Raising an only child

Standard

I’m raising an only child.  Karena dia satu-satunya, maka saya juga berpikir untuk ekstra serius dalam pola asuh saya kepadanya.  Seharusnya semua orangtua berpikir yang sama ya? Bukan karena punya anak tiga lalu jadi tidak serius, lalu kalau hanya punya satu jadi luar biasa serius. Hm.

Saya memahami apa yang disebut dengan pola asuh yang berulang. Artinya cara pengasuhan orangtua kita kepada kita, kita ulangi, kita kloning kepada anak kita, sang generasi penerus.  Kadang pengulangan itu secara sadar.  Orang dewasa yang menjadi orangtua mengulang cara pengasuhan orangtuanya karena dalam pendapatnya itulah cara yang terbaik mengasuh anak.  Orang dewasa yang lain mengulang cara pengasuhan itu karena sudah terbiasa, dan walaupun tidak terlalu menyukainya, terperangkap dalam stereotype karena kebiasaan.

Saya teringat beberapa kebiasaan baik dari pola asuh orangtua saya yang dengan sadar saya terapkan kembali kepada anak semata wayang saya.

Satu, orangtua saya tidak pernah tidak membawa saya ke gereja.  Hari panas hari hujan tidak ada alasan untuk menghalangi menghadiri acara kebaktian.  Sampai sekarang saya tidak punya kebiasaan tidak ke  gereja, bahkan tidak pernah punya kebiasaan datang terlambat ke kebaktian.

Dua, saat berada di dalam kebaktian, orangtua saya selalu menempatkan kami anak-anaknya duduk bersama-sama.  Jika ada yang kurang nyaman ataupun rewel, sedapat mungkin mereka berusaha menenteramkan tanpa kehilangan makna dari perbaktian.  Saya terbiasa dengan lembar-lembar kertas, buku-buku mewarnai, spidol, krayon, pinsil berwarna yang kami gunakan untuk sibuk mencoret-coret, menggambar dan kegiatan motorik lain yang menyibukkan selama acara khotbah yang belum kami pahami berlangsung.  Setelah kami bisa membaca, kami terbiasa membawa alkitab dan sebuah buku bacaan yang bisa menyibukkan kami sekiranya acara khotbah juga berlangsung lebih lama dari biasanya.

Saya melihat kebiasaan ini sebagai kebiasaan yang baik.  Saya tidak pernah punya kebiasaan lari-lari di gereja, berputar dari satu tempat duduk ke tempat duduk yang lainnya.  Saya juga tidak punya kebiasaan ribut dan mengobrol dalam acara kebaktian.  Saya juga tidak punya kebiasaan makan atau minum di gereja.  Tanpa saya sadari sebuah kebiasaan yang baik telah tertanam dalam hidup saya melalui orangtua saya.

Saya jalankan kebiasaan yang sama dengan anak saya.  Bukan hanya ke gereja, di rumah pun saya memberinya paling tidak satu rim kertas yang bebas ia pergunakan.  Mau digambari, dicoreti, dilukisi, diguntingi, terserah saja.  Buku-buku notes, buku harian, buku catatan yang saya peroleh di konferensi, workshop, dari penyalur obat, atau saya beli di toko buku semuanya berada di rak bukunya.  Bebas untuk ia gunakan sekehendak hatinya.  Saya melihatnya tenang di kebaktian, menggambar, menulis. Tidak pernah ia keluar rumah tanpa buku catatan dan alat tulisnya.  Dan memang ia jarang rewel, walaupun kami harus berlama-lama menunggu atau berada dalam situasi yang kurang nyaman. Kebiasaan ini juga memudahkan saya untuk mengontrolnya.  Jika ia resah, jika ia mengoceh, saya bisa mengajarinya untuk duduk tenang, untuk belajar mendengarkan. Sesulit apapun seorang anak kecil mencoba memahami, yang paling pertama dipelajarinya adalah sebuah kebiasaan.

Ternyata selain kebiasaan baik, orangtua saya juga mewariskan kebiasaan buruk.  Saya memerlukan waktu lama untuk mengubah diri saya sendiri untuk tidak terpengaruh.

