Bersaksi

Standard

Saya harus akui bahwa saya seringkali menghindari waktu-waktu kesaksian dalam perbaktian.  Saya hampir tidak pernah memberikan kesaksian.  Pada tahun baru 2005, saat waktu kesaksian, saya membacakan sebuah puisi.  Hanya itu selama hampir 40 tahun usia saya.

Ada alasan-alasan mengapa saya ‘takut’. Pertama, sedari kecil saya mendengar orang yang menggunakan mimbar kesaksian sebagai ajang pamer diri.  Contoh: “Saya bersyukur bahwa Tuhan sudah memberkati saya bulan ini sehingga saya dapat membeli sebuah Mercy terbaru.”  Orang itu memang kaya dan berganti-ganti mobil setiap beberapa bulan. Bagaimanakah perasaan orang lain yang bahkan tidak mampu untuk membeli sebuah motor merasa tergugah, selain daripada merasa sebal? Orang dengan mudah membedakan apakah dia sedang bersaksi atau sedang menyombongkan diri.  Akan berbeda jika seorang yang sederhana dan selama ini datang ke gereja dengan angkot bersaksi: “Puji Tuhan, setelah sekian lama saya berhasil membeli sebuah mobil Daihatsu.”

Kedua, ada orang-orang yang menggunakan mimbar kesaksian sebagai ajang curcol atau curhat colongan. Kalau curcol nya hanya tentang dirinya sendiri mendingan, ada yang curcol nya tentang anggota jemaat lain: “Saya tersinggung dengan sikap seorang ibu di jemaat ini yang meminjam uang kepada saya tapi tidak dikembalikan.” What? Ini jelas bukan kesaksian yang menguatkan, tapi pekabaran tentang kelemahan orang lain. Seringkali ajang kesaksian menjadi curcol orang-orang yang tersinggung, marah, tidak senang dengan orang lain.

Ketiga, saya pernah bersaksi pada saat berusia 12 tahun, bahwa saya ingin didoakan agar bisa lulus ujian saringan masuk SMP negeri.  Setibanya di mobil ayah saya menegur: “Jangan bilang-bilang orang kamu mau masuk SMP negeri, nanti mereka marah.” Kenapa? karena sebagai anggota majelis jemaat, seharusnya ayah saya secara moral menyekolahkan anak-anaknya di sekolah gereja.  Dalam usia 12 tahun mana saya tahu urusan politik seperti itu, saya hanya berbicara apa adanya.  Tapi saya malu ditegur begitu, dan saya jadi ‘trauma’ untuk memberikan kesaksian pada lain kalinya.

Kesaksian adalah saat pengalaman kita memberikan kekuatan rohani kepada orang yang mendengarkan, bukan sebaliknya. Kesaksian adalah saat kehidupan kita menjadi suatu kegembiraan kepada orang lain, bukan sebaliknya. Kesaksian adalah pada saat roh kudus yang memimpin bukan pemikiran kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s