Kesombongan Rohani

Standard

Saya penggemar social media. Belum luar biasa addict, tapi paling tidak saya punya account yang dipelihara di beberapa soc med populer. Twitter, Instagram, Facebook, Path, Pinterest, Tumblr. Apalagi ya? Socmeds ini saya gunakan untuk menggali informasi. Saat gempa di Jakarta, beberapa detik kemudian twitter sudah dipenuhi kicauan tentang gempa dan trending topik langsung berubah. Sebentar saja saya tahu daerah mana saja yang terguncang hebat, terguncang biasa atau malah hanya bergetar sedikit. Itulah fungsi socmed paling penting buat saya. Sharing informasi.

Facebook adalah salah satu media sosial yang paling banyak penggunanya. Hampir semua orang punya akun facebook dan membukanya secara teratur. Buat saya facebook itu saya berguna untuk mengupdate situasi terkini orang-orang yang saya kenal — tergabung dalam klub facebook friends saya. Sebelum ada facebook, saya harus angkat telepon dan tanya : “Apa kabar?”. Setelah ada facebook, saya tinggal cek postingan. Jangankan event penting seperti pernikahan dan melahirkan, event liburan bersama, makan bersama, kumpul-kumpul semua diposting di facebook. Update status tidak dibatasi, kalau sangat update boleh tiap jam sekali ganti. Saya tahu kalau ada yang jalan-jalan ke luar negeri, kalau ada yang pulang kampung, kalau ada yang sedih karena putus cinta, bahkan kalau ada yang sekedar kebelet  ingin ke toilet tapi macet berat.

Di facebook juga boleh posting quote, atau artikel atau sekedar nge-like artikel yang populer. Dan disinilah masalah saya. Saya sungguh tidak keberatan  mau orang liburan ke Kutub Utara sekalipun. It is fun to see the pictures. Tapi saya masalah kalau orang update status bersifat kerohanian, posting artikel rohani dan nge-like artikel rohani.

Masalah kerohanian untuk saya seperti masalah pakaian. Ada dua macam pakaian. Pakaian dalam dan pakaian luar. Bayangkan jika seseorang hanya mencuci dan mengganti pakaian dalamnya tapi tidak pakaian luarnya. Bau. Bayangkan jika seseorang hanya mencuci dan mengganti pakaian  luarnya tapi tidak pakaian dalamnya. Bau. Sama saja. Setiap hari pakaian dalam dan pakaian luar harus diganti dan dicuci.

Banyak orang yang saya tahu hanya mengganti bagian luar atau bagian dalam saja. Terserahlah yang mana. Hanya mengupdate status tentang renungan pagi dan sore. Memposting renungan dan ayat-ayat alkitab. Nge-like artikel-artikel rohani yang menyangkut Ellen G. White. Tapi berhenti di situ saja, lalu merasa bahwa kehidupan kerohaniannya sudah sempurna.

Tunggu dulu, jangan emosi sebelum mengambil cermin dan berkaca. Refleksi dulu. Am I like that?

Saya mengenal banyak orang Advent yang merasa kehidupan kerohaniannya sudah sempurna. Saya tidak tahu mengenai orang Kristen dari denominasi lain, mungkin juga ada, mungkin juga banyak, who knows. Tapi Advent? Yes. A lot.

