Giving

Standard

Yesus berdiri di muka bait suci. Orang Farisi lalu lalang dan membawa pundi-pundi mereka ke guci tempat persembahan.  Uang emas dan perak mereka berdenting nyaring tidak putus-putusnya.  Semakin banyak persembahan mereka, semakin nyaring dan semakin lama bunyi terdengar.  Seorang janda, bergegas mendekati guci persembahan.  Memasukkan dua kepingnya yang terakhir.  Suara yang tidak nyaring dan gaungnya habis dalam sepersepuluh detik.

Tapi Yesus mengatakan, bahwa persembahan janda tersebut lebih indah di surga.  Ketulusan hati dan pengorbanan yang menyertainya menjadikan pemberian sederhana itu bernilai.

Jadi, siapa yang mengatakan bahwa memberi adalah berasal dari kelimpahan?  Apakah seseorang harus memiliki ‘lebih’ baru mampu memberi?  Jika saya mempunyai tiga sepatu dan memberikan satu kepada peminta-minta, pengorbanan apa yang saya lakukan.  Bukankah saya bisa hidup dengan dua pasang sepatu, bahkan dengan satu saja.

Jika lemari saya penuh baju-baju yang saya tidak sukai lagi, lalu baju-baju itu saya berikan ke panti asuhan, apakah saya berkorban?  Saya tidak memberi dengan pengorbanan, tetapi saya sedang ‘membuang’ barang bekas.  Saya tidak tulus, saya ingin mengosongkan lemari saya.

Dan jika saya mempunyai uang satu milyar, lalu memberikan 100ribu rupiah kepada pengemis.  Apakah saya beramal? Saya tidak berkorban, saya memang punya banyak uang.  Untuk apa saya membanggakan pemberian seharga 100ribu rupiah.

Memberi dengan sukacita adalah ketika dengan memberi saya berkorban.  Saya membuat prioritas apa yang harus saya lakukan atau tidak lakukan.  Jika saya mengurangi makanan saya demi memberi untuk seorang pengemis, padahal saya tidak punya makanan lain, maka barulah saya ‘memberi’.

Jika saya tahu bahwa menyumbang untuk kegiatan gereja akan membuat saya gagal membeli sebuah sepatu yang baru, atau membuat saya tidak mungkin lagi untuk pergi jalan-jalan ke mal, maka itulah pemberian yang sukacita.

Memberi bukan dari kelimpahan.

Memberi dari apa yang ada pada diri kita pada saat kita memiliki sedikit membangun karakter kristiani seperti yang diinginkan Allah.  Memberi adalah kebiasaan.  Sama seperti sikat gigi, cuci kaki dan mandi.  Jika tidak pernah dilakukan, tidak akan mungkin mau melakukannya, baik miskin atau kaya, baik sedikit atau berlimpah.

Jika tidak pernah memberi saat miskin, anda tidak akan memberi saat kaya.  Give now!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s