Didikan Jemaat

Standard

Saya bukan cuma satu atau dua kali merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan lebih dari sekedar kreativitas ini dan itu yang membuat mereka giat tubuh dan mental.  Saya hampir tiap hari merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan: TELADAN.

Saya dibesarkan di sebuah gereja yang besar. Besar dalam tanda kutip.  Artinya, jemaat dengan jumlah anggota yang banyak. Satu gereja yang mula-mula dibentuk, sebuah gereja yang populer.  Gereja yang memiliki sekolah dan gereja yang letaknya dalam bangunan yang sama dengan kantor daerah. Gereja atau Jemaat ini dalam pandangan saya adalah jemaat yang lengkap, jumlah anak-anak, orang muda, orang tua berimbang dengan baik. Semua departemen dapat diisi dan digiatkan.  Saya bandingkan dengan jemaat-jemaat dimana saya ikut melayani selama ini, kadang departemen Pelayanan Anak-anak kurang giat karena tidak ada guru-guru yang terlatih dan mau melayani, dengan kata lain resources-nya kurang. Ada jemaat yang kegiatan PA-nya mandek karena orang muda hanya segelintir dan langsung kabur begitu selesai kebaktian.  Ada jemaat yang kegiatan BWA nya cuma khotbah hari sabat karena para wanita kebanyakan adalah oma-oma yang sudah lebih suka duduk-duduk.  Hm.

Kembali ke leptop. Berada dalam jemaat yang ‘besar’ dan ‘lengkap’ ternyata bukan jaminan menjadikan saya seorang ‘tiang-tiang jemaat yang handal di masa yang akan datang’ *mengutip doa-doa para pendeta yang menjadi pemimpin kepada anak-anak di jemaat.  Justeru sebaliknya.  Mungkin kedengarannya aneh dan mengecewakan.  Tetapi di jemaat ini saya belajar menjadi anggota jemaat yang penuntut =pendeta harus perfect dengan kualitas khotbah dan rajin melawat, saya belajar menjadikan mimbar dan rapat majelis sebagai ajang menghakimi orang=si ini dan si itu tidak boleh jadi ketua jemaat karena anaknya sekolah haris sabat, si ini tidak boleh khotbah karena masih ada hutang sama saya.  Di jemaat ini saya belajar untuk pamer=kesaksian-kesaksian mendapatkan untung usaha berlipat ganda, anak masuk universitas terkenal, membelikan perabot baru untuk gereja karena dapat berkat, dll, dan di jemaat ini saya belajar macam-macam hal seperti perpecahan, sakit hati, blok-blok-an dan sederetan hal-hal negatif.  Hal-hal yang seharusnya bukan merupakan ciri umat Allah yang sisa.

Saat saya masih remaja saya sudah bisa merasakan persaingan *baca=di gereja*.  Seorang ketua jemaat dan yang lainnya berlomba-lomba memberikan sumbangan kepada gereja, dengan tujuan mendapatkan pujian dan lebih banyak dukungan.  Saya salah seorang anak yang sejak dini belajar main piano *orang Advent terkenal karena banyak yang mahir piano bukan?* tetapi saya bisa merasakan favoritisme dengan adanya seorang teman yang sesungguhnya tidak terlalu mahir namun entah kenapa selalu dijadwalkan melayani lebih banyak dan pada acara yang lebih penting daripada saya yang paling banyak dijadwalkan dua kali satu triwulan, itu pun untuk acara pembukaan sekolah sabat atau acara PA, dimana hanya sedikit orang yang hadir.   Saya juga merasakan bahwa saya selalu dianggap ‘underdog’, sebagai orang yang tidak berpotensi.  Saat para remaja main drama, saya kebagian peran-peran figuran saja.  Saat para remaja menyanyi, saya tidak pernah kebagian menyanyi solo.  Saat pemilihan pegawai jemaat, saya tidak pernah dipilih selain sebagai pianis sekolah sabat.  Walaupun setelah semakin beranjak dewasa saya semakin menyadari potensi-potensi saya yang tidak biasa baik secara talenta maupun kepemimpinan, saya tidak pernah mendapatkan kesempatan membuktikannya.  Saya merasakan tidak adanya kesempatan yang sama diberikan kepada semua orang.

Jadi demikianlah pendidikan dari jemaat yang saya terima.  Demikianlah TELADAN yang saya terima. Tidak dapat saya tolak bukan?

Namun saya menyesalinya.  Saya menyesali kurang bijaknya orang-orang tua dimasa lalu mendidik anak-anak jemaat, sehingga terjadi produk-produk gagal seperti saya.

