa saya sincere. Tulus. Saya hanya percaya untuk segala sesuatu ada waktunya. Mudah-mudahan orang semakin mengerti bahwa saya tidak bermaksud untuk tidak ramah jika saya tidak menanyakan siapa suaminya, siapa isterinya, berapa anaknya. Saya lebih kuatir tersinggung jika ditanya berapa anaknya, padahal mereka sedang menunggu-nunggu keturunan setelah pernikahan sepuluh tahun. Saya lebih kuatir saya disangka kepo menanyakan suaminya dimana padahal semua orang tahu pria itu kabur dengan wanita lain. Biarlah orang lain yang punya talenta menjangkau yang bertanya untuk saya. Saya percaya it doesn’t harm me or them jika kita saling tidak tahu untuk beberapa lama. Memberi ruang untuk saling percaya sebelum mengorek-ngorek hal pribadi.

Dulu, jika saya mengeluh kepada suami saya, ia akan menjawab bahwa isteri pendeta yang lain pun mengalami hal yang sama. Buat saya ini menarik. Ah masa? Tapi setiap pertemuan mereka kelihatan begitu jumawa dan meng-underestimate saya kok. Sekedar melirik dan memberikan tangannya dengan berat untuk menyalami sampe saya pikir dia kursus kepribadian sama ratu Inggris sangking ningratnya. Memandang saya sebelah mata seakan-akan saya belum lulus pentohir istri pendeta yang entah dimana dilaksanakannya itu. Ah masa pengalaman kami sama?

Komentar suami saya menarik sekali. Menurut dia, sama. Semua mendapatkan kritik. Tidak ada yang imun. Saya masih mending dikritik sekali-sekali. Ada isteri pendeta yang tiap sabat dapat kritik. Saya masih mending, kritik datang sekali dalam 3 tahun, kemungkinan di awal masa pelayanan. Setelah saling kenal tidak ada kerepotan lagi. Isteri pendeta yang lain dari awal sampai akhir dikritik terus. Pulang gereja nangis terus. Lhhhaaa? Saya pun bengong-bengong mencernanya. Yang membedakan cuma satu, untuk mereka kritik keluar kuping kanan. Untuk saya, saya masukkan ke hati. Whoaaaaa. Lalu sikap sok ningrat setiap bertemu itu cuma tameng jaim. Healaaa.

Saya tidak suka dikritik. Buat saya tidak ada  kritik membangun. Membangunkan kemarahan iya. Tapi saya juga tidak suka sikap sok ningrat sekedar tameng jaim itu. Bikin orang lain merasa tidak nyaman. Saya tidak mau jaim, saya tidak mau sok ningrat. Let I be myself.

Mengajar Anak

Standard

Saya sebenarnya suka mengajar anak-anak. Sejak awal pelayanan saya merasa terfokus dan terpanggil untuk melayani dan mengajar anak-anak.

Kenapa saya mulai tulisan ini dengan ‘sebenarnya’? Mari lanjut, nanti tahu.

Di pelayanan pertama saya, saya tidak mengajar anak-anak. Sekedar bercerita — sesi cerita anak-anak di khotbah, ya saya ambil bagian. Saya tidak sombong mengatakan I am mastering the children story telling. Karena sementara saya cerita, biasanya anak-anak fokus mendengar, ikut tertawa, menjawab dan merespons dengan emosi.  Di pelayanan kedua saya, saya mulai mengajar kelas anak-anak. Tidak banyak anggotanya. Paling banyak 5 orang. Tapi mereka tidak punya resources. Jadi saya mencari jalan, supaya ada pinsil berwarna, buku gambar dan sejumlah keperluan lain untuk dipergunakan.

Pelayanan ketiga lebih menantang. Pemimpin pelayanan anak-anak tidak merasa perlu bantuan. Jadi saya juga tidak memaksa. Yang menjadi tantangan, ada orang-orang yang merasa bisa mengajar anak-anak, namanya tertulis sebagai guru PAA, tapi muncul di gereja setelah setengah sebelas pagi, setelah hampir mau Di Hadapan HadiratHu. Yang berikut-berikut nya saya kemudian tidak pernah berhenti mengajar anak-anak. Entah anggotanya cuma 8 atau 18. Cuma sekedar bisa nyanyi dan ayat hafalan di sabat 13, sampai bisa bikin drama dan ansamble angklung. Apapun saya jalani dengan semangat melayani dan mengabdi.