Satu, Ibu saya gemar mendiamkan saya.  Jika saja ada hal yang saya lakukan yang tidak berkenan di hatinya pasti ia segera mendiamkan saya seolah-olah saya kuman penyakit yang sangat perlu dihindari.  Ia bisa mendiamkan saya sampai berhari-hari atau berminggu-minggu, atau sampai saya mulai untuk mencairkan suasana.  Saya sering merasa terkucil dan semakin lama saya semakin kehilangan respek kepada beliau.  Sebagai anak tertua, saya merasa tidak dicintai.  Saya masih balita sudah punya dua adik bayi, dan tangan orangtua saya adalah untuk mengurusi adik-adik saya, tidak untuk saya.

Setelah saya menjadi orangtua, saya beberapa kali mendiamkan anak saya saat saya merasa tindakannya tidak sesuai dengan kemauan saya.  Kemudian saya menyadari, jika saya lakukan terus, saya tidak lain adalah mengulang pola asuh yang keliru yang dilakukan oleh ibu saya kepada saya.  Jadi, saya mengambil sikap, betapapun marahnya saya, dan betapapun saya tidak menyukai tindakan atau reaksi anak saya, saya tidak akan pernah mendiamkannya.  Saya akan tetap mengelus kepalanya, memberinya makanan dan mengucapkan, inong saya padamu!  Hal-hal demikian saya percayai akan membuat ia tidak kehilangan kepercayaan dan respeknya kepada saya seperti yang sudah terjadi kepada saya dimasa yang lalu. Saya ingin anak saya dan saya selalu menjadi sahabat dan soulmate baik di dunia dan di surga. Karena untuk saya ia sangat berharga.

Dua, orangtua saya gemar membicarakan kejelekan orang-orang lain di gereja. Pendeta, ketua jemaat, anggota majelis, siapapun.  Dengan bahasa yang tidak terlalu halus dan bahkan terlalu tajam mereka menghakimi orang-orang lain melalui lensa otobiografis mereka.  Saya meyakini secara pribadi kebiasaan ini juga di’tular’kan oleh orangtua mereka kepada mereka melalui pola asuh, namun mereka tidak menyadari bahwa hal itu buruk dan mengkopinya.  Saya terbiasa mendengar celaan demi celaan.  Hampir tidak ada orang yang baik dan hampir tidak ada orang yang dapat diandalkan.  Semua punya kejelekan.  Tentu saja! Apa ada orang di dunia ini yang tidak punya kekurangan?

Setelah menyadari betapa berbahayanya kebiasaan itu,  saya sangat berhati-hati untuk membuat sebuah komentar kepada anggota jemaat terlebih tua-tua jemaat.  Saya ingin anak saya bertumbuh dalam sebuah iklim dimana jemaat adalah untuk bertumbuh secara rohani dan bukan sebaliknya.  Saya ingin anak saya memiliki cermin yang refleksinya jernih dan tidak buram seperti milik saya hingga pada usia yang tidak muda lagi pun saya masih sering merasa kehilangan jatidiri.

Tiga. Walaupun orangtua saya cukup moderat namun saya merasa mereka tidak terlalu tahu apa yang hendak mereka tawarkan untuk masa depan saya.  Berbeda dengan orangtua jaman sekarang yang sangat siap sedia dengan segala alat tempur berupa asset dan asuransi, orangtua saya bahkan tidak terlalu mengetahui bidang apa yang terbaik untuk saya.

Saya belajar banyak dari kesalahan ini untuk sejak dini mengenali apa kelebihan anak saya dan sebisa mungkin membekalinya.  Jika saya bisa kuliah sampai menyelesaikan gelar S1, anak saya harus menyelesaikan gelar yang lebih tinggi dari saya.  Jika saya kuliah di Bandung, anak saya sebisanya kuliah overseas.  Jika saya mampu memainkan sedikitnya dua jenis instrumen musik, anak saya juga, malah kalo boleh melebihi.  Saya punya cita-cita untuk dia. Saya membekali dia.  Saya yang melatihnya berenang, saya yang melatihnya main basket, dan saya ingin ia mewarisi visi saya dalam pelayanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s