Takdir. Saya Percaya.

Standard

Ada dua hal yang bersarang dan tak mau pindah dari benak saya minggu-minggu terakhir ini.

Baiklah saya urai dari pertama.  Takdir.

Saat bercanda-canda dengan teman-teman di penginapan, kami yang sama-sama Advent,  terhadap sebuah situasi yang tidak terkendali saya berujar: “Ya mau diapain? Itu kan takdir.”  Seorang teman langsung menyambar: “Hush!”

Hush?

Saya tahu benar orang Advent adalah para ilmuwan alkitab yang setia belajar, mendengar, membaca dan mendiskusikan Alkitab.  Saya juga tahu benar bahwa orang Advent tidak percaya pada takdir.  Dalam pembahasan-pembahasan sekolah sabat baik di khotbah pasti ditekankan, dan berulang-ulang: Tidak ada takdir.  Mengapa? Karena Allah membekali manusia dengan kuasa untuk memilih.  Power of  Choice.  Manusia boleh memilih menjadi baik atau menjadi jahat.  Manusia bebas memilih menjadi pengikut Kristus atau pengikut setan.  Manusia boleh memilih tempatnya di surga atau di neraka.  Semata-mata of the power of choice.

Tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi manusia jahat.  Benar.  Melebar menjadi: tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi perampok atau pembunuh.  Benar juga.

Namun siapa yang bisa memilih dari orangtua mana mereka lahir?  Jika saya boleh memilih saya tidak akan memilih dilahirkan di Indonesia apalagi tinggal di kota semacam Jakarta yang mahluk hidupnya sangat individualis dan kasar.  Lebih baik saya memilih pedesaan yang sejuk di NZ atau kota besar di negara maju seperti NY di US.  Jika saya boleh memilih tidak sudi saya punya pemimpin dan parlemen doyan korupsi dan disebut dunia sebagai negara berkembang (kalo bukan negara miskin) dengan penduduk terpadat dan polusi terparah. Aih.  Namun, mana saya boleh memilih?

Kalaupun ada pilihan untuk saya tidak serta merta saya bisa bilang: Ah, saya mau pindah tinggal di London! umpamanya.   Manalah bakalan negara itu memperbolehkan seorang yang hanya tamatan sekolah di negara berkembang menjadi warganegaranya dengan mudah?  Jangankan jauh hingga ke sana.  Saya saja tidak bilang sembarang bilang: Ah, saya mau tinggal di Singapore saja! Padahal Singapore cuma dua jam perjalanan pesawat dari Jakarta dan relatif banyak warganegara Indonesia yang bekerja di sana.

Saya jelas tidak bisa memilih.  Saya dilahirkan dalam keluarga Advent, bersuku batak, yang kondisi keuangan pas-pas an, saya tidak bisa serta merta memilih untuk keluar dari situasi itu, bukan? Lihat sekeliling.  Jika menjadi tukang becak adalah alternatif pekerjaan yang terbaik bagi seseorang, apakah kita bisa bilang bahwa ia punya kebebasan memilih.  Ia bisa memilih menjadi manager, ngapain pulak jadi tukang becak? Eits, memangnya jadi manager tidak perlu pendidikan.  Beruntunglah mereka yang punya orangtua yang cukup uang untuk sekolah setinggi-tingginya, jika tidak? Apalagi di kondisi negara dengan 70% masyarakat miskin seperti Indonesia? Apakah mereka bisa langsung memilih mengubah nasibnya? Mengubah takdirnya? Jika pun bisa tidak semudah membalik tangan, bukan sekedar kerja keras, namun juga ada bermacam hal lain menjadi faktor yang menentukan.

Saya percaya takdir.  Di dunia yang fana ini takdir berlaku. Di dunia ini, takdir yang kejam, sedang berlaku. Power of choice berlaku untuk mengesahkan kekekalan kita di dunia baru yang Tuhan janjikan, tapi bukan di dunia yang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s