Category Archives: kelas anak-anak

Music for Life

Standard

Lebih dari enam bulan belakangan ini, anak-anak Galilea kembali digiatkan dengan kegiatan kelas kemajuan.  Karena itu kegiatan membuat prakarya berkurang.  Siang hari sehabis kebaktian digunakan untuk latihan biola *nah, ini memang baru* dan kelas-kelas.

Tentang biola, tahun 2011 kekompakan tim semakin kuat.  Tahun 2009 dimulai dengan musik gedumbrangan menggunakan kaleng-kaleng bekas, menggantikan perangkat perkusi.  Tahun 2010 maju dengan angklung, dan tahun 2011, instrumen biola menjadi iringan tetap di acara kebaktian baik sekolah sabat maupun khotbah.  Ada anak-anak yang cepat maju dan mampu membaca not balok lagu mana saja, dan ada anak-anak lain yang lumayan bisa ikut-ikut walaupun tidak mahir.  Setidaknya, semuanya belajar kooperatif satu dengan yang lainnya, menajamkan sense musikalitasnya dan terutama roh pelayanan kepada Tuhan.

Saat Kongres Anak di Bandung, anak-anak Galilea bergabung dengan jemaat Kota Wisata, memainkan biola dan menyanyikan dua lagu.  Sangat disayangkan kualitas microphone-nya kurang memadai sehingga penampilan tidak maksimal.  Anak-anak merasa kecewa karena menyadari suara mereka tidak terdengar bagus dan karena melihat para juri menggeleng-gelengkan kepalanya *ini suatu kritik membangun, kalau merasa cukup bisa menjadi juri anak-anak harusnya sadar betul bahwa anak-anak adalah mahluk yang bisa sangat sensitif merespon tindakan orang lain.  saya juga mau mengkritik pihak panitia yang tidak suka test-mic, mengakibatkan hal-hal yang tidak diharapkan seperti itu.  setelah terjadi hal yang kurang baik, baru di acara pagi hari mic-nya diganti*

Dari pengalaman bermain biola di acara-acara kebaktian di gereja dan di acara-acara lainnya juga, seperti acara PA Gabungan mudah-mudahan tahun depan lebih semangat untuk belajar main biola dengan lebih baik! Main biola tidak terlalu sulit asal suka belajar dan mau berlatih.  Anak-anak yang teratur berlatih mudah menerima pelajaran baru dan tidak ragu membaca not.  Harga biola juga tidak terlalu mahal *apalagi dibandingkan dengan harga piano :)* jadi hampir semua anak yang giat akan bergabung dalam tim. Cheers!

Advertisements

Semua Boleh Menyembah

Standard

Acara SS ke 13 yang dipercepat 2 sabat karena sabat ke 12 dan ke 13 akan banyak acara lain seperti Perjamuan Suci dan Hari Ibu.

Drama-nya tentang kelahiran Yesus, tapi tidak menampilkan Yusuf, Maria dan Bayi, melainkan segerombolan orang yang mencari sesuatu di dekat gua tempat Yesus lahir.

Pertama datang orang-orang Arab. Jeremi, Junior dan Ryan sebagai orang-orang Arab yang kaya datang mencari sumber minyak.  Steven sebagai penunggu gua berpikir bahwa mereka datang untuk menyembah bayi Yesus.

Lalu datang orang-orang India. Sharon, Patricia dan Fifin mencari barang dagangan dan karpet. Sama seperti sebelumnya, Steven sang penunggu juga kecele menyangka mereka datang untuk menyembah bayi Yesus.

Lalu datang Arvy dan Guruh, orang Majus yang telah melihat bintang dan mengikutinya.

Mereka datang untuk menyembah Yesus. Sayangnya, mereka menghalangi orang Arab dan orang India karena di alkitab dituliskan hanya orang Majus yang datang menyembah.  Hehehe.  Tapi akhirnya  semua orang boleh memuji Tuhan dengan menyanyikan sebuah lagu.

