Acara Pembangunan Tabiat Anak

Standard

makes.jpg

Setiap kali libur lebaran, gw ga tau dah mo ngapain.  Mo jalan-jalan ke mana aja, kalo ga penuhhhh bangettttt….pasti sepi banget.  Contohnya, kalo mo ke Ancol, lhah…apa bedanya dengan cari keringet doang, karena semua orang tumplek blek di sana.  Ke Bandung? Sama aja, selain macet, hotel-hotel pasti penuh.  Kalo ke tempat sodara?  Sepi banget lah…mereka juga lagi repot karena ga ada pembokat. 

Penderitaan demikian gw rasa adalah milik banyak orang.  Karena itu tahun ini gw berinisiatif untuk membuat Acara Pembangunan Tabiat Anak bertajuk Sekolah Injil Liburan. 

Bulan Juli yang lalu, di akhir masa liburan sekolah, gw udah bikin acara seperti ini selama 3 hari, hitung-hitung sebagai pilot project.  Waktu itu gw memberi mandat kepada Kak Silvy Hutabarat untuk menjadi boss project.  Acara-nya juga tidak terlalu ribet: Belajar nyanyi, mendengar sebuah cerita, lalu membuat sebuah pekerjaan tangan, ditutup dengan makan bersama.

Menu makanan terdiri dari kacang hijau ~~yang rata-rata anak ga doyan~~, kolak ~~Melvin cuma mau makan (ato minum) kuahnya~~ dan baru terakhir makanan sejuta umat, yaitu Indomi.

Peserta-nya mencapai 18 orang.  Diakhir acara, semua peserta mendapat kenang-kenangan sebuah tempat makanan.

Bulan Oktober ini, karena sudah belajar dari pengalaman yang lalu…acaranya dibalik.  Tanpa nyanyi-nyanyi, begitu dateng langsung membuat sebuah proyek pekerjaan tangan.  Semua anak membuat sebuah topeng, muka manusia dari bubur kertas yang dicampur dengan tepung kanji.

dsc01222.jpg

Anak-anak yang kecil-kecil cukup tertarik.  Mereka berusaha keras membuat sendiri versi wajah mereka.  Mereka juga dengan setia menjemur bubur kertas sampai kering, dua hari kemudian, dan mengecat sebuah wajah dengan menggunakan kuas dan cat kayu.  Sementara menunggu cetakan kering, mereka membuat cetakan sebuah daun di atas kertas.

Terbukti, anak-anak tidak lagi telat datang ke acara APTA.  Rupanya memang mereka lebih tertarik kepada pekerjaan tangan daripada yang lainnya. 

Untuk lebih meriah, kita juga mengundang anak-anak dari jemaat-jemaat lain di sekitar Pamulang.  Lumayan juga tamu yang hadir, ada sekitar 7 orang anak yang menjadi tamu tetap selama 4 hari acara.  Total anak-anak mencapai 30 anak.

Setelah menyelesaikan pekerjaan tangan, anak-anak dibagi menjadi dua kelas.  Kelas anak-anak yang sudah sekolah dengan yang belum bersekolah.  Kelas besar, dipimpin Pak Pendeta, belajar pendalaman Alkitab.  Bukan main-main pelajaran mereka, sampai-sampai ada kata kunci atakanyasabarhubelgela dihafal mati, untuk menghafal 10 tulah.

Kelas kecil, dipimpin Ibu Nur Hutagaol, mendapatkan cerita alkitab dengan tema yang sama dengan lebih banyak alat peraga dan nyanyian.  Setelah satu jam belajar, barulah makan siang bersama.  Menu-nya, nasi, sup, tempe goreng ~~udah kedua kalinya gw liat bahwa anak-anak doyan tempe goreng…sungguh!!~~ dan pada hari terakhir nasi kuning dan ayam goreng.

Kalau pada bulan Juli mereka dapat sebuah tempat bekal, bulan Oktober ini, selain ditamatkan mereka juga mendapatkan hadiah sebuah kantongan snack.  Yang lebih menyenangkan kelihatannya adalah hasil karya mereka.

paper_all.jpg

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s