Mengajar Anak

Standard

Saya sebenarnya suka mengajar anak-anak. Sejak awal pelayanan saya merasa terfokus dan terpanggil untuk melayani dan mengajar anak-anak.

Kenapa saya mulai tulisan ini dengan ‘sebenarnya’? Mari lanjut, nanti tahu.

Di pelayanan pertama saya, saya tidak mengajar anak-anak. Sekedar bercerita — sesi cerita anak-anak di khotbah, ya saya ambil bagian. Saya tidak sombong mengatakan I am mastering the children story telling. Karena sementara saya cerita, biasanya anak-anak fokus mendengar, ikut tertawa, menjawab dan merespons dengan emosi.  Di pelayanan kedua saya, saya mulai mengajar kelas anak-anak. Tidak banyak anggotanya. Paling banyak 5 orang. Tapi mereka tidak punya resources. Jadi saya mencari jalan, supaya ada pinsil berwarna, buku gambar dan sejumlah keperluan lain untuk dipergunakan.

Pelayanan ketiga lebih menantang. Pemimpin pelayanan anak-anak tidak merasa perlu bantuan. Jadi saya juga tidak memaksa. Yang menjadi tantangan, ada orang-orang yang merasa bisa mengajar anak-anak, namanya tertulis sebagai guru PAA, tapi muncul di gereja setelah setengah sebelas pagi, setelah hampir mau Di Hadapan HadiratHu. Yang berikut-berikut nya saya kemudian tidak pernah berhenti mengajar anak-anak. Entah anggotanya cuma 8 atau 18. Cuma sekedar bisa nyanyi dan ayat hafalan di sabat 13, sampai bisa bikin drama dan ansamble angklung. Apapun saya jalani dengan semangat melayani dan mengabdi.

Tapi ada yang menyurutkan semangat bandung lautan api itu.

Anak-anak yang tidak bisa diajari.

Mungkin kata-kata ini terasa begitu keras. Tapi demikianlah perasaan saya.

Lebih keras lagi adalah anak-anak tersebut tidak bisa diajari, karena orangtuanya di rumah memang tidak pernah mengajari.

Saya pernah buat peraturan di kelas, siapa saja yang ngupil, tolong keluar kelas. Turun ke lantai satu, entah untuk membersihkan diri or whatever (toilet di lantai 1). Saya berlakukan peraturan ini karena entah mengapa anak-anak suka ngupil di kelas. Suatu hari seorang anak kedapatan. Saya suruh turun. Pengaduannya kepada orangtuanya adalah dia tidak ngupil, bahkan tidak memegang hidungnya. Bah, masa mau saya buktikan dengan mencari kotoran hidung dibawah kursinya? Tapi, saya observasi memang anak ini tidak akan pernah jujur kepada orangtuanya sendiri. Dia lebih baik menggigit temannya di kelas *dengan alasan digangu, menusuk temannya dengan gunting *karena tidak mau dipinjam, daripada mengaku dengan jujur. Kenapa? Karena dia tahu, seperti yang sudah sering terjadi, orangtuanya akan datang dan marah-marah kepada gurunya (saya), membela si anak dan menyalahkan si guru.

Saya pernah buat peraturan lain. Asal tahu aja, peraturan saya tidak pernah buat di awal tahun, pasti di tengah-tengah, setelah sesuatu terjadi, atau sesudah saya berhasil mengobservasi kebiasaan kelas. Peraturan ini adalah menghafal ayat hafalan. Yang tidak menghafal yang saya omeli, atau tidak diberi lembar kegiatan kelas. Sayangnya, alih-alih semangat menghafal naik minimal karena takut diomeli atau karena kepingin mewarnai lembar kegiatan kelas, anak-anak malahan menghindari kelas. Tidak masuk karena takut akibat tidak menghafal. Apa yang bisa saya lakukan? Kalau orangtuanya mengijinkan mereka bolos kelas akibat tidak menghafal ayat yang cuma dua kalimat, masakan saya harus lebih perduli terhadap nasib dan masa depan mereka? Jika orangtua nya tidak perduli anaknya mau jadi baik atau jadi cuek, apa saya harus menggebu-gebu?

Dan yang paling susah menerima jika saya disebut guru yang galak. Tegas ya. Galak? Oh come on. Galak artinya benar atau tidak, ada kesalahan atau tidak, saya pasti marah-marah. Galak itu artinya saya ngomel tanpa rem. Saya tidak menganggap tindakan saya galak. Kalau saya galak, tidak mungkin ada satu pelajaran pun yang masuk kepala anak-anak itu. Tapi dimanapun saya, saya selalu berhasil mengajar anak-anak menyanyi, lagu-lagu baru, lagu-lagu berbahasa asing, dengan gerakan. Tidak galak dong? Haha. Tapi tujuan saya bukan sekedar mengajar menyanyi, tapi juga mengajar anak-anak bahwa gereja adalah rumah Tuhan, dimana anak-anak tidak bisa sembarang keluar masuk terutama di jam khotbah. Saya ingin mengajar bahwa Tuhan sangat baik sehingga anak-anak bisa ngobrol dan tertawa bersama-sama dengan Tuhan kapan saja. Saya ingin anak-anak tahu bahwa orang-orang yang sukses dan berhikmat di dunia ini dan nanti di surga adalah orang-orang dengan disiplin untuk belajar dan bekerja keras, bukan orang-orang malas dan suka melawan. Tapi bagaimana caranya saya mengajari mereka hal-hal tersebut jika orangtua mereka saja tidak mengajari mereka hal-hal tersebut? Saya hanya ketemu sekali seminggu beberapa jam, sementara orangtuanya setiap hari bersama mereka. Jika orangtuanya sedikit perduli, setidaknya orangtuanya tidak malah melaporkan saya kepada majelis dan pendeta sebagai guru galak? Ewwh.

Ampuni saya kalau bara semangat padam seperti disiram air hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s