Tag Archives: Children Ministries

Two Nights Camp Out

Standard

Retreat Jemaat tahun ini tempatnya sama dengan tahun lalu.  Sebenernya, yang terjadi, begini: pemesanan adalah untuk sebuah villa di sukabumi. Seminggu sebelum hari H, pemilik villa menginformasikan bahwa pada tanggal H tersebut villa ga boleh digunakan untuk kebaktian sehubungan dengan bulan puasa dimana masyarakat sekitar keberatan dengan kegiatan kerohanian. Hmm….untungnya villa Romi where we’ve been last year still available.  Jadilah, kita ke Villa Romi.

Anak-anak kelas kemajuan punya goal tersendiri untuk menyelesaikan kelas Camping.  Kak Silvi membawa dua tenda.  Satu tenda berukuran super guede, dengan tiga kamar, bisa muat hingga 12 anak-anak.  Jadilah semua anak-anak tidur di tenda.  Belakangan, ternyata ada beberapa yang tidak tidur di tenda, dengan alesan: dingin!  😀

Seperti juga tahun lalu, acara sabat dan minggu ditailored untuk keperluan anak-anak menyelesaikan tuntutan kelas.  Dengan jenis kelas yang lebih fokus, tidak banyak variasi, tetapi lebih ‘dalem’, anak-anak belajar untuk benar-benar belajar, bukan cuma ikut-ikutan.  Catatan tahun ini juga, anak-anak kecil banget engga dibuka kelas tersendiri.  Sayang kalo seperti taun lalu, dimana anak-anak kecil tidak terlalu tertarik, dan lebih suka lari-larian (biarin deh, di kota susah mo lari-larian di tanah lapang)

Gw selalu sangat berharap, bahwa lewat semua kegiatan ini, lewat semua kehebohan, kekacauan, anak-anak ini akan bertumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang alami dan netral tanpa kebiasaan memanipulasi fakta, menjegal teman dan egois. 

Ini foto anak-anak Pathfinder yang sedang mengerjakan tandu dan rakit.  Rencananya rakit akan dicobakan di kolam renang.  Berhasilkah? 😛

Advertisements

KKR Anak Wilayah 12

Standard

Minggu-minggu yang lalu, gw merasa cukup sibuk dengan kegiatan pelayanan anak-anak.  Setelah acara Sabat ke -13 yang tidak gw hadiri…(hehe)…dimana anak-anak membuat sebuah drama singkat plus menyanyikan lagu-lagu yang mereka sudah kuasai sebelumnya, minggu depannya mereka latihan cepat untuk KKR anak-anak.

KKR nya tidak mendadak, cuma partisipasi dari kitanya aja.  Ada sedikit miskom.  Kalo dari sisi gw-nya, memang engga pernah dapet undangan rapat.  But, anyway…anak-anak yang memang udah pernah berkhotbah-lah yang dilatih.  Aless, untuk hari Sabat.  Jeremi, Gaby & Michelle untuk giliran malam.  Kebagian pas malam sabat.  Julio Cs nyanyi satu kali malam jumat.  Jeremi Cs nyanyi satu kali malam sabat. Nick, yang sebenarnya sudah meninggalkan kelas Power Point, dipanggil lagi untuk Khotbah kesehatan kamis malam.  Nick memilih topik Memelihara Kesehatan Hewan Peliharaan, sesuai dengan interest nya kepada hewan. Karina juga dipanggil terakhir untuk Khotbah kesehatan Jumat malam, bertema Memilih Jajanan.

Mereka semua dapet waktu seminggu untuk latihan, kecuali Gaby yang memang akan mengulang khotbah yang ia bawakan di acara sabat khusus anak-anak .  Bagusnya adalah, yang sangat gw syukuri, latihan-latihan selama ini bukan sekedar membentuk mereka untuk mampu berkhotbah, tetapi juga mampu beradaptasi cepat dengan bahan khotbah.  Kualitas yang mereka tunjukkan bukan lagi semata-mata hasil latihan.  Ibarat pembentukan tabiat, sekarang tabiat itu sudah terbentuk.  Talenta-talenta yang berpotensi menjadi karunia, sekiranya anak-anak ini dengan sukarela menyerahkannya ke tangan Tuhan. 

