Bicara Dengan Paulus

Standard

Saya sungguh ingin berbincang dengan Paulus.  Ya, rasul Paulus.

Merujuk kepada tulisan rasul Paulus, hingga hari ini masih banyak sekali jemaat yang tidak memperbolehkan wanita mengajar dan berkhotbah.

Beberapa tahun yang lalu saat saya melayani di sebuah jemaat, saya mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah.  Saya perhatikan seorang bapak tertidur. Duduk menundukkan kepalanya dan tidak bergerak selama khotbah berlangsung. Begitu lagu penutup beliau segera segar kembali dan menyanyi.  Saya kemudian mengetahui bahwa ia sangat berpegang pada tulisan rasul Paulus yang melarang wanita mengajar itu.  Untuknya, ‘haram’ wanita diberikan tempat di mimbar.

Di beberapa jemaat dimana saya melayani saya menyadari memang mimbar tidak terlalu ‘terbuka’ untuk kaum wanita.  Ada jemaat yang hanya memperbolehkan wanita berkhotbah dua kali setahun.  Saat hari khusus doa untuk wanita dan hari Ibu.  Saat itu semua ibu-ibu mengenakan baju nasional dan mengambil bagian di mimbar. Tapi saya melihat bahwa makna dari hari itu jadi seperti hari natal. Bersukaria merayakan dengan shopping dan bertukar hadiah, tapi melupakan siapa yang ultah. Heboh pake kebaya dan bersanggul namun tidak mengedepankan isu ke-wanita-an dalam penginjilan yang lebih penting.

Yang saya perhatikan juga adalah pembatasan-pembatasan itu membuat wanita-wanita mandek dan tidak berkembang. Talenta-talenta mengajar tidak dipupuk dan dibiarkan mengering.  Ketika datang waktunya untuk berkhotbah, para wanita saling buang-bodi, tidak ada yang mau, dengan berbagai alasan.  Saya melihatnya sebagai sebuah kegagalan jemaat.

Memang tidak banyak orang yang punya talenta berkhotbah.  Bukan hanya wanita, tapi juga pria.  Sayangnya pria difasilitasi untuk berkhotbah namun wanita tidak.  Jika dibandingkan khotbah para bapak yang kadang-kadang ngawur secara doktrinal, kadang-kadang hanya berupa pemikiran berserakan yang tidak fokus,  kadang-kadang berdalih: “Baru saya siapkan tadi malam atau tadi pagi”, saya menemukan bahwa khotbah para wanita lebih ilmiah, berisi dan mendalam.  Pengalaman sebagai isteri dan sebagai wanita yang multitasking mengkayakan pengetahuan biblikal menjadi praktikal.  Tidak perlu berdebat panjang lebar, mengutip tulisan Ny White dari berbagai buku, pengalaman saja sudah menjadikan khotbah itu hidup.

Saya tidak ingin membandingkan pria dan wanita dalam kadar kerohanian, tapi saya sering menemukan bahwa wanita membawa anak-anaknya ke gereja, sementara pria tinggal di rumah atau entah dimana.  Perasaan bertanggungjawab dari para wanita sebagai pendidik utama menjadikan mereka mau bersusahpayah membawa anak-anak mereka ke dalam jemaat Tuhan.  Para pengajar sekolah sabat anak-anak seringkali adalah ibu-ibu atau para wanita, jarang sekali ada pria.  Lalu mengapa masih ada pembatasan wanita untuk berkhotbah dan mengajar jemaat?

Saya ingin ngobrol dengan rasul Paulus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s