Tapi ada yang menyurutkan semangat bandung lautan api itu.

Anak-anak yang tidak bisa diajari.

Mungkin kata-kata ini terasa begitu keras. Tapi demikianlah perasaan saya.

Lebih keras lagi adalah anak-anak tersebut tidak bisa diajari, karena orangtuanya di rumah memang tidak pernah mengajari.

Saya pernah buat peraturan di kelas, siapa saja yang ngupil, tolong keluar kelas. Turun ke lantai satu, entah untuk membersihkan diri or whatever (toilet di lantai 1). Saya berlakukan peraturan ini karena entah mengapa anak-anak suka ngupil di kelas. Suatu hari seorang anak kedapatan. Saya suruh turun. Pengaduannya kepada orangtuanya adalah dia tidak ngupil, bahkan tidak memegang hidungnya. Bah, masa mau saya buktikan dengan mencari kotoran hidung dibawah kursinya? Tapi, saya observasi memang anak ini tidak akan pernah jujur kepada orangtuanya sendiri. Dia lebih baik menggigit temannya di kelas *dengan alasan digangu, menusuk temannya dengan gunting *karena tidak mau dipinjam, daripada mengaku dengan jujur. Kenapa? Karena dia tahu, seperti yang sudah sering terjadi, orangtuanya akan datang dan marah-marah kepada gurunya (saya), membela si anak dan menyalahkan si guru.

Saya pernah buat peraturan lain. Asal tahu aja, peraturan saya tidak pernah buat di awal tahun, pasti di tengah-tengah, setelah sesuatu terjadi, atau sesudah saya berhasil mengobservasi kebiasaan kelas. Peraturan ini adalah menghafal ayat hafalan. Yang tidak menghafal yang saya omeli, atau tidak diberi lembar kegiatan kelas. Sayangnya, alih-alih semangat menghafal naik minimal karena takut diomeli atau karena kepingin mewarnai lembar kegiatan kelas, anak-anak malahan menghindari kelas. Tidak masuk karena takut akibat tidak menghafal. Apa yang bisa saya lakukan? Kalau orangtuanya mengijinkan mereka bolos kelas akibat tidak menghafal ayat yang cuma dua kalimat, masakan saya harus lebih perduli terhadap nasib dan masa depan mereka? Jika orangtua nya tidak perduli anaknya mau jadi baik atau jadi cuek, apa saya harus menggebu-gebu?

Dan yang paling susah menerima jika saya disebut guru yang galak. Tegas ya. Galak? Oh come on. Galak artinya benar atau tidak, ada kesalahan atau tidak, saya pasti marah-marah. Galak itu artinya saya ngomel tanpa rem. Saya tidak menganggap tindakan saya galak. Kalau saya galak, tidak mungkin ada satu pelajaran pun yang masuk kepala anak-anak itu. Tapi dimanapun saya, saya selalu berhasil mengajar anak-anak menyanyi, lagu-lagu baru, lagu-lagu berbahasa asing, dengan gerakan. Tidak galak dong? Haha. Tapi tujuan saya bukan sekedar mengajar menyanyi, tapi juga mengajar anak-anak bahwa gereja adalah rumah Tuhan, dimana anak-anak tidak bisa sembarang keluar masuk terutama di jam khotbah. Saya ingin mengajar bahwa Tuhan sangat baik sehingga anak-anak bisa ngobrol dan tertawa bersama-sama dengan Tuhan kapan saja. Saya ingin anak-anak tahu bahwa orang-orang yang sukses dan berhikmat di dunia ini dan nanti di surga adalah orang-orang dengan disiplin untuk belajar dan bekerja keras, bukan orang-orang malas dan suka melawan. Tapi bagaimana caranya saya mengajari mereka hal-hal tersebut jika orangtua mereka saja tidak mengajari mereka hal-hal tersebut? Saya hanya ketemu sekali seminggu beberapa jam, sementara orangtuanya setiap hari bersama mereka. Jika orangtuanya sedikit perduli, setidaknya orangtuanya tidak malah melaporkan saya kepada majelis dan pendeta sebagai guru galak? Ewwh.

