KKR Anak Wilayah 12

Standard

Minggu-minggu yang lalu, gw merasa cukup sibuk dengan kegiatan pelayanan anak-anak.  Setelah acara Sabat ke -13 yang tidak gw hadiri…(hehe)…dimana anak-anak membuat sebuah drama singkat plus menyanyikan lagu-lagu yang mereka sudah kuasai sebelumnya, minggu depannya mereka latihan cepat untuk KKR anak-anak.

KKR nya tidak mendadak, cuma partisipasi dari kitanya aja.  Ada sedikit miskom.  Kalo dari sisi gw-nya, memang engga pernah dapet undangan rapat.  But, anyway…anak-anak yang memang udah pernah berkhotbah-lah yang dilatih.  Aless, untuk hari Sabat.  Jeremi, Gaby & Michelle untuk giliran malam.  Kebagian pas malam sabat.  Julio Cs nyanyi satu kali malam jumat.  Jeremi Cs nyanyi satu kali malam sabat. Nick, yang sebenarnya sudah meninggalkan kelas Power Point, dipanggil lagi untuk Khotbah kesehatan kamis malam.  Nick memilih topik Memelihara Kesehatan Hewan Peliharaan, sesuai dengan interest nya kepada hewan. Karina juga dipanggil terakhir untuk Khotbah kesehatan Jumat malam, bertema Memilih Jajanan.

Mereka semua dapet waktu seminggu untuk latihan, kecuali Gaby yang memang akan mengulang khotbah yang ia bawakan di acara sabat khusus anak-anak .  Bagusnya adalah, yang sangat gw syukuri, latihan-latihan selama ini bukan sekedar membentuk mereka untuk mampu berkhotbah, tetapi juga mampu beradaptasi cepat dengan bahan khotbah.  Kualitas yang mereka tunjukkan bukan lagi semata-mata hasil latihan.  Ibarat pembentukan tabiat, sekarang tabiat itu sudah terbentuk.  Talenta-talenta yang berpotensi menjadi karunia, sekiranya anak-anak ini dengan sukarela menyerahkannya ke tangan Tuhan. 

Gw ingin sedikit menyoroti tentang bahan khotbah di KKR Anak-anak… Berbicara tentang mimpi Nebukadnezar, simbol-simbol patung, kerajaan 1000 tahun plus kematian dan kebangkitan memang bagus but kelihatannya masih terlalu berat untuk anak-anak.  Entah kenapa para petinggi yang menyebut diri mereka pendidik, pemimpin pelayanan anak-anak di tingkat-tingkat tinggi organisasi kelihatannya gagal memahami jiwa anak-anak.  Mungkin benar bahwa beberapa dari anak-anak itu akan memperhatikan isi khotbah? Berapa persen?  Tapi jelas, bahwa jenis bahan khotbah seperti itu tidak akan merangkul semua anak, mulai usia 4 hingga 14 tahun.  Hasilnya adalah suara lebah keluar dari sarang mendengung hampir di sepanjang khotbah.

Hasilnya tentu akan beda, jika khotbah itu menyangkut sebuah topik yang berada dalam dunia anak-anak.  Permainan, teman, makanan atau tempat wisata.  Gw ga berniat sombong ketika mengatakan bahwa anak-anak yang membawakan khotbah dan ceramah kesehatan yang gw susun, setelah membawakannya dengan baik, artinya dengan suara tenang, lantang, tegas, telah menjaring perhatian audiens hingga 85 persen.  Sisa yang masih ribut, adalah suara-suara orang-orang dewasa yang berceloteh diantara mereka sendiri dan men-distract perhatian.   Kenapa justeru gw, yang ga punya latar belakang bidang pendidikan, bukan seorang direktur departemen, yang berpikir sedemikian ini.  I wish in the future, dipilihlah seorang yang berwawasan untuk menjadi direktur departemen pelayanan anak-anak, di berbagai tingkat, di Konferens, di Uni, atau di Divisi.  Bukan cuma milih, karena kebeneran suaminya ketua divisi, atau officer uni, atau karena udah malang melintang menjadi guru di sekolah gereja. 

Hal kedua yang juga menurut gw ga sesuai di KKR anak ini adalah, bahwa pemimpin di organisasi menyarankan (dan sedikit memaksa) adanya panggilan di malam terakhir.  Gw ga setuju bukan karena panggilan itu salah, hanya saja, what to expects from children that is mostly are in primary age?  Anak-anak tidak biasanya membuat keputusan sepenting itu sendiri, apalagi anak-anak di dunia timur ini, dimana adat istiadat masih kuat, dan orangtua adalah figur yang penting dalam pengambilan keputusan.  Orangtua lah yang berperan mengkomunikasikan kepada anak-anak tentang pentingnya baptisan dan bertanya kepada mereka apakah memang mereka memiliki suatu kerinduan untuk baptisan.  Tidak sedikit orangtua yang ‘maksa’.  Tapi gw jarang sekali mendengar anak-anak yang mengambil keputusan tanpa campur tangan orangtua.  Budaya Indonesia seperti itu adanya.  Berbeda dengan kebudayaan barat dimana anak-anak memiliki kebebasan tersendiri dan mereka selalu merasa berhak untuk itu.  Di Indonesia, jangankan anak usia Primary, gw aja yang di atas kertas udah jauh diatas 17tahun-ke-atas, sering-sering dianggap anak kecil oleh ibu gw. Disuruh-suruh salam menyalami dan bolak-balik memperkenalkan diri kepada orang-orang yang dia anggap sodara-sodara yang perlu dituakan.  Tidak ada yang namanya penghormatan kepada anak, berapapun usianya.   Berbekal dari pengetahuan itulah maka gw pikir panggilan di malam terakhir itu hanya akan efektif jika orangtua masing-masing anak-lah yang mengkomunikasikan hal itu.  Kalo di Amerika/Venezuela statistik menunjukkan bahwa anak usia 6-14 tahun banyak yang mengambil keputusan baptisan, itu tidak serta merta berarti di belahan dunia yang lain akan juga didapatkan statistik yang sama.

Well, in overall, untuk anak-anak di Pamulang, KKR ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.  Hari sabat, saat anak-anak main angklung, membawakan panggung boneka, dan mendengarkan Aless yang membawakan khotbahnya secara luar biasa tenang, mereka sekali lagi mendapatkan pengalaman dan pertumbuhan rohani yang positif.

Catatan kecil: Aless berharap juga dapat piala, seperti Jeremi, Gaby, Michelle, Nick & Karina yang tampil sebagai pembicara, dan mendapatkan nya pada malam sebelumnya.  Sayang nya untuk dia ga tersedia.  Hmm….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s