Dramanya sederhana, keliatannya kostumnya lebih ribets deh! Apalagi orang-orang India ternyata kesandung kain sari-nya sendiri? Marilah kita semua menyembah anak Allah.

Cerita Yang Nyata

Standard

Ada satu hal dari masa kecil saya yang membuat saya merasa ‘dicekoki’ dengan sebuah pengajaran yang salah. Beberapa dan terbilang sering, dongeng dan kisah tentang tiga orang bersaudara atau tiga orang anak, menempatkan anak bungsu sebagai anak yang paling bijaksana. Coba ingat-ingat….benarkah demikian?  Jika seorang raja memiliki tiga orang anak, maka ia akan memilih si bungsu sebagai penggantinya karena hanya si bungsu yang berhasil memecahkan teka-teki yang ia buat.  Jika tiga bersaudara dapat warisan, maka si sulung dan anak tengah akan menguasai harta benda hingga karma berpindah dan si bungsu hidup bahagia selama-lamanya. 

Padahal dalam dunia nyata, hal yang sebaliknya lah yang lebih sering terjadi. Karena itulah saya sangat setuju penokohan Yesus dalam perumpamaan Anak Yang Hilang!  Bukan sekedar memuji-muji kehebatan Yesus yang hanya seorang tukang kayu tidak pernah kuliah psikologi, tapi bukankah ternyata hanya Dia yang bisa mengarang sebuah cerita yang sungguh nyata? Tidak salah saya mengikuti jejakNya.

Baiklah. Tulisan ini masih lanjut. Dalam kisah-kisah sebelum tidur yang lain, seringkali diposisikan seseorang yang baikkkkkk banget dan seorang yang jahaaaaaat bangets. Nah. Ambil contoh Bawang Merah dan Bawah Putih ~~yang karakternya diadopsi oleh sinetron Indonesia~~.  Bawang Merah digambarkan begitu jahatnya hingga tidak ada sisi baik sedikitpun, dan Bawang Putih digambarkan begitu baik dan sempurna.  Contoh lain lagi, Cinderella yang terkenal itu. Merana diperlakukan sebagai budak tapi selalu tampil lembut dan sopan tanpa perlawanan sedikitpun.  Apakah mungkin seorang manusia yang normal bertingkah seperti itu?  Saya percaya tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup terus-menerus baik tanpa cela sedikitpun.  ~~sekali waktu saya pernah nonton Drew Barrymore bermain sebagai karakter Cinderella. Menurut saya baru itulah penokohannya masuk akal, karena Cinderella yang pekerjaannya menggosok lantai dapur bisa iseng mengerjai ibu tirinya~~

Penokohan-penokohan seperti itu membuat anak-anak dan manusia umumnya berpikir hitam dan putih. Bahwa manusia yang baik akan baik terus dan manusia yang jahat akan jahat terus. Mengapa seorang ibu dalam cerita anak-anak tentang Ayub bercerita begini: “Anak-anak jangan seperti isteri Ayub ya? Walaupun sengsara jangan pernah berpikir untuk mengutuki Allah.”  ~~saya juga pernah diceritai demikian bertahun-tahun yang lalu~~  Padahal, jika saja kita berdiri di tempat isteri Ayub mungkin juga kita akan mengatakan hal yang sama kepada pasangan kita. Ayub duduk di atas debu meratapi nasibnya saja. Bicara soal kehilangan, bukankah kehilangan yang ia rasakan sama banyaknya dengan yang dirasakan isterinya. Bahkan lebih, karena isterinya yang merasakan sakitnya melahirkan sepuluh orang anak dan yang berletih merawat mereka selama itu? ~~beberapa tahun yang lalu pelajaran sekolah sabat dewasa memperbaiki posisi isteri Ayub yang selama puluhan tahun menempati posisi sebagai si jahat ini~~