Produk-produk gagal yang akan mengulang kesalahan orangtua saya.  Yang suka mencela dan menghakimi pendeta.  Yang bersikap rigid dan legalis.  Yang tidak toleran dan tidak suka menerima perubahan, dan membuat perpecahan-perpecahan yang tidak perlu di jemaat.  Apakah saya ingin membuat sebuah generasi baru yang seperti itu juga? Huh. Tidak. Maaf.

Sejak saya meninggalkan jemaat itu saya berjuang seperti seorang ulat di dalam kepompong yang ingin keluar sebagai kupu-kupu yang cantik.  Tidak mudah menurunkah kelebihan bobot pikiran negatif mudah menghakimi orang yang sudah saya pelajari bertahun-tahun tersebut.  Tidak mudah melunturkan belang-belang blok-blok an yang sudah melekat di tubuh saya paling tidak selama 17 tahun.

Suatu waktu saya pernah melayani sebuah jemaat.  Walaupun pemimpin musik tahu saya handal bermain piano, ia hampir tidak pernah menempatkan saya sebagai pianis dalam jadwal, dan memberikan tempat kepada orang-orang muda yang kurang handal dan kurang berkomitmen.  Saya teringat kembali pengalaman saya bertahun-tahun lalu ketika saya remaja dan mendapati bahwa sang pemimpin musik adalah produk yang sama seperti saya.  Saya berubah.  Dia tidak.

Beberapa tahun yang lalu seorang anggota jemaat mendekati saya dan berbisik: “Maaf Bu Pendeta, tau kan si Anu itu, tolong ditegur dong, kita engga enak ngeliat dandanannya yang sedemikian.”  Saya memandanginya dengan tegas berkata: “Ibu bilang saja sendiri sama dia.  Saya tidak terganggu.  Buat saya enak aja dan tidak ada masalah.”  Anggota jemaat itu mendesak: “Tapi kan berdandan sedemikian tidak sesuai dengan doktrin Advent?” Saya angkat bahu: “Soal doktrin mari kita duduk bersama untuk membicarakannya, namun saya meyakini tidak ada keharusan seorang wanita Advent harus tampil bak Ny Ellen White di tahun 1800-an.”

Sama jika seorang mengatakan bahwa mereka ingin menyanyi di gereja menggunakan gitar dan drum. Saya akan senang-senang saja.  Sama senangnya jika seseorang menyatakan ingin menyanyi menggunakan piano, atau suling, atau angklung, atau apapun.   Saya menyadari banyak pertentangan antara kubu yang ingin mempertahankan konservatisme dan bernyanyi hanya merujuk pada lagu-lagu yang ditulis di Lagu Sion dan kubu yang suka mengeksplorasi dan mengadaptasi lagu-lagu dari denominasi lain, sama banyaknya dengan kubu yang suka mendengarkan berbagai jenis musik bertentangan dengan kubu yang hanya merasa bahwa piano-lah yang layak.  Silakan kalian bertentangan! Namun ingatlah baik-baik, anak-anak yang sedang bertumbuh, generasi dibawah ini, sedang dididik oleh jemaat dan mereka tidak bisa menolak didikan itu.  Apakah mereka akan bertumbuh sama persis seperti generasi sebelumnya atau menjadi generasi yang lebih bijaksana sangat tergantung kepada didikan itu.  Kecuali kita menghendaki sebuah generasi yang juga suka pecah-pecah gereja, silakan!

Saya? Saya tidak akan menghakimi seorang yang minum teh.  Tidak menghakimi orang yang bersekolah hari sabat.  Tidak pusing dengan jenis pakaian dan jenis musik.  Menerima perayaan dan ucapan natal dengan gembira, dengan satu maksud: Saya menjadi seorang TELADAN yang benar di dalam jemaat.  Generasi yang akan datang akan muncul sebagai tunas yang berbuah.  Yang tidak bersaing siapa paling kaya di gereja, yang tidak menghakimi saudaranya.

Seorang pernah berkata: Pikiran hanya bisa digunakan jika ia terbuka!

PS: Seorang pernah memprotes saya karena saya menempatkan setiap anak menyanyikan satu bait dari lagu yang dinyanyikan bersama-sama dalam sebuah acara SS13.  Si anak memang fals.  Saya angkat bahu.  Saya tidak ingin mengulang kegalauan saya di masa lalu. Bukankah di mata Allah segala pujian adalah indah?  Anak itu fals, namun ia bisa dilatih.  Daripada dicela dan dijadikan anak bawang atau underdog, well, saya tidak merasakannya sebagai suatu metode yang bagus.  By the way, daripada teman-teman saya yang sama-sama belajar main piano di jaman dahulu di jemaat itu, mungkin cuma saya-lah yang masih setia melayani main piano hari Sabat di gereja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s