Gw ingin sedikit menyoroti tentang bahan khotbah di KKR Anak-anak… Berbicara tentang mimpi Nebukadnezar, simbol-simbol patung, kerajaan 1000 tahun plus kematian dan kebangkitan memang bagus but kelihatannya masih terlalu berat untuk anak-anak.  Entah kenapa para petinggi yang menyebut diri mereka pendidik, pemimpin pelayanan anak-anak di tingkat-tingkat tinggi organisasi kelihatannya gagal memahami jiwa anak-anak.  Mungkin benar bahwa beberapa dari anak-anak itu akan memperhatikan isi khotbah? Berapa persen?  Tapi jelas, bahwa jenis bahan khotbah seperti itu tidak akan merangkul semua anak, mulai usia 4 hingga 14 tahun.  Hasilnya adalah suara lebah keluar dari sarang mendengung hampir di sepanjang khotbah.

Hasilnya tentu akan beda, jika khotbah itu menyangkut sebuah topik yang berada dalam dunia anak-anak.  Permainan, teman, makanan atau tempat wisata.  Gw ga berniat sombong ketika mengatakan bahwa anak-anak yang membawakan khotbah dan ceramah kesehatan yang gw susun, setelah membawakannya dengan baik, artinya dengan suara tenang, lantang, tegas, telah menjaring perhatian audiens hingga 85 persen.  Sisa yang masih ribut, adalah suara-suara orang-orang dewasa yang berceloteh diantara mereka sendiri dan men-distract perhatian.   Kenapa justeru gw, yang ga punya latar belakang bidang pendidikan, bukan seorang direktur departemen, yang berpikir sedemikian ini.  I wish in the future, dipilihlah seorang yang berwawasan untuk menjadi direktur departemen pelayanan anak-anak, di berbagai tingkat, di Konferens, di Uni, atau di Divisi.  Bukan cuma milih, karena kebeneran suaminya ketua divisi, atau officer uni, atau karena udah malang melintang menjadi guru di sekolah gereja. 

Hal kedua yang juga menurut gw ga sesuai di KKR anak ini adalah, bahwa pemimpin di organisasi menyarankan (dan sedikit memaksa) adanya panggilan di malam terakhir.  Gw ga setuju bukan karena panggilan itu salah, hanya saja, what to expects from children that is mostly are in primary age?  Anak-anak tidak biasanya membuat keputusan sepenting itu sendiri, apalagi anak-anak di dunia timur ini, dimana adat istiadat masih kuat, dan orangtua adalah figur yang penting dalam pengambilan keputusan.  Orangtua lah yang berperan mengkomunikasikan kepada anak-anak tentang pentingnya baptisan dan bertanya kepada mereka apakah memang mereka memiliki suatu kerinduan untuk baptisan.  Tidak sedikit orangtua yang ‘maksa’.  Tapi gw jarang sekali mendengar anak-anak yang mengambil keputusan tanpa campur tangan orangtua.  Budaya Indonesia seperti itu adanya.  Berbeda dengan kebudayaan barat dimana anak-anak memiliki kebebasan tersendiri dan mereka selalu merasa berhak untuk itu.  Di Indonesia, jangankan anak usia Primary, gw aja yang di atas kertas udah jauh diatas 17tahun-ke-atas, sering-sering dianggap anak kecil oleh ibu gw. Disuruh-suruh salam menyalami dan bolak-balik memperkenalkan diri kepada orang-orang yang dia anggap sodara-sodara yang perlu dituakan.  Tidak ada yang namanya penghormatan kepada anak, berapapun usianya.   Berbekal dari pengetahuan itulah maka gw pikir panggilan di malam terakhir itu hanya akan efektif jika orangtua masing-masing anak-lah yang mengkomunikasikan hal itu.  Kalo di Amerika/Venezuela statistik menunjukkan bahwa anak usia 6-14 tahun banyak yang mengambil keputusan baptisan, itu tidak serta merta berarti di belahan dunia yang lain akan juga didapatkan statistik yang sama.

Well, in overall, untuk anak-anak di Pamulang, KKR ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.  Hari sabat, saat anak-anak main angklung, membawakan panggung boneka, dan mendengarkan Aless yang membawakan khotbahnya secara luar biasa tenang, mereka sekali lagi mendapatkan pengalaman dan pertumbuhan rohani yang positif.

