Password

Password

You might aware that every posting with topic: Pastor’s Wife is protected with a password. Should you interested to read it, please contact me and I will be willing to share it with you.  I am writing there much of my experience and my feeling during my service as a pastor’s wife. Of much honesty I protected it against misunderstanding. If you want to share your experience as so, please write to me: cekeysh@gmail.com.  God Bless You.

His Eyes Is On Me

His Eyes Is On Me

Saya mendadak teringat pengalaman saya mengunjungi kuil Bayon di Siem Reap, Kamboja.  Memasuki kuil Bayon kita harus melewati gerbang yang (tadinya) berupa tembok tebal yang sekarang hanya tersisa sebagian dan masuk di bawah kubah yang terdiri dari empat kepala Bayon yang melihat ke empat penjuru.

Seketika memasuki kubah empat kepala yang terasa sejuk di bawah matahari Siem Reap saya merasakan kesejukan di hati saya.  Teringat dengan ucapan Salomo di dalam Amsal 15:3 Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.  Sekedar membaca ayat itu bertahun-tahun yang lalu tidak menimbulkan perasaan sejuk seperti yang saya rasakan dibawah gerbang Bayon. Ayat itu seringkali dikutip untuk anak-anak dan orang muda agar tidak berbuat nakal –karena mata Tuhan mengawasi semuanya.  Dengan penafsiran demikian ayat itu menimbulkan awan kengerian yang mendirikan bulu kuduk bahwa Tuhan lebih canggih dari mata-mata CIA seketika bisa menyadap apa saja kegiatan kita bahkan yang paling pribadi sekalipun.  Lalu, kalau saja tidak berkenan di hatiNya, maka akan marahlah Dia dan menghukum manusia dengan caraNya.

Orang Khmer kuno dengan penafsiran tersendiri membuat sebuah patung yang berkepala empat melihat segala arah, mempercayai begitulah Tuhan atau Buddha yang bijaksana atau raja mereka Jayavarman mampu melihat mereka di segala arah bumi.  Bukan semata melihat kesalahan, namun melihat apakah rakyat jelata memerlukan perhatian. Apakah makanan mereka cukup? Apakah atap yang menaungi mereka hangat? Seperti itulah sang dewa berwajah empat itu mampu melihat jauh melebihi batas mencoba mengatasi penderitaan umatnya.

Untuk saya kuil itu lebih baik merepresentasikan Tuhan yang saya kenal daripada ajaran banyak orang Advent yang mengutip si ayat untuk menakut-nakuti.  MataNya memandang, orang baik dan orang jahat.  Tidak ada yang terluput.  Tidak hanya melihat tampilan luar namun melihat jauh ke dalam lubuk hati.  Tidak hanya menilai kesalahan namun sungguh memahami kebutuhan saya sebagai manusia. Jika Bayon saja bisa memandang sedemikian, tentunya Tuhan lebih lagi.  Seharusnya.

Sebuah lagu terngiang. Selidiki aku. Lihat hatiku. Apaku sungguh mengasihiMu Yesus.  Kau yang maha tahu. Dan menilai hidupku.  Tak ada yang tersembunyi bagiMu.

Raising an only child

Raising an only child

I’m raising an only child.  Karena dia satu-satunya, maka saya juga berpikir untuk ekstra serius dalam pola asuh saya kepadanya.  Seharusnya semua orangtua berpikir yang sama ya? Bukan karena punya anak tiga lalu jadi tidak serius, lalu kalau hanya punya satu jadi luar biasa serius. Hm.

Saya memahami apa yang disebut dengan pola asuh yang berulang. Artinya cara pengasuhan orangtua kita kepada kita, kita ulangi, kita kloning kepada anak kita, sang generasi penerus.  Kadang pengulangan itu secara sadar.  Orang dewasa yang menjadi orangtua mengulang cara pengasuhan orangtuanya karena dalam pendapatnya itulah cara yang terbaik mengasuh anak.  Orang dewasa yang lain mengulang cara pengasuhan itu karena sudah terbiasa, dan walaupun tidak terlalu menyukainya, terperangkap dalam stereotype karena kebiasaan.

Saya teringat beberapa kebiasaan baik dari pola asuh orangtua saya yang dengan sadar saya terapkan kembali kepada anak semata wayang saya.