Ampuni saya kalau bara semangat padam seperti disiram air hujan.

Kesombongan Rohani

Standard

Saya penggemar social media. Belum luar biasa addict, tapi paling tidak saya punya account yang dipelihara di beberapa soc med populer. Twitter, Instagram, Facebook, Path, Pinterest, Tumblr. Apalagi ya? Socmeds ini saya gunakan untuk menggali informasi. Saat gempa di Jakarta, beberapa detik kemudian twitter sudah dipenuhi kicauan tentang gempa dan trending topik langsung berubah. Sebentar saja saya tahu daerah mana saja yang terguncang hebat, terguncang biasa atau malah hanya bergetar sedikit. Itulah fungsi socmed paling penting buat saya. Sharing informasi.

Facebook adalah salah satu media sosial yang paling banyak penggunanya. Hampir semua orang punya akun facebook dan membukanya secara teratur. Buat saya facebook itu saya berguna untuk mengupdate situasi terkini orang-orang yang saya kenal — tergabung dalam klub facebook friends saya. Sebelum ada facebook, saya harus angkat telepon dan tanya : “Apa kabar?”. Setelah ada facebook, saya tinggal cek postingan. Jangankan event penting seperti pernikahan dan melahirkan, event liburan bersama, makan bersama, kumpul-kumpul semua diposting di facebook. Update status tidak dibatasi, kalau sangat update boleh tiap jam sekali ganti. Saya tahu kalau ada yang jalan-jalan ke luar negeri, kalau ada yang pulang kampung, kalau ada yang sedih karena putus cinta, bahkan kalau ada yang sekedar kebelet  ingin ke toilet tapi macet berat.

Di facebook juga boleh posting quote, atau artikel atau sekedar nge-like artikel yang populer. Dan disinilah masalah saya. Saya sungguh tidak keberatan  mau orang liburan ke Kutub Utara sekalipun. It is fun to see the pictures. Tapi saya masalah kalau orang update status bersifat kerohanian, posting artikel rohani dan nge-like artikel rohani.

Masalah kerohanian untuk saya seperti masalah pakaian. Ada dua macam pakaian. Pakaian dalam dan pakaian luar. Bayangkan jika seseorang hanya mencuci dan mengganti pakaian dalamnya tapi tidak pakaian luarnya. Bau. Bayangkan jika seseorang hanya mencuci dan mengganti pakaian  luarnya tapi tidak pakaian dalamnya. Bau. Sama saja. Setiap hari pakaian dalam dan pakaian luar harus diganti dan dicuci.

Banyak orang yang saya tahu hanya mengganti bagian luar atau bagian dalam saja. Terserahlah yang mana. Hanya mengupdate status tentang renungan pagi dan sore. Memposting renungan dan ayat-ayat alkitab. Nge-like artikel-artikel rohani yang menyangkut Ellen G. White. Tapi berhenti di situ saja, lalu merasa bahwa kehidupan kerohaniannya sudah sempurna.

Tunggu dulu, jangan emosi sebelum mengambil cermin dan berkaca. Refleksi dulu. Am I like that?

Saya mengenal banyak orang Advent yang merasa kehidupan kerohaniannya sudah sempurna. Saya tidak tahu mengenai orang Kristen dari denominasi lain, mungkin juga ada, mungkin juga banyak, who knows. Tapi Advent? Yes. A lot.