Catatan kecil: Aless berharap juga dapat piala, seperti Jeremi, Gaby, Michelle, Nick & Karina yang tampil sebagai pembicara, dan mendapatkan nya pada malam sebelumnya.  Sayang nya untuk dia ga tersedia.  Hmm….

Sabat Khusus Anak-anak 2008

Standard

Tema acara sabat khusus anak-anak taun ini adalah “Orangtua mengajar kami menginjil”.  Idenya seperti parents day, setiap anak yang berkhotbah akan didampingi oleh orangtuanya, dan bersama-sama berkhotbah.

Michelle didampingi ompungnya. Michelle and ompung berkhotbah tentang keperdulian terhadap lingkungan dan sesama.  Suara Michelle jernih, dan suara ompung berwibawa.

Gaby didampingi mamanya.  Dengan sedikit demonstrasi berupa air yang diisikan ke gelas, dikocok dengan kopi, menggambarkan kehidupan manusia yang dikotori oleh dosa.  Anak-anak memang memerlukan visualisasi.  Selama Gaby berkhotbah, dengungan tawon berkurang dengan drastis.

Jeremi maju sendirian, tapi sebenarnya didampingi amongnya untuk drama Daud dan Goliat.  Penampilan Jeremi agak mirip Daud, sang gembala, dengan balutan kain-kain di sekeliling pinggang dan kepalanya.  Penampilan Among agak mirip Goliat, karena perisai, baju zirah, helm dan pedang raksasa dari karton hitam, plus tombak.  Goliat tentu saja rebah kena batu dari ali-ali Daud.  Jika Tuhan beserta kita, kepada siapa kita harus takut?

Ales menutup rangkaian khotbah dengan kesimpulan untuk anak-anak menginjil.  Didampingi papanya, Ales yang sudah tiga tahun berturut-turut berkhotbah memperlihatkan kematangan berbicara karena pengalaman.  Suaranya jernih dan kata-katanya teratur. 

Seperti tahun sebelumnya, Jennifer memukau dengan suaranya yang merdu.  Julio, Jay dan kakak-kakaknya memberi warna yang berbeda dengan seragam hitam putih mereka, di antara lautan anak-anak dan jemaat ber dress code pakaian batik.  Ibu Hutagaol komentar: “Kok jadi seperti kondangan?” Memang ini kondangan, mengundang anak-anak untuk merayakan sebuah pesta rohani khusus untuk mereka.  Mengundang anak-anak untuk menikmati firman yang diperuntukkan khusus untuk mereka.

Gereja penuh dan tambahan kursi hingga maksimal.  Makanan potluck berlimpah ruah, dan semua tamu dapat hadiah. Bagus juga jika sabat tamu dan sabat anak-anak dilakukan paling tidak 2x setahun?  Walaupun suasana agak sedikit berisik, karena tidak semua tamu-tamu beragama advent dan tidak terbiasa duduk tenang berjam-jam di gereja, in overall, suasana kebaktian nya indah. 

Panggung boneka, yang kali ini gw tekel bersama-sama dengan Ibu Yanti, ternyata makan waktu sampai 15 menit. Selama bermain di panggung boneka, gw merasa ada yang narik-narik boneka yang gw pegang.  Waktu gw puter rekamannya…hahaha…Melvin tak henti-hentinya mengganggu si boneka, ternyata!

Adventurer di Dusun Kunjani

Standard

Minggu yang lalu kita kebaktian di alam.  Dusun Kunjani, daerah Rawakalong, Gunung Sindur dan sekitarnya ~aih!~  Sekalian sabat rumahtangga sekalian penamatan kelas kemajuan.  Dusun Kunjani kita sewa ~termasuk satu aula, tapi ga termasuk sound system~~ seharga 1,2jt untuk seharian.  Menurut gw mahal! ~~atau emhael menurut istilah temen gw Annah~~  Perhitungannya adalah satu orang bayar masuk 25rb rupiah.  Kenapa semahal itu ya, padahal ga termasuk makan? Engga jelas gw juga. Tapi dengan harga segitu, seharian, seluruh wilayah Dusun Kunjani menjadi milik kita.