Karakter lain yang  juga sering diceritain kepada anak-anak sebagai tokoh yang kurang baik adalah Martha.  Saat Yesus dan murid-murid berkunjung ke rumah mereka, Martha sibuk di dapur menyiapkan santapan.  Ia mengharapkan bantuan dari Maria, yang selama itu duduk dekat dengan Yesus mendengarkan beliau berbicara.  Karena Martha tahu tidak akan yang lebih berkuasa daripada Yesus untuk menegur Maria maka ia meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya.  Lalu pencerita untuk anak-anak akan bertanya: “Siapa yang mau seperti Maria ? Siapa yang mau seperti Martha?”  Aha! Sekali lagi satu menjadi tokoh jahat dan satu lagi menjadi tokoh baik.

Saya menyakini Martha juga ingin untuk duduk-duduk mendengarkan cerita Yesus. Tentunya hal itu lebih menarik daripada berkeringat di dapur. Tapi Martha memikirkan kepentingan semua orang.  Ia tahu jika santapan terlambat disajikan, maka orang akan merasa lapar, dan pekerjaan penting Yesus yang berikutnya boleh jadi akan terhambat.  Yesus menegur karena seharusnya Martha bersukacita dengan bebannya, bukan karena Martha melakukan sebuah kejahatan.

Menutup tulisan ini, mudah-mudahan dimasa yang akan datang, setiap orang dewasa yang bercerita untuk anak-anak lebih waspada. Memaknai sebuah cerita bukan demi hitam dan putih atau baik dan buruk saja, tetapi menggali lebih dalam. Mengisahkan sebuah cerita yang nyata, seperti teladan yang telah diberikan Yesus sendiri.

Our Paper Farm

Standard

DSC05187

Sharon udah nongkrongin terus sejak mulai makan: “Kapan bikin project?” Sebenernya dia kepingin project origami yang memang udah dikasih liat contekannya dua minggu sebelumnya.  Tapi dipikir-pikir, origami ini terlalu mudah untuk anak seusia Sharon, anak kecil-kecil banget aja seharusnya bisa.  Jadi, ditawarkanlah jenis yang lain, gunting, lipet, lem, membuat miniatur sebuah peternakan, lengkap dengan hewan-hewan nya.

Ga terlalu susah seharusnya karena pattern-nya udah ada dan tinggal ngikutin aja.  Cuma memang melipat sesuai dengan ketentuan dan merekatnya ternyata tidak mudah, kebanyakan mengalami kesulitan karena kurang sabaran dan ingin cepat-cepat selesai.  Beberapa anak yang kreatif, menempelkan rumah tambahan dan aksesoris lain seperti antena TV di miniatur mereka.  Walaupun kegiatannya sederhana, ternyata makan waktu sampe dua jam!

Two Nights Camp Out

Standard

Retreat Jemaat tahun ini tempatnya sama dengan tahun lalu.  Sebenernya, yang terjadi, begini: pemesanan adalah untuk sebuah villa di sukabumi. Seminggu sebelum hari H, pemilik villa menginformasikan bahwa pada tanggal H tersebut villa ga boleh digunakan untuk kebaktian sehubungan dengan bulan puasa dimana masyarakat sekitar keberatan dengan kegiatan kerohanian. Hmm….untungnya villa Romi where we’ve been last year still available.  Jadilah, kita ke Villa Romi.

Anak-anak kelas kemajuan punya goal tersendiri untuk menyelesaikan kelas Camping.  Kak Silvi membawa dua tenda.  Satu tenda berukuran super guede, dengan tiga kamar, bisa muat hingga 12 anak-anak.  Jadilah semua anak-anak tidur di tenda.  Belakangan, ternyata ada beberapa yang tidak tidur di tenda, dengan alesan: dingin!  😀

