Berfoya-foya?

Standard

Mungkin ini adalah topik yang sensitif.  Tapi saya tidak mem-password-nya kali ini.  Mudah-mudahan yang membaca memahami sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang ke-advent-an biasa  dan keyakinan untuk setuju-untuk-tidak -setuju yang saya miliki.

Sebuah milis Advent kerapkali menggangu saya.  Posting-postingnya, kalau tidak terlalu ‘sok-alim’, terlalu ‘menghakimi’. Bahkan saat menghakimi nuansa-nya tetap sok-alim.

Seorang manager di kantor saya pernah mengirim sebuah email yang ‘pahit’, isinya menyindir agar semua pemakai toilet wanita mengikuti sebuah SOP penggunaan toilet. Email itu begitu nyinyir dan menuduh bahwa para wanita di kantor jorok dan tidak memahami cara menggunakan toilet modern.  Tidak heran penerimanya merasa tersinggung dan ada yang marah.  Anehnya, segera setelah mengirimkan email itu, sang manager mengirimi pegawai yang beragama kristen dengan sebuah renungan singkat. Wot? Apakah gunanya renungan itu? Sebagai pernyataan bahwa: maaf tadi email saya terlalu nyakitin?, atau: saya orang yang religius jadi tolong tanggapi email saya dengan serius?  Apapun, renungan singkat -nya masuk junk box.

Kembali ke milist Advent.  Saya sering merasa tersentuh dan gatal ingin me-reply saat dibahas mengenai pendeta.  Pendeta ini tidak benar-lah, pendeta itu tidak benar-lah, ada saja kesalahan yang bisa dicari, lalu merembet kepada masalah perpuluhan dan persembahan yang diselewengkan penggunaannya oleh para pendeta untuk bermewah-mewah.

Biarkan saya menarik nafas sejenak.

Suami saya pendeta.

Saya tidak pernah hidup mewah.

Rumah menyicil, mobil menyicil, bahkan biaya pendidikan anak saya yang seharusnya dibayar sekian persen sesuai peraturan tetap harus saya bayar sendiri.  Saya tidak pernah minta-minta uang kepada anggota jemaat mencurhatkan betapa beratnya keuangan rumahtangga.  Potluck saya tetap bawa, sama dengan anggota jemaat yang lain. Retreat tetap bayar sama dengan anggota yang lain.  Apa kemewahannya?

Biarkan saya bertanya bagian apa dari perpuluhan yang dihambur-hamburkan oleh para pendeta untuk berfoya-foya?  Saya kenal suami saya dan bisa tahu makanan apa saja yang dimakannya.  Tiga kali sehari ia makan di rumah, masak sendiri. Kalaupun pergi ke kantor jarang mengunyah nasi kotak yang disediakan karena alasan kesehatan.  Ia tidak pakai blackberry, tidak bersepatu rockport, bahkan jika seminar ke luar kota mencari-cari tiket termurah dan hotel termurah sangkin menghematnya.  Dimana berfoya-foya-nya?

Saya sungguh tak tahu dan tidak bisa merasakan kemewahan apapun seperti yang sering dituduhkan.  Malahan, sebagai isteri pendeta, saya selalu mengalami kritik dan kritik dan kritik dan kritik.  Kritik yang bias dan menyakitkan.  Bukan saja menyerang saya sebagai pribadi yang bebas beropini tapi juga menyerang jiwa rohani saya dengan dikte bahwa seorang isteri pendeta harus selalu mau melayani tanpa boleh lelah dan tampil konservatif bak EG White di tahun 1800an.

Hakimi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s