Satu, orangtua saya tidak pernah tidak membawa saya ke gereja.  Hari panas hari hujan tidak ada alasan untuk menghalangi menghadiri acara kebaktian.  Sampai sekarang saya tidak punya kebiasaan tidak ke  gereja, bahkan tidak pernah punya kebiasaan datang terlambat ke kebaktian.

Dua, saat berada di dalam kebaktian, orangtua saya selalu menempatkan kami anak-anaknya duduk bersama-sama.  Jika ada yang kurang nyaman ataupun rewel, sedapat mungkin mereka berusaha menenteramkan tanpa kehilangan makna dari perbaktian.  Saya terbiasa dengan lembar-lembar kertas, buku-buku mewarnai, spidol, krayon, pinsil berwarna yang kami gunakan untuk sibuk mencoret-coret, menggambar dan kegiatan motorik lain yang menyibukkan selama acara khotbah yang belum kami pahami berlangsung.  Setelah kami bisa membaca, kami terbiasa membawa alkitab dan sebuah buku bacaan yang bisa menyibukkan kami sekiranya acara khotbah juga berlangsung lebih lama dari biasanya.

Saya melihat kebiasaan ini sebagai kebiasaan yang baik.  Saya tidak pernah punya kebiasaan lari-lari di gereja, berputar dari satu tempat duduk ke tempat duduk yang lainnya.  Saya juga tidak punya kebiasaan ribut dan mengobrol dalam acara kebaktian.  Saya juga tidak punya kebiasaan makan atau minum di gereja.  Tanpa saya sadari sebuah kebiasaan yang baik telah tertanam dalam hidup saya melalui orangtua saya.

Saya jalankan kebiasaan yang sama dengan anak saya.  Bukan hanya ke gereja, di rumah pun saya memberinya paling tidak satu rim kertas yang bebas ia pergunakan.  Mau digambari, dicoreti, dilukisi, diguntingi, terserah saja.  Buku-buku notes, buku harian, buku catatan yang saya peroleh di konferensi, workshop, dari penyalur obat, atau saya beli di toko buku semuanya berada di rak bukunya.  Bebas untuk ia gunakan sekehendak hatinya.  Saya melihatnya tenang di kebaktian, menggambar, menulis. Tidak pernah ia keluar rumah tanpa buku catatan dan alat tulisnya.  Dan memang ia jarang rewel, walaupun kami harus berlama-lama menunggu atau berada dalam situasi yang kurang nyaman. Kebiasaan ini juga memudahkan saya untuk mengontrolnya.  Jika ia resah, jika ia mengoceh, saya bisa mengajarinya untuk duduk tenang, untuk belajar mendengarkan. Sesulit apapun seorang anak kecil mencoba memahami, yang paling pertama dipelajarinya adalah sebuah kebiasaan.

Ternyata selain kebiasaan baik, orangtua saya juga mewariskan kebiasaan buruk.  Saya memerlukan waktu lama untuk mengubah diri saya sendiri untuk tidak terpengaruh.

Satu, Ibu saya gemar mendiamkan saya.  Jika saja ada hal yang saya lakukan yang tidak berkenan di hatinya pasti ia segera mendiamkan saya seolah-olah saya kuman penyakit yang sangat perlu dihindari.  Ia bisa mendiamkan saya sampai berhari-hari atau berminggu-minggu, atau sampai saya mulai untuk mencairkan suasana.  Saya sering merasa terkucil dan semakin lama saya semakin kehilangan respek kepada beliau.  Sebagai anak tertua, saya merasa tidak dicintai.  Saya masih balita sudah punya dua adik bayi, dan tangan orangtua saya adalah untuk mengurusi adik-adik saya, tidak untuk saya.

Setelah saya menjadi orangtua, saya beberapa kali mendiamkan anak saya saat saya merasa tindakannya tidak sesuai dengan kemauan saya.  Kemudian saya menyadari, jika saya lakukan terus, saya tidak lain adalah mengulang pola asuh yang keliru yang dilakukan oleh ibu saya kepada saya.  Jadi, saya mengambil sikap, betapapun marahnya saya, dan betapapun saya tidak menyukai tindakan atau reaksi anak saya, saya tidak akan pernah mendiamkannya.  Saya akan tetap mengelus kepalanya, memberinya makanan dan mengucapkan, inong saya padamu!  Hal-hal demikian saya percayai akan membuat ia tidak kehilangan kepercayaan dan respeknya kepada saya seperti yang sudah terjadi kepada saya dimasa yang lalu. Saya ingin anak saya dan saya selalu menjadi sahabat dan soulmate baik di dunia dan di surga. Karena untuk saya ia sangat berharga.

