Sangat Sangat Sibuk

Standard

Saya revisit blog ini kemarin. Mendapati bahwa posting terakhir adalah tahun 2013. Bulan February pula. Hari ini bulan January, tapi sudah tahun 2015. Kemana saja saya?

Begitu sibuknya kah saya? Mungkin ya. Saya sangat disibukkan dengan jadwal harian. Pagi jam empat, saya sudah bangun, mempersiapkan nasi di rice cooker dan keluar lari pagi bersama anak saya. Jam 5.45, sebuah taksi sudah menunggu di depan rumah untuk membawa saya ke kantor. Kantor dimulai jam 7.15 dan saya tidak punya waktu santai hingga jam 3.30 atau 5.30, saat sebuah taksi lain akan membawa saya pulang ke rumah. Jika saya beruntung bisa pulang 3.30 sore, maka jam 5  saya akan lari  sore lagi bersama anak saya. Pagi-pagi 2.5 km, sore-sore 5 km.  Tujuannya agar sehat, dan juga membakar kelebihan kalori supaya berat badan berlebih hilang. Hilangkah? Untuk saya tidak, tapi untuk anak saya Ya. Sudah lumayan, sekitar 5kg terkikis.

Pekerjaan kantor luar biasa banyaknya. Seringkali saya skip makan siang, atau makan siang seadanya sekedar untuk mengganjal lapar. Saya tidak mengeluhkan banyaknya pekerjaan itu. Saya suka. Untuk saya lebih baik saya digaji untuk bekerja keras marathon seperti itu daripada enam tahun yang lalu saya digaji hanya untuk duduk-duduk manis dan main game.

Karena itu saya selalu kerepotan untuk potluck hari Sabat. Saya baru mulai fokus kepada hari Sabat, setelah jam 3 siang hari Jumat. Kalau beruntung, saya masih sempat mampir di Giant untuk belanja. Yang  lebih sering terjadi adalah sebaliknya. Lalulintas jumat sore luar biasa padatnya, hingga saya mencapai rumah  sudah jam setengah enam sore. Untungnya anggota jemaat engga rempong. Mau saya bawa atau tidak bawa, mereka engga bawel. Kalau saya bawa hanya buah dan kue-kue yang gampang angkat, mereka hepi-hepi aja. Saya tidak termasuk kelompok potluck mana-mana, dan saya juga termasuk ke dalam kelompok potluck mana-mana. Bebas. Dan saya grateful.

Urusan potluck pernah membebani sekali saat saya pertama memulai pelayanan sebagai isteri pendeta. Sudahlah anggota terbagi kedalam dua kelompok potluck, masih ada  complain, si ini dan si itu tidak berpartisipasi atau bawa makanannya sedikit sekali. Belajar dari pengalaman itu, nasehat saya selalu, jangan bikin makanan potluck sebagai ajang ribut. Kalau mau bawa silakan, engga mau bawa silakan. Kalau mau ngomongin orang, sekedar rumpi, saya ga bisa larang. Tapi sampai menyindir-nyindir, memencilkan dan menyebarkan berita ke seluruh anggota bahkan tamu, itu kebangetan. Jangan!. Kalau memang punya roh pelayanan yang rendah hati untuk selalu membawa makanan berlebih dan cukup, bagus. Tapi jika tidak punya, tidak perlu dipersoalkan. Saya meyakini, Tuhan punya cara mengajari anak-anakNya, umat-umat pilihanNya. Kalau bebal dan tidak pernah berubah, ya mungkin Tuhan juga tidak menganggap mereka anakNya hingga tidak diajari? Hahah, itu teori absurd, saya bukan teolog. Tapi saya meyakini, Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan mengajari anak-anak yang dikasihiNya.

Sama seperti di jemaat-jemaat sebelumnya, jam pulang gereja adalah suatu beban tersendiri. Saya selalu merasa terpanggil untuk membuat suatu kegiatan supaya anak-anak dan remaja belajar. Saya percaya waktu habis kebaktian adalah waktu terbaik untuk anak-anak dan remaja belajar. Bukan semata belajar alkitab tapi juga belajar bahwa Tuhan itu luar biasa baik dan hebatnya. Dulu saya keukeuh memanggil anak-anak selesai makan untuk latihan musik, angklung atau biola. Di jemaat yang ini, saya tidak mengajari mereka main angklung, tapi langsung biola. Dalam satu tahun setengah, ensamble sudah jadi. Tidak lagi terseret-seret mengikuti lagu dalam kebaktian tapi dengan dinamis dan heroik memimpin suasana kebaktian.

Tapi setelah dua tahun saya agak stress sendiri. Kuatir akan terjadi lagi seperti di jemaat sebelumnya, bahwa anggota jemaat protes ini itu, sampai mau cari guru biola dari luar. Saya kembalikan kepada Tuhan. Jika Tuhan masih ingin saya melayani, tolong saya untuk bertahan. Tiga tahun yang lalu doa saya juga sama, tapi saya tidak tahan menghadapi cercaan anggota jemaat. Saya tidak tahan bahwa orang-orang bermuka cemberut dan memandang saya seolah-olah saya kuman penyakit yang segera harus dienyahkan. Saya bukan anggota majelis, tapi saya tidak tahan mendengar berita dari hasil rapat majelis yang selalu memojokkan saya.

Jadi after service activities menjadi pergumulan tersendiri. Saya pun ngos-ngosan. Saya tidak selalu punya waktu untuk mempersiapkan slide untuk kelas pathfinder, jadi saya harus putar otak mempergunakan resources yang ada. Saya juga tidak mau menjadi satu-satunya penggerak roda after service activities, tapi kebanyakan anggota memilih ngobrol santai atau langsung pulang dan tidak terlibat. Setiap matahari turun, day is dying in the west, jam 6 sore hari Sabtu, badan dan pikiran saya capek dua puluh kali lipat. Rasanya ingin langsung sampai rumah, mandi dan masuk ke dalam selimut.

Memang saya sangat sibuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s