Anda Harus Memiliki Sesuatu

Standard

Seorang murid perempuan yang bernama Tabita, atau Dorkas.  Orang-orang Yahudi memanggilnya Tabita, sedangkan orang-orang Yunani memanggilnya Dorkas.  Kemungkinan besar Tabita adalah orang Yahudi, yang terbuka terhadap Hellenisme.  Tetapi apakah panggilannya Tabita atau Dorkas, namanya berarti rusa muda.

Kemungkinan Tabita adalah seorang janda.  Saat Petrus datang yang membangkitkan dia dari kematian, tidak disebutkan di alkitab mengenai adanya seorang suami dan anak-anak.  Gantinya, wanita-wanita janda yang miskin-lah yang mengelilingi jenasahnya, menangis meraung, dan menunjukkan kepada Petrus baju-baju yang telah dibuat Tabita untuk mereka.

Ternyata ada janda yang perlu ditolong.  Ada janda yang menolong.  Di jaman dahulu, seorang janda memiliki status yang sulit di masyarakat.  Tidak mudah untuk mereka hidup sendiri.  Jika masih muda, mata orang akan terikat dengan stigma kepada mereka.  Tidak mudah bagi seorang janda untuk memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidupnya.  Itu sebabnya Paulus menasehatkan janda-janda yang muda untuk menikah lagi. 

Tabita berhasil melalui stigma.  Ia hidup membaktikan dirinya untuk keperluan orang lain.  Menggunakan hal sedikit yang ada padanya untuk melakukan hal-hal yang baik.  Bukan hanya membantu memberikan makanan dan pakaian tapi juga memberikan perhatian.  Sekiranya Dorkas hanya memberikan makanan, dan memberikan pakaian, tidaklah perempuan-perempuan itu menangis keras-keras.  Dorkas memberikan kepada mereka lebih dari sekedar materi.  Kasih sayang dan perhatian yang dituangkan lewat benang-benang jahit membekas lebih dalam daripada helaian kain-kain yang dapat saja sobek atau aus.

Mengapa saya ingin membawakan Tabita di ruangan ini.  Pertama, karena seperti kebanyakan kita, Tabita adalah orang yang berkekurangan.  Mungkin suami-nya dahulu kaya, mungkin ia memperoleh warisan berlimpah.  Tetapi ia janda.  Jangan lupa, kita berbicara tentang masa perjanjian baru saat rasul-rasul sedang sibuk-sibuknya berkeliling dunia membagikan kabar Kristus.  Bukan jaman seperti sekarang, saat single-parents menjadi tren.  Tabita punya kekurangan.

Tabita memberikan teladan untuk tidak menyerah kepada kekurangan kita.  Melayani Tuhan bukan dari kelebihan kita, tetapi dari apa yang ada pada kita.  Yesus tidak memuji orang-orang Farisi yang mendentingkan uang emas dan perak mereka di kotak persembahan.  Yesus menghargai dua keping perak dari seorang perempuan miskin. 

Jika saudara mempunyai 10 sepatu, dan memberikan 3 dari antaranya untuk orang lain, saudara tidak perlu merasa bangga.  Saudara masih punya 7 pasang!  Masih lebih dari cukup.  Tetapi jika saudara mempunyai hanya dua pasang sepatu, dan saudara mau memberikan satu pasang kepada orang lain, itu jauh lebih baik.

Jika saudara mencari pakaian-pakaian bekas yang sudah tidak terpakai dan sudah tidak saudara sukai lagi untuk disumbangkan ke derma, saudara tidak perlu merasa bangga walaupun jumlah pakaian itu mencapai ratusan! Jika saudara hanya punya dua setel pakaian, dan bersedia memberikan satu setel kepada orang lain, itulah yang disebut dengan memberi dengan sukacita.

Tabita memberi dan melayani dengan sukacita. Namanya tidak akan dituliskan dalam Alkitab sekiranya ia berpikir: “Aku ini miskin, janda, dan tidak punya apa-apa.  Jadi aku tidak bisa melayani Tuhan.”  Mengapa saudara berkutat dengan kemiskinan bukan untuk membuatnya menjadi suatu pengharapan akan Tuhan, melainkan membuatnya menjadi suatu cara untuk mengasihani diri sendiri?   Mengapa saudara terus-terus mengharapkan pemberian karena saudara merasa miskin dan luput dari bersyukur kepada Tuhan dengan cara berbagi?

Tabita memilih untuk menjadi Dorkas, bukan menjadi wanita-wanita janda yang menangisi dia.  Tabita bukan hanya melakukan pekerjaan yang baik, tetapi memilih untuk beramal.  Charity.  Berbagi dengan orang lain, yang sama tidak mampunya dengan dia.

Satu hal penting dari Tabita yang seringkali luput.  Saya berpikir, bahwa Tabita adalah sebuah contoh konkrit dari seorang wanita modern.  Tabita hidup di masa yang salah!  Saudaraku wanita, dengan cara apa anda melayani Allah?  Apakah anda seperti Tabita yang selalu mempunyai kerinduan untuk  melayani?

Perhatikan baik-baik.  Apa yang dilakukan Tabita? Menjahit pakaian.  Menurut saudara, mampukah ia menjahit pakaian, jika ia tidak punya keterampilan menjahit? TIDAK. 

Saudaraku wanita, jika saudara ingin melayani, saudara harus punya sesuatu.  Suatu talenta, suatu keterampilan, dan suatu kemauan untuk belajar.  Saudara tidak akan dapat seperti Dorkas memberi makan kepada orang lain jika saudara tidak tahu caranya mengolah makanan.  Saudara tidak mungkin menjahit untuk orang lain jika saudara tidak tahu cara menjahit.  Nasihat penting secara tidak langsung diberikan oleh Dorkas.  Belajarlah sesuatu!  Dalamilah sebuah keterampilan yang memungkinkan saudara melayani sesama manusia demi melayani Tuhan.  Lepaskan semua kemalasan dan ketidakacuhan yang selama ini membelenggu saudara!  Pelajari sesuatu dan layani Tuhan! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s