Dua, orangtua saya gemar membicarakan kejelekan orang-orang lain di gereja. Pendeta, ketua jemaat, anggota majelis, siapapun.  Dengan bahasa yang tidak terlalu halus dan bahkan terlalu tajam mereka menghakimi orang-orang lain melalui lensa otobiografis mereka.  Saya meyakini secara pribadi kebiasaan ini juga di’tular’kan oleh orangtua mereka kepada mereka melalui pola asuh, namun mereka tidak menyadari bahwa hal itu buruk dan mengkopinya.  Saya terbiasa mendengar celaan demi celaan.  Hampir tidak ada orang yang baik dan hampir tidak ada orang yang dapat diandalkan.  Semua punya kejelekan.  Tentu saja! Apa ada orang di dunia ini yang tidak punya kekurangan?

Setelah menyadari betapa berbahayanya kebiasaan itu,  saya sangat berhati-hati untuk membuat sebuah komentar kepada anggota jemaat terlebih tua-tua jemaat.  Saya ingin anak saya bertumbuh dalam sebuah iklim dimana jemaat adalah untuk bertumbuh secara rohani dan bukan sebaliknya.  Saya ingin anak saya memiliki cermin yang refleksinya jernih dan tidak buram seperti milik saya hingga pada usia yang tidak muda lagi pun saya masih sering merasa kehilangan jatidiri.

Tiga. Walaupun orangtua saya cukup moderat namun saya merasa mereka tidak terlalu tahu apa yang hendak mereka tawarkan untuk masa depan saya.  Berbeda dengan orangtua jaman sekarang yang sangat siap sedia dengan segala alat tempur berupa asset dan asuransi, orangtua saya bahkan tidak terlalu mengetahui bidang apa yang terbaik untuk saya.

Saya belajar banyak dari kesalahan ini untuk sejak dini mengenali apa kelebihan anak saya dan sebisa mungkin membekalinya.  Jika saya bisa kuliah sampai menyelesaikan gelar S1, anak saya harus menyelesaikan gelar yang lebih tinggi dari saya.  Jika saya kuliah di Bandung, anak saya sebisanya kuliah overseas.  Jika saya mampu memainkan sedikitnya dua jenis instrumen musik, anak saya juga, malah kalo boleh melebihi.  Saya punya cita-cita untuk dia. Saya membekali dia.  Saya yang melatihnya berenang, saya yang melatihnya main basket, dan saya ingin ia mewarisi visi saya dalam pelayanan.

Bicara Dengan Paulus

Bicara Dengan Paulus

Saya sungguh ingin berbincang dengan Paulus.  Ya, rasul Paulus.

Merujuk kepada tulisan rasul Paulus, hingga hari ini masih banyak sekali jemaat yang tidak memperbolehkan wanita mengajar dan berkhotbah.

Beberapa tahun yang lalu saat saya melayani di sebuah jemaat, saya mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah.  Saya perhatikan seorang bapak tertidur. Duduk menundukkan kepalanya dan tidak bergerak selama khotbah berlangsung. Begitu lagu penutup beliau segera segar kembali dan menyanyi.  Saya kemudian mengetahui bahwa ia sangat berpegang pada tulisan rasul Paulus yang melarang wanita mengajar itu.  Untuknya, ‘haram’ wanita diberikan tempat di mimbar.

Di beberapa jemaat dimana saya melayani saya menyadari memang mimbar tidak terlalu ‘terbuka’ untuk kaum wanita.  Ada jemaat yang hanya memperbolehkan wanita berkhotbah dua kali setahun.  Saat hari khusus doa untuk wanita dan hari Ibu.  Saat itu semua ibu-ibu mengenakan baju nasional dan mengambil bagian di mimbar. Tapi saya melihat bahwa makna dari hari itu jadi seperti hari natal. Bersukaria merayakan dengan shopping dan bertukar hadiah, tapi melupakan siapa yang ultah. Heboh pake kebaya dan bersanggul namun tidak mengedepankan isu ke-wanita-an dalam penginjilan yang lebih penting.

