Rasanya Masih Sama

Standard

Sudah limabelas tahun saya melayani sebagai isteri pendeta. Kesan saya: Aduh!

Seorang isteri pendeta senior pernah berkata, sebelum saya menikah, bahwa ke-nikmat-an menjadi isteri pendeta baru akan dirasakan setelah lima tahun pelayanan. Saya sudah lima belas tahun, rasanya masih sama. Entah karena saya masih melihat orang yang sama, atau saya masih memiliki paradigma yang sama.

Mungkin dua-duanya.

Diawal-awal pelayanan saya, banyak kritik yang saya terima. Saya tidak hargai. Sungguh. Bohong kalau saya bilang saya menerima dan menghargai kritik yang sekedari membangunkan kemarahan itu. Kritik yang paling nyakitin adalah sebutan bahwa saya tidak cocok menjadi isteri pendeta. Rasanya saya ingin menggugat dengan bilang: memangnya ada kriteria khusus menjadi isteri pendeta? Semacam menjadi polwan atau pramugari? Semacam lulus D3, tidak berkacamata, sehat jasmani rohani dan punya surat keterangan baik dari kepolisian? Kan tidak ada! Lalu kenapa sembarangan orang mengkritik bilang ga cocok? Asbun. Sorry. Tapi buat saya kritik itu jelas asbun.

Kritik kedua yang juga sering menyakiti saya adalah sebutan bahwa saya tidak ramah. Saya pernah men-detox diri sendiri untuk berganti kepribadian. Menjadi orang ramah tamah yang menegur semua orang dengan manis budi dan baik hati. Saya cuma kuat beberapa lama dan kembali ke personality saya yang sesungguhnya. Karena cape menjadi orang lain. Cape jaga image.  Karena toh, sesudah saya bersikap ramah tamah tetap saja saya mendapat kritik. Kritik yang lebih ga penting lagi malahan. Seperti, ibu pendeta kok ga selalu pake kebaya ke gereja? ibu pendeta kok ga disanggul rambutnya? ibu pendeta kok pake sepatu 12senti? Hampppuuun. Kalo didengerin semua bisa seperti cerita Nasrudin membawa onta. Onta dituntun dibilang bodoh kenapa onta ga ditunggangi. Ditunggangi sama anaknya, dibilang anak durhaka membiarkan orangtuanya berjalan. Ditunggangi Nasrudin, dibilang orangtua ga punya hati membiarkan anaknya menderita. Dua-dua menunggangi, dibilang penganiayaan hewan. Bah!

Dalam lima belas tahun perjalanan pelayanan ini, jumlah kritik dari anggota jemaat memang berkurang. Entah saya yang sudah semakin developed, atau memang usia saya yang separo baya mulai membuat orang segan bicara sembarangan. Saya tidak segan menunjukkan bahwa saya suka melayani. Mengepel lantai gereja, mencuci piring, menyetel AV, supaya orang tahu bahwa saya bukan orang sombong. Saya tidak mengeluh jika saya yang main piano, yang ngajar, yang khotbah, dan setelah potluck cuci piring. Let people know bahwa saya sincere. Tulus. Saya hanya percaya untuk segala sesuatu ada waktunya. Mudah-mudahan orang semakin mengerti bahwa saya tidak bermaksud untuk tidak ramah jika saya tidak menanyakan siapa suaminya, siapa isterinya, berapa anaknya. Saya lebih kuatir tersinggung jika ditanya berapa anaknya, padahal mereka sedang menunggu-nunggu keturunan setelah pernikahan sepuluh tahun. Saya lebih kuatir saya disangka kepo menanyakan suaminya dimana padahal semua orang tahu pria itu kabur dengan wanita lain. Biarlah orang lain yang punya talenta menjangkau yang bertanya untuk saya. Saya percaya it doesn’t harm me or them jika kita saling tidak tahu untuk beberapa lama. Memberi ruang untuk saling percaya sebelum mengorek-ngorek hal pribadi.

Dulu, jika saya mengeluh kepada suami saya, ia akan menjawab bahwa isteri pendeta yang lain pun mengalami hal yang sama. Buat saya ini menarik. Ah masa? Tapi setiap pertemuan mereka kelihatan begitu jumawa dan meng-underestimate saya kok. Sekedar melirik dan memberikan tangannya dengan berat untuk menyalami sampe saya pikir dia kursus kepribadian sama ratu Inggris sangking ningratnya. Memandang saya sebelah mata seakan-akan saya belum lulus pentohir istri pendeta yang entah dimana dilaksanakannya itu. Ah masa pengalaman kami sama?

Komentar suami saya menarik sekali. Menurut dia, sama. Semua mendapatkan kritik. Tidak ada yang imun. Saya masih mending dikritik sekali-sekali. Ada isteri pendeta yang tiap sabat dapat kritik. Saya masih mending, kritik datang sekali dalam 3 tahun, kemungkinan di awal masa pelayanan. Setelah saling kenal tidak ada kerepotan lagi. Isteri pendeta yang lain dari awal sampai akhir dikritik terus. Pulang gereja nangis terus. Lhhhaaa? Saya pun bengong-bengong mencernanya. Yang membedakan cuma satu, untuk mereka kritik keluar kuping kanan. Untuk saya, saya masukkan ke hati. Whoaaaaa. Lalu sikap sok ningrat setiap bertemu itu cuma tameng jaim. Healaaa.

Saya tidak suka dikritik. Buat saya tidak ada  kritik membangun. Membangunkan kemarahan iya. Tapi saya juga tidak suka sikap sok ningrat sekedar tameng jaim itu. Bikin orang lain merasa tidak nyaman. Saya tidak mau jaim, saya tidak mau sok ningrat. Let I be myself.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s