Saya kenal orang-orang dengan kesombongan rohani karena pintar main piano. Lupa bahwa hikmat dan talenta main piano itu ada anugerah dari Tuhan. Setiap bermain piano terdengar  dentingan yang berlebih-lebihan dan obvious dimainkan sekedar supaya orang tahu bahwa dia pintar main piano. Saya pernah tergoda juga untuk melakukan hal itu. Tapi untungnya malaikat bekerja lebih cepat menguasai pikiran saya daripada emosi kemanusiaan saya. Siapa yang tidak kepingin dipuji-puji karena pintar dan hebat main piano? Saya yakin hampir semua pemain piano gereja pasti senang dipuji. Pemusik-pemusik dengan kesombongan rohani ini sangat rentan dengan rasa iri. Tidak senang jika ada pemusik lain yang sama bagusnya dengan dia. Tidak bahagia mendengarkan lagu yang dibawakan oleh penyanyi lain — dan sibuk mencela, kurang inilah kurang itulah. Tidak memberi ruang untuk pemusik yang diangggapnya saingan atau kurang pintar dalam ruang pelayanan. Memonopoli acara, menolak bekerjasama, menganggap cuma dia yang paham dan bisa,  dan sederetan hal negatif lain sebagai akibat keblingernya dia.

Kesombongan rohani lain adalah dari orang-orang yang merasa sudah paham Alkitab. Lebih paham daripada pendeta-pendeta yang kuliah lima tahun untuk S1, tiga tahun untuk S2, dan lima tahun untuk S3. Semua pembicaraan di diskusi pelajaran sekolah sabat disikat menjadi milik pribadi. Jika ada pengkhotbah yang membawakan sebuah pendapat yang berbeda dari yang biasa didengar, langsung ditentang habis-habisan, dan bahkan diusir dari mimbar. Tidak ada ruangan untuk setuju untuk tidak setuju. Semua harus homogen dan satu paham. Entah kenapa, banyaaaaak orang Advent seperti ini. Merasa lebih jago, lebih paham, lebih mengerti, lebih berhikmat daripada yang lainnya. Sampai-sampai di milis perdebatannya bukan lagi ilmiah tapi lebih kepada debat kusir. Malaikat-malaikat pun malas mengikutinya sangkin ga mutunya.

Kesombongan rohani yang lain adalah dari orang yang merasa lebih rohani dari  orang lainnya. Mungkin karena anggota majelis. Mungkin karena pernah menyumbang banyak untuk pembangunan gereja. Mungkin karena pernah bergaul dengan officer-officer Konferens, Uni, Divisi atau GC. Mungkin karena terlibat dalam KKR atau evangelistic meeting lainnya. Mungkin pernah diutus menjadi misionaris. Bermacam hal. Tolong diingat, saya tidak mengeneralisasi. Hanya sekedar menjembreng kemungkinan-kemungkinan. Karena mustahil orang punya kesombongan rohani kalau dia hanya kostor *mungkin ada, tapi satu diantara sejutalah, dan agak aneh jika orang punya kesombongan rohani jika menyumbah sejuta perak saja belum pernah. Masalahnya dengan yang ini adalah kehidupan sehari-hari nya bisa jadi bertolak belakang dengan update status nya. Saya kenal orang-orang yang sibuk update status rohani, tapi juga sangat keras kepala saat berada di majelis. Tidak mau berkompromi untuk kepentingan bersama. Saya kenal orang-orang yang sibuk pasang ayat alkitab tapi disaat yang sama juga menyebarkan gosip jelek tentang orang satu gereja. Saya kenal orang-orang yang seolah-oleh penggemar sejati Ny. Ellen White, tapi sudah bertahun-tahun tidak mau memaafkan saudaranya sendiri, dan tidak berbicara dengan saudara-saudaranya sendiri. Ada malah yang bilang: kalau saudaranya ke surga, dia tidak mau pergi ke surga. Waduh. Katanya Kristen, katanya Advent, tapi kesombongan rohani nya luar biasa tinggi sampai tidak mau mengampuni. Percuma Yesus menasehati dengan pengampunan 7×7, percuma ikut pendalaman alkitab, percuma belajar sekolah sabat.

Dan sayangnya saya kenal banyak. Malaikat juga tahu.

Saya sudah selesai bercermin, mudah-mudahan cermin ini bukan KW sehingga refleksinya blur. Saya tidak ingin hidup dengan kesombongan rohani. Sebenarnya juga menyesali memandang orang yang yang hidup dengan kesombongan rohani entah menyadarinya atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s