Yang saya perhatikan juga adalah pembatasan-pembatasan itu membuat wanita-wanita mandek dan tidak berkembang. Talenta-talenta mengajar tidak dipupuk dan dibiarkan mengering.  Ketika datang waktunya untuk berkhotbah, para wanita saling buang-bodi, tidak ada yang mau, dengan berbagai alasan.  Saya melihatnya sebagai sebuah kegagalan jemaat.

Memang tidak banyak orang yang punya talenta berkhotbah.  Bukan hanya wanita, tapi juga pria.  Sayangnya pria difasilitasi untuk berkhotbah namun wanita tidak.  Jika dibandingkan khotbah para bapak yang kadang-kadang ngawur secara doktrinal, kadang-kadang hanya berupa pemikiran berserakan yang tidak fokus,  kadang-kadang berdalih: “Baru saya siapkan tadi malam atau tadi pagi”, saya menemukan bahwa khotbah para wanita lebih ilmiah, berisi dan mendalam.  Pengalaman sebagai isteri dan sebagai wanita yang multitasking mengkayakan pengetahuan biblikal menjadi praktikal.  Tidak perlu berdebat panjang lebar, mengutip tulisan Ny White dari berbagai buku, pengalaman saja sudah menjadikan khotbah itu hidup.

Saya tidak ingin membandingkan pria dan wanita dalam kadar kerohanian, tapi saya sering menemukan bahwa wanita membawa anak-anaknya ke gereja, sementara pria tinggal di rumah atau entah dimana.  Perasaan bertanggungjawab dari para wanita sebagai pendidik utama menjadikan mereka mau bersusahpayah membawa anak-anak mereka ke dalam jemaat Tuhan.  Para pengajar sekolah sabat anak-anak seringkali adalah ibu-ibu atau para wanita, jarang sekali ada pria.  Lalu mengapa masih ada pembatasan wanita untuk berkhotbah dan mengajar jemaat?

Saya ingin ngobrol dengan rasul Paulus.

Berfoya-foya?

Berfoya-foya?

Mungkin ini adalah topik yang sensitif.  Tapi saya tidak mem-password-nya kali ini.  Mudah-mudahan yang membaca memahami sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang ke-advent-an biasa  dan keyakinan untuk setuju-untuk-tidak -setuju yang saya miliki.

Sebuah milis Advent kerapkali menggangu saya.  Posting-postingnya, kalau tidak terlalu ‘sok-alim’, terlalu ‘menghakimi’. Bahkan saat menghakimi nuansa-nya tetap sok-alim.

Seorang manager di kantor saya pernah mengirim sebuah email yang ‘pahit’, isinya menyindir agar semua pemakai toilet wanita mengikuti sebuah SOP penggunaan toilet. Email itu begitu nyinyir dan menuduh bahwa para wanita di kantor jorok dan tidak memahami cara menggunakan toilet modern.  Tidak heran penerimanya merasa tersinggung dan ada yang marah.  Anehnya, segera setelah mengirimkan email itu, sang manager mengirimi pegawai yang beragama kristen dengan sebuah renungan singkat. Wot? Apakah gunanya renungan itu? Sebagai pernyataan bahwa: maaf tadi email saya terlalu nyakitin?, atau: saya orang yang religius jadi tolong tanggapi email saya dengan serius?  Apapun, renungan singkat -nya masuk junk box.

Kembali ke milist Advent.  Saya sering merasa tersentuh dan gatal ingin me-reply saat dibahas mengenai pendeta.  Pendeta ini tidak benar-lah, pendeta itu tidak benar-lah, ada saja kesalahan yang bisa dicari, lalu merembet kepada masalah perpuluhan dan persembahan yang diselewengkan penggunaannya oleh para pendeta untuk bermewah-mewah.

Biarkan saya menarik nafas sejenak.

Suami saya pendeta.

Saya tidak pernah hidup mewah.

