Say No To ‘Advent’ Grafitti

Standard

Tidak disangkal bahwa orang Advent suka untuk menjadi terkenal.  Tidak mengapalah saya menyebut orang Advent bukan? Karena memang demikianlah cara kita menyebutnya? Petuah dari Yesus kepada ke dua belas murid untuk : pergi, ajarlah dan baptis-lah, menjadi suatu acuan sehingga begitu giatnya orang Advent untuk melakukan pekerjaan pengabaran injil.  Jika ada yang menanyakan mengapa anda tidak makan kepiting yang enak itu? Tidak ragu itu adalah suatu cara untuk menyatakan: Saya Advent, kami tidak makan kepiting, udang dan jenis-jenis seafood lain selain ikan yang bersisik dan bersirip. Dan jika si penanya tertarik maka pembahasan akan berkembang mudah-mudahan sesuai harapan.

Saya jadi teringat jaman tahun 80-an, di kota kecil di tempat saya tinggal sangat mudah membedakan orang Advent pada Sabtu pagi.  Selain baju rapi, mengenakan dasi dan jas, dan para wanita mengenakan stocking, alkitab dan lagu sion selalu ikut dikepit naik angkot menuju ke gereja.  Pula jika orang Advent makan di restoran yang masih sedikit di kota kecil saya itu, pasti mereka akan minta ‘cai herang’ alias air putih sebagai pengganti teh yang complimentary pasti langsung disajikan pelayan tanpa perlu memesan *saya sering merasa kehilangan saat-saat seperti itu, sekarang jarang sekali ada resto atau warung makan yang menyediakan minuman complimentary, untuk segelas aqua harus pesan dan segelas air putih harus bayar*

Dengan semakin majunya teknologi, orang Advent semakin terkenal.  Mengudara melalui radio dan tayang di televisi.  Duduk bersama pemuka-pemuka agama lain dalam forum antar agama dan diberitakan di seluruh dunia.  Choir ini dan itu mendapatkan pujian dalam festival-festival musik  dan malah memenangkan perhargaan dalam kompetisi.  Saya masih menunggu-nunggu apakah ada orang Advent Indonesia yang akan berjaya menjadi seorang pianis, secara begitu banyaknya pianis yang handal di gereja, dan anak-anak dibiasakan dengan musik sejak masih sangat dini.  Bukankah baik terkenal dengan cara-cara demikian?  Stigma-stigma ekslusivitas akan mengelupas jika orang Advent terkenal dalam sisi-sisi positif.

Tentunya jauh lebih baik daripada terkenal terkenal melalui grafiti-grafiti di tembok-tembok pembatas jalan, di kursi-kursi metromini atau bis non-AC, atau di tembok-tembok perkantoran dan rumah. Ealah. Saya sendiri sangat anti grafiti.  Di masa sekolah, saya tidak punya kecenderungan duduk-duduk dengan teman-teman lalu menggrafiti dinding.  Setiap waktu luang dipakai untuk belajar dan belajar lagi. Belajar main piano, latihan renang, latihan basket, latihan baris-berbaris bersama grup paskibra, lalu membaca buku ini dan itu, hampir tidak ada waktu luang walaupun hari minggu.  Jika kita kepengen kumpul-kumpul, maka kami pergi ke toko buku Gramedia dan mencari bacaan, atau makan bakso lalu ngumpul di rumah salah satu teman menghabiskan sekantong keripik sambil nonton TVRI.  Sederhana.  Buat apa menggrafiti? Begitu banyak-kah waktu luang orang muda jaman sekarang? Dan kenapa harus menggrafiti kata-kata yang begitu baik: Advent? Advent artinya menantikan kedatangan Yesus, tetapi dijadikan coretan yang mengotori kebersihan kota dan angkutan publik.

Suka untuk terkenal. Ya. Grafiti? Tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s