Awasss Banjirrrr

Standard

boneka.jpg

Tahun 2007 awal, gw udah mulai berpikir keras untuk berbagai proyek.  Proyek main-main yang menyenangkan tentunya.  Salah satu dari gagasan itu adalah membuat panggung boneka.  Panggung boneka engga gampang, mempertimbangkan bahan, biaya, boneka, keahlian anak-anak dan lainnya.

Dengan bahu-membahu bisa juga dilakukan ternyata.  Gw menyisihkan sedikit uang untuk minta tolong opa Korompis membuatkan sebuah lajur tripleks seperti panggung. Tante Yanti Mandey melukis pemandangan diatas tripleks dan menjahit gambar-gambar flanel menjadi sebuah boneka.  Kak Silvy Hutabarat menjahit tirai gorden.  Gotong royong kan?

Bagian tersulit adalah melatih anak-anak.  Ini yang gw suka sebel banget!  Beberapa anak-anak memang mudah diarahkan, tetapi beberapa yang lainnya luar biasa susahnya.  Ada anak yang gagap-gagap terus setiap kali mengucapkan dialog-nya.  Anehnya, kalo ribut dan nyautin dia ga gagap. Ada anak yang tidak pernah ingat dialog-nya walopun udah latihan ke lima.  Gw kirim surat kepada ortu/ompungnya supaya dilatih dirumah.  Hasilnya, sama aja…ga ada improvement samasekali.  Terpaksalah Tante Yanti berbisik-bisik di belakang layar untuk ngingetin.

Ada anak yang walopun udah esempe, tapi maunya ngoceh terus tanpa berenti, padahal anak lain sedang mengucapkan dialognya.Ada anak yang mau ngetok-ngetok mike terus, ada yang kalo di depan mike lalu berteriak….aneh deh gw…karena itu bagian latihan adalah bagian paling headache dari proyek ini. 

Untungnya setelah dipentaskan, orang-orang memuji bahwa panggung boneka-nya bagus.  Sehingga ketika ada acara anak-anak di Cibubur, kami sepakat untuk menggotong set panggung dan memainkan panggung boneka disana.

Ngomong-ngomong soal acara di Cibubur itu, yang dinamakan Perona, ada sesuatu yang bikin gw merasa ga enak banget.  Jemaat Pamulang dapet giliran no 97…yang mana baru dapet giliran jam 5 sore.  Penonton udah hampir ga ada, dan anak-anak udah cape banget juga!  Padahal, bukannya gw mo nyela ~~padahal emang iya~~ anak-anak yang dapet giliran pagi sebenernya lebih pada ancur, daripada yang giliran sore.  Gw sangat keberatan dengan sikap subyektif panitia yang keliatannya cari aman untuk jemaat-nya masing-masing aja, dan melupakan kekompakan dan kebersamaan.  Lagian, yang paling bete adalah, pas gw nyari informasi ke belakang panggung mengenai jam berapa kita dapet giliran, seorang ibu yang mungkin udah merasa hebat banget di konferens DKI ini karena ada namanya di setiap kepanitiaan, dan juga ia adalah seorang ketua jemaat di kawasan Jakarta Timur, langsung menghardik gw dengan kasar, “Yaa….ditunggu aja!”  tanpa ngeliat muka gw juga.

Ampunnnn…..setengah mati gw menahan diri untuk engga marah dikasarin gitu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s