Rumah menyicil, mobil menyicil, bahkan biaya pendidikan anak saya yang seharusnya dibayar sekian persen sesuai peraturan tetap harus saya bayar sendiri.  Saya tidak pernah minta-minta uang kepada anggota jemaat mencurhatkan betapa beratnya keuangan rumahtangga.  Potluck saya tetap bawa, sama dengan anggota jemaat yang lain. Retreat tetap bayar sama dengan anggota yang lain.  Apa kemewahannya?

Biarkan saya bertanya bagian apa dari perpuluhan yang dihambur-hamburkan oleh para pendeta untuk berfoya-foya?  Saya kenal suami saya dan bisa tahu makanan apa saja yang dimakannya.  Tiga kali sehari ia makan di rumah, masak sendiri. Kalaupun pergi ke kantor jarang mengunyah nasi kotak yang disediakan karena alasan kesehatan.  Ia tidak pakai blackberry, tidak bersepatu rockport, bahkan jika seminar ke luar kota mencari-cari tiket termurah dan hotel termurah sangkin menghematnya.  Dimana berfoya-foya-nya?

Saya sungguh tak tahu dan tidak bisa merasakan kemewahan apapun seperti yang sering dituduhkan.  Malahan, sebagai isteri pendeta, saya selalu mengalami kritik dan kritik dan kritik dan kritik.  Kritik yang bias dan menyakitkan.  Bukan saja menyerang saya sebagai pribadi yang bebas beropini tapi juga menyerang jiwa rohani saya dengan dikte bahwa seorang isteri pendeta harus selalu mau melayani tanpa boleh lelah dan tampil konservatif bak EG White di tahun 1800an.

Hakimi saya.

Takdir. Saya Percaya.

Takdir. Saya Percaya.

Ada dua hal yang bersarang dan tak mau pindah dari benak saya minggu-minggu terakhir ini.

Baiklah saya urai dari pertama.  Takdir.

Saat bercanda-canda dengan teman-teman di penginapan, kami yang sama-sama Advent,  terhadap sebuah situasi yang tidak terkendali saya berujar: “Ya mau diapain? Itu kan takdir.”  Seorang teman langsung menyambar: “Hush!”

Hush?

Saya tahu benar orang Advent adalah para ilmuwan alkitab yang setia belajar, mendengar, membaca dan mendiskusikan Alkitab.  Saya juga tahu benar bahwa orang Advent tidak percaya pada takdir.  Dalam pembahasan-pembahasan sekolah sabat baik di khotbah pasti ditekankan, dan berulang-ulang: Tidak ada takdir.  Mengapa? Karena Allah membekali manusia dengan kuasa untuk memilih.  Power of  Choice.  Manusia boleh memilih menjadi baik atau menjadi jahat.  Manusia bebas memilih menjadi pengikut Kristus atau pengikut setan.  Manusia boleh memilih tempatnya di surga atau di neraka.  Semata-mata of the power of choice.

Tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi manusia jahat.  Benar.  Melebar menjadi: tidak seorangpun ditakdirkan Allah menjadi perampok atau pembunuh.  Benar juga.

Namun siapa yang bisa memilih dari orangtua mana mereka lahir?  Jika saya boleh memilih saya tidak akan memilih dilahirkan di Indonesia apalagi tinggal di kota semacam Jakarta yang mahluk hidupnya sangat individualis dan kasar.  Lebih baik saya memilih pedesaan yang sejuk di NZ atau kota besar di negara maju seperti NY di US.  Jika saya boleh memilih tidak sudi saya punya pemimpin dan parlemen doyan korupsi dan disebut dunia sebagai negara berkembang (kalo bukan negara miskin) dengan penduduk terpadat dan polusi terparah. Aih.  Namun, mana saya boleh memilih?

Kalaupun ada pilihan untuk saya tidak serta merta saya bisa bilang: Ah, saya mau pindah tinggal di London! umpamanya.   Manalah bakalan negara itu memperbolehkan seorang yang hanya tamatan sekolah di negara berkembang menjadi warganegaranya dengan mudah?  Jangankan jauh hingga ke sana.  Saya saja tidak bilang sembarang bilang: Ah, saya mau tinggal di Singapore saja! Padahal Singapore cuma dua jam perjalanan pesawat dari Jakarta dan relatif banyak warganegara Indonesia yang bekerja di sana.

