Cerita Yang Nyata

Standard

Ada satu hal dari masa kecil saya yang membuat saya merasa ‘dicekoki’ dengan sebuah pengajaran yang salah. Beberapa dan terbilang sering, dongeng dan kisah tentang tiga orang bersaudara atau tiga orang anak, menempatkan anak bungsu sebagai anak yang paling bijaksana. Coba ingat-ingat….benarkah demikian?  Jika seorang raja memiliki tiga orang anak, maka ia akan memilih si bungsu sebagai penggantinya karena hanya si bungsu yang berhasil memecahkan teka-teki yang ia buat.  Jika tiga bersaudara dapat warisan, maka si sulung dan anak tengah akan menguasai harta benda hingga karma berpindah dan si bungsu hidup bahagia selama-lamanya. 

Padahal dalam dunia nyata, hal yang sebaliknya lah yang lebih sering terjadi. Karena itulah saya sangat setuju penokohan Yesus dalam perumpamaan Anak Yang Hilang!  Bukan sekedar memuji-muji kehebatan Yesus yang hanya seorang tukang kayu tidak pernah kuliah psikologi, tapi bukankah ternyata hanya Dia yang bisa mengarang sebuah cerita yang sungguh nyata? Tidak salah saya mengikuti jejakNya.

Baiklah. Tulisan ini masih lanjut. Dalam kisah-kisah sebelum tidur yang lain, seringkali diposisikan seseorang yang baikkkkkk banget dan seorang yang jahaaaaaat bangets. Nah. Ambil contoh Bawang Merah dan Bawah Putih ~~yang karakternya diadopsi oleh sinetron Indonesia~~.  Bawang Merah digambarkan begitu jahatnya hingga tidak ada sisi baik sedikitpun, dan Bawang Putih digambarkan begitu baik dan sempurna.  Contoh lain lagi, Cinderella yang terkenal itu. Merana diperlakukan sebagai budak tapi selalu tampil lembut dan sopan tanpa perlawanan sedikitpun.  Apakah mungkin seorang manusia yang normal bertingkah seperti itu?  Saya percaya tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup terus-menerus baik tanpa cela sedikitpun.  ~~sekali waktu saya pernah nonton Drew Barrymore bermain sebagai karakter Cinderella. Menurut saya baru itulah penokohannya masuk akal, karena Cinderella yang pekerjaannya menggosok lantai dapur bisa iseng mengerjai ibu tirinya~~

Penokohan-penokohan seperti itu membuat anak-anak dan manusia umumnya berpikir hitam dan putih. Bahwa manusia yang baik akan baik terus dan manusia yang jahat akan jahat terus. Mengapa seorang ibu dalam cerita anak-anak tentang Ayub bercerita begini: “Anak-anak jangan seperti isteri Ayub ya? Walaupun sengsara jangan pernah berpikir untuk mengutuki Allah.”  ~~saya juga pernah diceritai demikian bertahun-tahun yang lalu~~  Padahal, jika saja kita berdiri di tempat isteri Ayub mungkin juga kita akan mengatakan hal yang sama kepada pasangan kita. Ayub duduk di atas debu meratapi nasibnya saja. Bicara soal kehilangan, bukankah kehilangan yang ia rasakan sama banyaknya dengan yang dirasakan isterinya. Bahkan lebih, karena isterinya yang merasakan sakitnya melahirkan sepuluh orang anak dan yang berletih merawat mereka selama itu? ~~beberapa tahun yang lalu pelajaran sekolah sabat dewasa memperbaiki posisi isteri Ayub yang selama puluhan tahun menempati posisi sebagai si jahat ini~~

Karakter lain yang  juga sering diceritain kepada anak-anak sebagai tokoh yang kurang baik adalah Martha.  Saat Yesus dan murid-murid berkunjung ke rumah mereka, Martha sibuk di dapur menyiapkan santapan.  Ia mengharapkan bantuan dari Maria, yang selama itu duduk dekat dengan Yesus mendengarkan beliau berbicara.  Karena Martha tahu tidak akan yang lebih berkuasa daripada Yesus untuk menegur Maria maka ia meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya.  Lalu pencerita untuk anak-anak akan bertanya: “Siapa yang mau seperti Maria ? Siapa yang mau seperti Martha?”  Aha! Sekali lagi satu menjadi tokoh jahat dan satu lagi menjadi tokoh baik.

Saya menyakini Martha juga ingin untuk duduk-duduk mendengarkan cerita Yesus. Tentunya hal itu lebih menarik daripada berkeringat di dapur. Tapi Martha memikirkan kepentingan semua orang.  Ia tahu jika santapan terlambat disajikan, maka orang akan merasa lapar, dan pekerjaan penting Yesus yang berikutnya boleh jadi akan terhambat.  Yesus menegur karena seharusnya Martha bersukacita dengan bebannya, bukan karena Martha melakukan sebuah kejahatan.

Menutup tulisan ini, mudah-mudahan dimasa yang akan datang, setiap orang dewasa yang bercerita untuk anak-anak lebih waspada. Memaknai sebuah cerita bukan demi hitam dan putih atau baik dan buruk saja, tetapi menggali lebih dalam. Mengisahkan sebuah cerita yang nyata, seperti teladan yang telah diberikan Yesus sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s