Saya kenal orang-orang dengan kesombongan rohani karena pintar main piano. Lupa bahwa hikmat dan talenta main piano itu ada anugerah dari Tuhan. Setiap bermain piano terdengar  dentingan yang berlebih-lebihan dan obvious dimainkan sekedar supaya orang tahu bahwa dia pintar main piano. Saya pernah tergoda juga untuk melakukan hal itu. Tapi untungnya malaikat bekerja lebih cepat menguasai pikiran saya daripada emosi kemanusiaan saya. Siapa yang tidak kepingin dipuji-puji karena pintar dan hebat main piano? Saya yakin hampir semua pemain piano gereja pasti senang dipuji. Pemusik-pemusik dengan kesombongan rohani ini sangat rentan dengan rasa iri. Tidak senang jika ada pemusik lain yang sama bagusnya dengan dia. Tidak bahagia mendengarkan lagu yang dibawakan oleh penyanyi lain — dan sibuk mencela, kurang inilah kurang itulah. Tidak memberi ruang untuk pemusik yang diangggapnya saingan atau kurang pintar dalam ruang pelayanan. Memonopoli acara, menolak bekerjasama, menganggap cuma dia yang paham dan bisa,  dan sederetan hal negatif lain sebagai akibat keblingernya dia.

Kesombongan rohani lain adalah dari orang-orang yang merasa sudah paham Alkitab. Lebih paham daripada pendeta-pendeta yang kuliah lima tahun untuk S1, tiga tahun untuk S2, dan lima tahun untuk S3. Semua pembicaraan di diskusi pelajaran sekolah sabat disikat menjadi milik pribadi. Jika ada pengkhotbah yang membawakan sebuah pendapat yang berbeda dari yang biasa didengar, langsung ditentang habis-habisan, dan bahkan diusir dari mimbar. Tidak ada ruangan untuk setuju untuk tidak setuju. Semua harus homogen dan satu paham. Entah kenapa, banyaaaaak orang Advent seperti ini. Merasa lebih jago, lebih paham, lebih mengerti, lebih berhikmat daripada yang lainnya. Sampai-sampai di milis perdebatannya bukan lagi ilmiah tapi lebih kepada debat kusir. Malaikat-malaikat pun malas mengikutinya sangkin ga mutunya.

Kesombongan rohani yang lain adalah dari orang yang merasa lebih rohani dari  orang lainnya. Mungkin karena anggota majelis. Mungkin karena pernah menyumbang banyak untuk pembangunan gereja. Mungkin karena pernah bergaul dengan officer-officer Konferens, Uni, Divisi atau GC. Mungkin karena terlibat dalam KKR atau evangelistic meeting lainnya. Mungkin pernah diutus menjadi misionaris. Bermacam hal. Tolong diingat, saya tidak mengeneralisasi. Hanya sekedar menjembreng kemungkinan-kemungkinan. Karena mustahil orang punya kesombongan rohani kalau dia hanya kostor *mungkin ada, tapi satu diantara sejutalah, dan agak aneh jika orang punya kesombongan rohani jika menyumbah sejuta perak saja belum pernah. Masalahnya dengan yang ini adalah kehidupan sehari-hari nya bisa jadi bertolak belakang dengan update status nya. Saya kenal orang-orang yang sibuk update status rohani, tapi juga sangat keras kepala saat berada di majelis. Tidak mau berkompromi untuk kepentingan bersama. Saya kenal orang-orang yang sibuk pasang ayat alkitab tapi disaat yang sama juga menyebarkan gosip jelek tentang orang satu gereja. Saya kenal orang-orang yang seolah-oleh penggemar sejati Ny. Ellen White, tapi sudah bertahun-tahun tidak mau memaafkan saudaranya sendiri, dan tidak berbicara dengan saudara-saudaranya sendiri. Ada malah yang bilang: kalau saudaranya ke surga, dia tidak mau pergi ke surga. Waduh. Katanya Kristen, katanya Advent, tapi kesombongan rohani nya luar biasa tinggi sampai tidak mau mengampuni. Percuma Yesus menasehati dengan pengampunan 7×7, percuma ikut pendalaman alkitab, percuma belajar sekolah sabat.

Dan sayangnya saya kenal banyak. Malaikat juga tahu.

Saya sudah selesai bercermin, mudah-mudahan cermin ini bukan KW sehingga refleksinya blur. Saya tidak ingin hidup dengan kesombongan rohani. Sebenarnya juga menyesali memandang orang yang yang hidup dengan kesombongan rohani entah menyadarinya atau tidak.