Saya jelas tidak bisa memilih.  Saya dilahirkan dalam keluarga Advent, bersuku batak, yang kondisi keuangan pas-pas an, saya tidak bisa serta merta memilih untuk keluar dari situasi itu, bukan? Lihat sekeliling.  Jika menjadi tukang becak adalah alternatif pekerjaan yang terbaik bagi seseorang, apakah kita bisa bilang bahwa ia punya kebebasan memilih.  Ia bisa memilih menjadi manager, ngapain pulak jadi tukang becak? Eits, memangnya jadi manager tidak perlu pendidikan.  Beruntunglah mereka yang punya orangtua yang cukup uang untuk sekolah setinggi-tingginya, jika tidak? Apalagi di kondisi negara dengan 70% masyarakat miskin seperti Indonesia? Apakah mereka bisa langsung memilih mengubah nasibnya? Mengubah takdirnya? Jika pun bisa tidak semudah membalik tangan, bukan sekedar kerja keras, namun juga ada bermacam hal lain menjadi faktor yang menentukan.

Saya percaya takdir.  Di dunia yang fana ini takdir berlaku. Di dunia ini, takdir yang kejam, sedang berlaku. Power of choice berlaku untuk mengesahkan kekekalan kita di dunia baru yang Tuhan janjikan, tapi bukan di dunia yang ini.

Didikan Jemaat

Didikan Jemaat

Saya bukan cuma satu atau dua kali merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan lebih dari sekedar kreativitas ini dan itu yang membuat mereka giat tubuh dan mental.  Saya hampir tiap hari merasa bahwa mendidik anak-anak memerlukan: TELADAN.

Saya dibesarkan di sebuah gereja yang besar. Besar dalam tanda kutip.  Artinya, jemaat dengan jumlah anggota yang banyak. Satu gereja yang mula-mula dibentuk, sebuah gereja yang populer.  Gereja yang memiliki sekolah dan gereja yang letaknya dalam bangunan yang sama dengan kantor daerah. Gereja atau Jemaat ini dalam pandangan saya adalah jemaat yang lengkap, jumlah anak-anak, orang muda, orang tua berimbang dengan baik. Semua departemen dapat diisi dan digiatkan.  Saya bandingkan dengan jemaat-jemaat dimana saya ikut melayani selama ini, kadang departemen Pelayanan Anak-anak kurang giat karena tidak ada guru-guru yang terlatih dan mau melayani, dengan kata lain resources-nya kurang. Ada jemaat yang kegiatan PA-nya mandek karena orang muda hanya segelintir dan langsung kabur begitu selesai kebaktian.  Ada jemaat yang kegiatan BWA nya cuma khotbah hari sabat karena para wanita kebanyakan adalah oma-oma yang sudah lebih suka duduk-duduk.  Hm.

Kembali ke leptop. Berada dalam jemaat yang ‘besar’ dan ‘lengkap’ ternyata bukan jaminan menjadikan saya seorang ‘tiang-tiang jemaat yang handal di masa yang akan datang’ *mengutip doa-doa para pendeta yang menjadi pemimpin kepada anak-anak di jemaat.  Justeru sebaliknya.  Mungkin kedengarannya aneh dan mengecewakan.  Tetapi di jemaat ini saya belajar menjadi anggota jemaat yang penuntut =pendeta harus perfect dengan kualitas khotbah dan rajin melawat, saya belajar menjadikan mimbar dan rapat majelis sebagai ajang menghakimi orang=si ini dan si itu tidak boleh jadi ketua jemaat karena anaknya sekolah haris sabat, si ini tidak boleh khotbah karena masih ada hutang sama saya.  Di jemaat ini saya belajar untuk pamer=kesaksian-kesaksian mendapatkan untung usaha berlipat ganda, anak masuk universitas terkenal, membelikan perabot baru untuk gereja karena dapat berkat, dll, dan di jemaat ini saya belajar macam-macam hal seperti perpecahan, sakit hati, blok-blok-an dan sederetan hal-hal negatif.  Hal-hal yang seharusnya bukan merupakan ciri umat Allah yang sisa.