Kebaktian pagi reguler kita duduk di dalam aula yang berkarpet.  Semua jendela dibuka dan van di langit-langit kayu berputar full. Jadi adem. Walopun ternyata banyak juga anggota yang engga ikut, acaranya tetep seru dan meriah.  Waktu sekolah sabat, anak-anak turun dan menyebar di rumput-rumput bikin acara di kelas masing-masing.  Belum-belum mereka udah heboh berlarian kesana-kemari.

Acara makan siang di depan danau buatan yang butek banget aernya.  Sebenernya berasa seperti makan di depan comberan di tanah abang…haha…Mungkin karena suasananya relax, orang jadi merasa cukup laper. Cuma sepuluh menit setelah makanan dihidangkan antrian langsung abis dan meja kosong.  Makanan cukup banyak walaupun banyak juga yang ga jadi dateng dan bawa potluck.

Acara sesudah makan siang adalah track and trail untuk anak-anak kelas kemajuan dan diskusi seputar topik rumahtangga untuk kaum dewasa.  Salah satu game yang menurut gw cukup mengesankan adalah, waktu audience dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok harus bikin sebuah rok dari enam potong karton yang dibagiin.  Hasilnya bener-bener menunjukkan taste dan kreatifitas anggota kelompok.  Walopun yang dimenangin oleh juri satu-satunya Tante Relly adalah kelompok yang bikin rok dengan belahan samping dan digambarin bunga dengan spidol ~~catetan: ampir semua kelompok menggambari kartonnya dengan gambar bunga~~ gw lebih suka dengan rok yang dipake sama Elira.  Anggota kelompoknya memang orang-orang kreatif yang berpikir out of the box. 

Satu catatan gw di acara ini.  Mengapa ya selama acara berlangsung, ada kelompok yang memilih untuk ngobrol-ngobrol aja di tempat lain. 

Acara berikutnya, yang harusnya dimulai jam 3 tapi molor jadi jam 4 adalah Penamatan Kelas Kemajuan.  Gw seneng karena walaupun tanpa konsep yang jelas, acara ini berlangsung unik dan menarik.  Setiap anak diberi kesempatan untuk membuat suatu presentasi atau demonstrasi sesuai dengan kelas-kelas yang mereka udah ambil. 

Sedikit komentar disini.  Ada seorang anak yang sejak tiga minggu yang lalu trouble buat gw.  Waktu gw cek persiapannya, dia bilang belum…dengan alasan: belum aja.  Akhirnya, Surti duduk dengan dia mencarikan bahan-bahan untuk presentasinya.  Minggu lalu, waktu rehearsal, dia bilang belum.  Lebih parahnya lagi dia nanya balik, tugas saya apa?  Notification tentang tugasnya udah berjalan satu setengah bulan yang lalu.  Anak-anak lain walaupun belum mateng banget, tapi paling engga draft-draftnya aja udah keliatan.  Tinggal dipoles. Sementara dia mentahnya aja belon keliatan. Maka gw  memberikan kesempatan kepada temen-temennya untuk memutuskan apa yang harus dilakukan untuk dia.  Temen-temennya memutuskan bahwa dia tetep harus membuat presentasinya dan kalo gagal harus siap untuk ga naik kelas.

Waktu gw panggil ke depan dan gw suruh presentasi, dia lalu berujar: “kata bapak saya engga usah bikin!”  Temen-temennya lalu ber “uuuuu….aaaaa…uuuuu” dengan kecewa. 

Ada hadiah yang sudah disiapkan untuk untuk 6 orang anak yang mendapatkan Honour, karena kerajinan dan ketepatan mereka.  Sebenernya gw berharap lebih banyak anak yang dapet, terutama anak-anak yang selama ini kurang aktif.

Angklung di Perona 2008

Standard

Perona (Pesta Rohani Anak) Se-DKI Jakarta dan sekitarnya, tahun yang lalu, pengalaman anak-anak cukup pahit.  Begitu sampai di Cibubur, lokasi acara, jam sembilan pagi, dan mengecek buku acara, udah langsung down-down-down-to-bouncy-town, karena dapet giliran ke -99!