Seperti juga tahun lalu, acara sabat dan minggu ditailored untuk keperluan anak-anak menyelesaikan tuntutan kelas.  Dengan jenis kelas yang lebih fokus, tidak banyak variasi, tetapi lebih ‘dalem’, anak-anak belajar untuk benar-benar belajar, bukan cuma ikut-ikutan.  Catatan tahun ini juga, anak-anak kecil banget engga dibuka kelas tersendiri.  Sayang kalo seperti taun lalu, dimana anak-anak kecil tidak terlalu tertarik, dan lebih suka lari-larian (biarin deh, di kota susah mo lari-larian di tanah lapang)

Gw selalu sangat berharap, bahwa lewat semua kegiatan ini, lewat semua kehebohan, kekacauan, anak-anak ini akan bertumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang alami dan netral tanpa kebiasaan memanipulasi fakta, menjegal teman dan egois. 

Ini foto anak-anak Pathfinder yang sedang mengerjakan tandu dan rakit.  Rencananya rakit akan dicobakan di kolam renang.  Berhasilkah? 😛

Sabat Khusus Anak-anak 2008

Standard

Tema acara sabat khusus anak-anak taun ini adalah “Orangtua mengajar kami menginjil”.  Idenya seperti parents day, setiap anak yang berkhotbah akan didampingi oleh orangtuanya, dan bersama-sama berkhotbah.

Michelle didampingi ompungnya. Michelle and ompung berkhotbah tentang keperdulian terhadap lingkungan dan sesama.  Suara Michelle jernih, dan suara ompung berwibawa.

Gaby didampingi mamanya.  Dengan sedikit demonstrasi berupa air yang diisikan ke gelas, dikocok dengan kopi, menggambarkan kehidupan manusia yang dikotori oleh dosa.  Anak-anak memang memerlukan visualisasi.  Selama Gaby berkhotbah, dengungan tawon berkurang dengan drastis.

Jeremi maju sendirian, tapi sebenarnya didampingi amongnya untuk drama Daud dan Goliat.  Penampilan Jeremi agak mirip Daud, sang gembala, dengan balutan kain-kain di sekeliling pinggang dan kepalanya.  Penampilan Among agak mirip Goliat, karena perisai, baju zirah, helm dan pedang raksasa dari karton hitam, plus tombak.  Goliat tentu saja rebah kena batu dari ali-ali Daud.  Jika Tuhan beserta kita, kepada siapa kita harus takut?

Ales menutup rangkaian khotbah dengan kesimpulan untuk anak-anak menginjil.  Didampingi papanya, Ales yang sudah tiga tahun berturut-turut berkhotbah memperlihatkan kematangan berbicara karena pengalaman.  Suaranya jernih dan kata-katanya teratur. 

Seperti tahun sebelumnya, Jennifer memukau dengan suaranya yang merdu.  Julio, Jay dan kakak-kakaknya memberi warna yang berbeda dengan seragam hitam putih mereka, di antara lautan anak-anak dan jemaat ber dress code pakaian batik.  Ibu Hutagaol komentar: “Kok jadi seperti kondangan?” Memang ini kondangan, mengundang anak-anak untuk merayakan sebuah pesta rohani khusus untuk mereka.  Mengundang anak-anak untuk menikmati firman yang diperuntukkan khusus untuk mereka.

Gereja penuh dan tambahan kursi hingga maksimal.  Makanan potluck berlimpah ruah, dan semua tamu dapat hadiah. Bagus juga jika sabat tamu dan sabat anak-anak dilakukan paling tidak 2x setahun?  Walaupun suasana agak sedikit berisik, karena tidak semua tamu-tamu beragama advent dan tidak terbiasa duduk tenang berjam-jam di gereja, in overall, suasana kebaktian nya indah. 

Panggung boneka, yang kali ini gw tekel bersama-sama dengan Ibu Yanti, ternyata makan waktu sampai 15 menit. Selama bermain di panggung boneka, gw merasa ada yang narik-narik boneka yang gw pegang.  Waktu gw puter rekamannya…hahaha…Melvin tak henti-hentinya mengganggu si boneka, ternyata!