Saat saya masih remaja saya sudah bisa merasakan persaingan *baca=di gereja*.  Seorang ketua jemaat dan yang lainnya berlomba-lomba memberikan sumbangan kepada gereja, dengan tujuan mendapatkan pujian dan lebih banyak dukungan.  Saya salah seorang anak yang sejak dini belajar main piano *orang Advent terkenal karena banyak yang mahir piano bukan?* tetapi saya bisa merasakan favoritisme dengan adanya seorang teman yang sesungguhnya tidak terlalu mahir namun entah kenapa selalu dijadwalkan melayani lebih banyak dan pada acara yang lebih penting daripada saya yang paling banyak dijadwalkan dua kali satu triwulan, itu pun untuk acara pembukaan sekolah sabat atau acara PA, dimana hanya sedikit orang yang hadir.   Saya juga merasakan bahwa saya selalu dianggap ‘underdog’, sebagai orang yang tidak berpotensi.  Saat para remaja main drama, saya kebagian peran-peran figuran saja.  Saat para remaja menyanyi, saya tidak pernah kebagian menyanyi solo.  Saat pemilihan pegawai jemaat, saya tidak pernah dipilih selain sebagai pianis sekolah sabat.  Walaupun setelah semakin beranjak dewasa saya semakin menyadari potensi-potensi saya yang tidak biasa baik secara talenta maupun kepemimpinan, saya tidak pernah mendapatkan kesempatan membuktikannya.  Saya merasakan tidak adanya kesempatan yang sama diberikan kepada semua orang.

Jadi demikianlah pendidikan dari jemaat yang saya terima.  Demikianlah TELADAN yang saya terima. Tidak dapat saya tolak bukan?

Namun saya menyesalinya.  Saya menyesali kurang bijaknya orang-orang tua dimasa lalu mendidik anak-anak jemaat, sehingga terjadi produk-produk gagal seperti saya.

Produk-produk gagal yang akan mengulang kesalahan orangtua saya.  Yang suka mencela dan menghakimi pendeta.  Yang bersikap rigid dan legalis.  Yang tidak toleran dan tidak suka menerima perubahan, dan membuat perpecahan-perpecahan yang tidak perlu di jemaat.  Apakah saya ingin membuat sebuah generasi baru yang seperti itu juga? Huh. Tidak. Maaf.

Sejak saya meninggalkan jemaat itu saya berjuang seperti seorang ulat di dalam kepompong yang ingin keluar sebagai kupu-kupu yang cantik.  Tidak mudah menurunkah kelebihan bobot pikiran negatif mudah menghakimi orang yang sudah saya pelajari bertahun-tahun tersebut.  Tidak mudah melunturkan belang-belang blok-blok an yang sudah melekat di tubuh saya paling tidak selama 17 tahun.

Suatu waktu saya pernah melayani sebuah jemaat.  Walaupun pemimpin musik tahu saya handal bermain piano, ia hampir tidak pernah menempatkan saya sebagai pianis dalam jadwal, dan memberikan tempat kepada orang-orang muda yang kurang handal dan kurang berkomitmen.  Saya teringat kembali pengalaman saya bertahun-tahun lalu ketika saya remaja dan mendapati bahwa sang pemimpin musik adalah produk yang sama seperti saya.  Saya berubah.  Dia tidak.

Beberapa tahun yang lalu seorang anggota jemaat mendekati saya dan berbisik: “Maaf Bu Pendeta, tau kan si Anu itu, tolong ditegur dong, kita engga enak ngeliat dandanannya yang sedemikian.”  Saya memandanginya dengan tegas berkata: “Ibu bilang saja sendiri sama dia.  Saya tidak terganggu.  Buat saya enak aja dan tidak ada masalah.”  Anggota jemaat itu mendesak: “Tapi kan berdandan sedemikian tidak sesuai dengan doktrin Advent?” Saya angkat bahu: “Soal doktrin mari kita duduk bersama untuk membicarakannya, namun saya meyakini tidak ada keharusan seorang wanita Advent harus tampil bak Ny Ellen White di tahun 1800-an.”