Sepagian acara di dalem gedung juga lumayan membosankan.  Ada drum-band, yang sebenernya ga perlu-perlu amat, secara yang hadir kebanyakan anak-anak, tentu ga tertarik melihat om om, ada kotbah yang panjangnya lebih dari kereta api, drama yang waktunya kelamaan padahal ga asik, pengkhotbah cilik yang adalah anak sponsor padahal materinya biasa ajeh dan puluhan hal-hal ga worthed to see lainnya. Tahun lalu, gw pussssinng banget.  Tereak kanan, tereak kiri, bolak-balik muterin seluruh area nyari-nyari anak-anak yang berlari-larian dan ngilang.  Suara abis, hati bete, badan cape.  Maka, waktu bulan Mei lalu keluar pengumuman Perona, kita ga terlalu tertarik.

Tapi Direktur Departemen Anak-anak secara kebetulan melayani di jemaat kita dan dengan persuasif berhasil membuat kita ikut.  Beliau berhasil meyakinkan Koordinator Pelayanan Anak-anak, bahwa kekacauan tahun lalu ga akan terjadi.  Bagusnya, memang tidak terjadi!

Begitu dateng, aku disodorin buku acara yang memuat giliran kita jam 09:57. Sounds very good!  Kenyataannya agak molor sedikit, baru jam 10:30 kita tampil.  Tapi ga kecewa, karena memang masih dalam format acara.  Karena kita main angklung, kesannya agak istimewa dari jemaat-jemaat lain yang kebanyakan menyanyi koor.  Yang perlu digarisbawahi cuma: ternyata jemaat-jemaat lain well-prepared semua, walaupun nyanyiannya ga istimewa, semua anak memakai baju batik yang seragam.  Keren banget!

Gw juga harus memuji ternyata jam 3 sore acara udah kelar! Gitu dong…anak-anak ga terlalu cape, dan cukup waktu untuk have fun tanpa banyak komplikasi omelan.  Cukup makanan, cukup main, cukup hadiah….

Making Music

Standard

dsc02096.jpg

Selaen alat musik afrika ~~yang dikarang sendiri~~ mulai awal tahun ini, anak-anak mulai belajar main angklung.  Angklung-nya masih seadanya, hasil dari sumbangan sana-sini, kadang-kadang suaranya not in-tune ~~gw baru juga tau kalo nada dasar angklung itu bisa beda-beda dan gw belon tau cara ngebedainnya kecuali setelah dibunyiin, yang mana artinya kudu dicobain satu-satu :)~~ 

Anak-anak ternyata susah diajarin pake tangan, pake jari atau baca not yang ditunjuk.  Terpaksa harus ditunjuk satu-satu…yang menimbulkan efek kejut, yaitu baru bunyiin angklung waktu ditunjuk.

Anyway, it did sounds like a song!

Happy New Year

Standard

Sabtu kemaren kita ngadain acara taun baruan bersama semua anak-anak, di rumahnya Melvin.  Belajar dari keresehan taun lalu, kita memutuskan untuk mengadakannya setelah taun baru, daripada deket waktu natalan, untuk supaya semua seneng aja.  Acara taun baru-an ya persis dengan acara lainnya….bikin games, bikin quiz…main-main, seru-seruan….nyanyi, renungan….makan, tuker kado.

Khusus acara ini gw ga nyediain kado khusus.  Sepanjang tahun anak-anak udah dimanjain dengan bermacam-macam hadiah.  Selain hadiah SS XIII, ada hadiah APTA, ada hadiah retreat, ada hadiah hari tamu, ada hadiah khusus untuk yang rajin nyatet khotbah, ada hadiah khusus untuk yang rajin meringkas bacaan….dikasih kaset, buku renungan harian, mainan, makanan, buku bacaan, buku aktivitas, sampe terakhir sekali dikasih alkitab.

Jadi apa kesimpulannya?

Gw cukup lega karena tahun kemaren acara anak-anak terlaksana sesuai program.  Semua juga berlangsung dengan bagus, memuaskan dan berkesan.  Gw lega karena masalah pendanaan bisa diatasi, dan gw lega karena orang-orang terkesan dan merasa bahwa memang program kelas anak-anak itu penting.  Membuat orang-orang yang ga perduli menjadi perduli adalah behavior change yang mahal banget harganya, terutama buat gw pribadi.