Learn From Hannah

Standard

This slideshow requires JavaScript.

Setelah drama alkitab, kali ini drama bercerita tentang seorang bapak yang membagi-bagikan traktat kesehatan. Setelah berulang-ulang ditolak oleh orang-orang, traktatnya malah diminati oleh anak-anak. Malah karena anak-anak itulah orang-orang dewasa kemudian juga tertarik.  Semua terlibat bermain drama (seperti biasa) dan menyanyikan lagu Tarik Jiwa Satu sebagai penutupnya.

Untuk lagu istimewa kelas Kindergarten menyumbangkan nyanyian. Waktu latihan lumayan ada enam orang yang latihan, tapi pas tampil, sisa tiga orang, yang akhirnya setiap orang pegang satu mic sendiri dan menghasilkan suara-suara yang lumayan heboh. *thumbs-up*

Saya deg-deg an bukan lagi waktu anak-anak berkhotbah, tapi waktu tiga orang — Arvy, Jeremi dan Ryan, masuk ke mimbar. Biasanya ada orang dewasa yang mengiringi mereka, tapi sekarang mereka sendiri saja. Berdoa, duduk, berdiri, dan menjalankan tugas mereka dengan mulus dan percaya diri.

Lagu istimewa kali ini benar-benar istimewa. Junior memainkan biola “The Holy City” dan grup memainkan biola “Angkat Nafiri”. 10 biola bermain bersama-sama, soprano dan alto. Walaupun nadanya engga bener-bener pas semua, maklumlah masih baru belajar, tapi secara keseluruhan sangat memenuhi syarat untuk sebuah lagu istimewa.

Khotbah kali ini berkisah tentang Hannah. Hannah adalah seorang ibu yang pada awalnya bersedih karena keadaannya yang tidak mempunyai anak. Namun melalui ketegaran yang juga diajarkannya kepada anaknya, Samuel, ia pada akhirnya berbahagia. Tidak semua ibu seperti Hannah yang mampu mengajarkan ketegaran dan kemandirian dalam waktu singkat. Tidak semua anak bertumbuh seperti Samuel yang tidak cengeng.

Setiap anak menceritakan sebuah bagian dari cerita perjuangan Ibu Hannah dan menutupnya dengan sebuah lagu.  Arvy dengan pujian How Excellent Your Name Is. Patricia dengan Walau Seribu Rebah.  Jeremi dengan Sembilan Puluh Sembilan. Ryan dengan Pelangi Di Balik Hujan. Sharon, Fifin, Steven, Matthew dengan pujian I Will Sing For The Mercies dan diakhiri dengan kesimpulan oleh Ryan dan lagu pujian My Tribute oleh Patricia. I myself felt so blessed play the piano dan violin for and with these talented children. Each time I create a program for them, there is nothing much I plant in them more than what they actually had.  I only guide them towards the right pathway and give them a chance to explore themselves.  Hope they will continue their service toward God only, learn to lean to Him and to be like Him only.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s