His Eyes Is On Me

Standard

Saya mendadak teringat pengalaman saya mengunjungi kuil Bayon di Siem Reap, Kamboja.  Memasuki kuil Bayon kita harus melewati gerbang yang (tadinya) berupa tembok tebal yang sekarang hanya tersisa sebagian dan masuk di bawah kubah yang terdiri dari empat kepala Bayon yang melihat ke empat penjuru.

Seketika memasuki kubah empat kepala yang terasa sejuk di bawah matahari Siem Reap saya merasakan kesejukan di hati saya.  Teringat dengan ucapan Salomo di dalam Amsal 15:3 Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.  Sekedar membaca ayat itu bertahun-tahun yang lalu tidak menimbulkan perasaan sejuk seperti yang saya rasakan dibawah gerbang Bayon. Ayat itu seringkali dikutip untuk anak-anak dan orang muda agar tidak berbuat nakal –karena mata Tuhan mengawasi semuanya.  Dengan penafsiran demikian ayat itu menimbulkan awan kengerian yang mendirikan bulu kuduk bahwa Tuhan lebih canggih dari mata-mata CIA seketika bisa menyadap apa saja kegiatan kita bahkan yang paling pribadi sekalipun.  Lalu, kalau saja tidak berkenan di hatiNya, maka akan marahlah Dia dan menghukum manusia dengan caraNya.

Orang Khmer kuno dengan penafsiran tersendiri membuat sebuah patung yang berkepala empat melihat segala arah, mempercayai begitulah Tuhan atau Buddha yang bijaksana atau raja mereka Jayavarman mampu melihat mereka di segala arah bumi.  Bukan semata melihat kesalahan, namun melihat apakah rakyat jelata memerlukan perhatian. Apakah makanan mereka cukup? Apakah atap yang menaungi mereka hangat? Seperti itulah sang dewa berwajah empat itu mampu melihat jauh melebihi batas mencoba mengatasi penderitaan umatnya.

Untuk saya kuil itu lebih baik merepresentasikan Tuhan yang saya kenal daripada ajaran banyak orang Advent yang mengutip si ayat untuk menakut-nakuti.  MataNya memandang, orang baik dan orang jahat.  Tidak ada yang terluput.  Tidak hanya melihat tampilan luar namun melihat jauh ke dalam lubuk hati.  Tidak hanya menilai kesalahan namun sungguh memahami kebutuhan saya sebagai manusia. Jika Bayon saja bisa memandang sedemikian, tentunya Tuhan lebih lagi.  Seharusnya.

Sebuah lagu terngiang. Selidiki aku. Lihat hatiku. Apaku sungguh mengasihiMu Yesus.  Kau yang maha tahu. Dan menilai hidupku.  Tak ada yang tersembunyi bagiMu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s