I- Bukan Cobaan Biasa

Standard

Seorang pernah mengatakan kepada saya: “Hanya pencobaan yang biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia yang kamu alami” seperti dituliskan dalam 1 Korintus 10:13. Mungkin ia merasa perlu menghibur saya yang sedang merasa terpukul akibat vonis penyakit yang saya derita. Namun, gantinya merasa terhibur saya justeru merasa lebih kecewa.

Biasa? Tidak melebihi kekuatan manusia? Saya justru merasa sebaliknya. Titik kekuatan saya dimana saya merasa bisa mengendalikan pikiran saya untuk tidak merasa kecewa sudah lewat. Titik terendah dimana saya merasa Tuhan tetap memegang tangan saya sudah terlampaui. Sebagai hasilnya, saya merasa tidak berdaya dan suntuk sendirian. Saya merangkak melalui hari-hari saya dengan kosong seperti tanpa harapan.

Entah mengapa pencobaan ini disebut biasa?

Seorang lain mencoba menghibur dengan mengatakan: “Kita tidak akan mengalaminya jika Tuhan merasa kita bisa menanggungnya.”

Tidak semua orang mengalami penyakit. Banyak orang yang hidup merdeka dari penyakit berat dan tutup usia setelah memiliki cicit. Saya mengenal seorang teman yang tidak pernah mengalami pergumulan apapun seperti yang saya alami. Setelah selesai sekolah menengah melamar ke universitas dambaannya, langsung masuk. Empat tahun langsung tamat. Setahun kemudian diterima di lembaga Negara. Dua tahun kemudian mendapatkan beasiswa ke Eropa. Beberapa waktu menikah dengan pasangan yang cantik sempurna, dibelikan rumah dan perlengkapannya oleh kedua orangtua yang bangga dan dalam tempo singkat memiliki keluarga sakinah mawardah yang tidak ragu memasang foto-foto cerminan kesempurnaan di facebooknya.

Sementara saya merangkak mencari universitas swasta yang paling bisa dibiayai oleh orangtua saya. Setelah selesai kuliah mengirim ratusan CV sebelum mendapatkan kesempatan wawancara dalam hitungan jari tangan. Berbulan-bulan menggangur sebelum mendapatkan pekerjaan dan harus puas dengan pekerjaan tanpa karir dan bergaji sedang sedang saja. Saya harus mencicil lima belas tahun untuk sebuah rumah sederhana. Setelah saya merasa tenang sedikit, saya mendapatkan vonis penyakit.

Ah. Lalu apakah itu berarti di mata Tuhan saya lebih kuat menanggung pencobaan daripada orang-orang yang lain? Sehingga kepada saya diberikan hanya sebegininya sedangkan orang lain sebegitunya?

Saya tidak terhibur dengan ide itu. Tidak sama sekali. Kalau tahu begitu, saya tidak akan bersikap begini tegar. Lebih baik saya cengeng dan mencla-mencle supaya Tuhan kasihan dan hidup saya dimudahkan. Bukankah begitu?

Saya ingin Tuhan mengatakan kepada saya: memang tidak ada pencobaan yang biasa. Menangislah dan marahlah. Aku akan menjamin, bahwa semua kemarahan dan tangisan itu, semua keraguan dan kekuatiran itu, sudah diampuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s