Sama jika seorang mengatakan bahwa mereka ingin menyanyi di gereja menggunakan gitar dan drum. Saya akan senang-senang saja.  Sama senangnya jika seseorang menyatakan ingin menyanyi menggunakan piano, atau suling, atau angklung, atau apapun.   Saya menyadari banyak pertentangan antara kubu yang ingin mempertahankan konservatisme dan bernyanyi hanya merujuk pada lagu-lagu yang ditulis di Lagu Sion dan kubu yang suka mengeksplorasi dan mengadaptasi lagu-lagu dari denominasi lain, sama banyaknya dengan kubu yang suka mendengarkan berbagai jenis musik bertentangan dengan kubu yang hanya merasa bahwa piano-lah yang layak.  Silakan kalian bertentangan! Namun ingatlah baik-baik, anak-anak yang sedang bertumbuh, generasi dibawah ini, sedang dididik oleh jemaat dan mereka tidak bisa menolak didikan itu.  Apakah mereka akan bertumbuh sama persis seperti generasi sebelumnya atau menjadi generasi yang lebih bijaksana sangat tergantung kepada didikan itu.  Kecuali kita menghendaki sebuah generasi yang juga suka pecah-pecah gereja, silakan!

Saya? Saya tidak akan menghakimi seorang yang minum teh.  Tidak menghakimi orang yang bersekolah hari sabat.  Tidak pusing dengan jenis pakaian dan jenis musik.  Menerima perayaan dan ucapan natal dengan gembira, dengan satu maksud: Saya menjadi seorang TELADAN yang benar di dalam jemaat.  Generasi yang akan datang akan muncul sebagai tunas yang berbuah.  Yang tidak bersaing siapa paling kaya di gereja, yang tidak menghakimi saudaranya.

Seorang pernah berkata: Pikiran hanya bisa digunakan jika ia terbuka!

PS: Seorang pernah memprotes saya karena saya menempatkan setiap anak menyanyikan satu bait dari lagu yang dinyanyikan bersama-sama dalam sebuah acara SS13.  Si anak memang fals.  Saya angkat bahu.  Saya tidak ingin mengulang kegalauan saya di masa lalu. Bukankah di mata Allah segala pujian adalah indah?  Anak itu fals, namun ia bisa dilatih.  Daripada dicela dan dijadikan anak bawang atau underdog, well, saya tidak merasakannya sebagai suatu metode yang bagus.  By the way, daripada teman-teman saya yang sama-sama belajar main piano di jaman dahulu di jemaat itu, mungkin cuma saya-lah yang masih setia melayani main piano hari Sabat di gereja.

Music for Life

Music for Life

Lebih dari enam bulan belakangan ini, anak-anak Galilea kembali digiatkan dengan kegiatan kelas kemajuan.  Karena itu kegiatan membuat prakarya berkurang.  Siang hari sehabis kebaktian digunakan untuk latihan biola *nah, ini memang baru* dan kelas-kelas.

Tentang biola, tahun 2011 kekompakan tim semakin kuat.  Tahun 2009 dimulai dengan musik gedumbrangan menggunakan kaleng-kaleng bekas, menggantikan perangkat perkusi.  Tahun 2010 maju dengan angklung, dan tahun 2011, instrumen biola menjadi iringan tetap di acara kebaktian baik sekolah sabat maupun khotbah.  Ada anak-anak yang cepat maju dan mampu membaca not balok lagu mana saja, dan ada anak-anak lain yang lumayan bisa ikut-ikut walaupun tidak mahir.  Setidaknya, semuanya belajar kooperatif satu dengan yang lainnya, menajamkan sense musikalitasnya dan terutama roh pelayanan kepada Tuhan.

Saat Kongres Anak di Bandung, anak-anak Galilea bergabung dengan jemaat Kota Wisata, memainkan biola dan menyanyikan dua lagu.  Sangat disayangkan kualitas microphone-nya kurang memadai sehingga penampilan tidak maksimal.  Anak-anak merasa kecewa karena menyadari suara mereka tidak terdengar bagus dan karena melihat para juri menggeleng-gelengkan kepalanya *ini suatu kritik membangun, kalau merasa cukup bisa menjadi juri anak-anak harusnya sadar betul bahwa anak-anak adalah mahluk yang bisa sangat sensitif merespon tindakan orang lain.  saya juga mau mengkritik pihak panitia yang tidak suka test-mic, mengakibatkan hal-hal yang tidak diharapkan seperti itu.  setelah terjadi hal yang kurang baik, baru di acara pagi hari mic-nya diganti*

Dari pengalaman bermain biola di acara-acara kebaktian di gereja dan di acara-acara lainnya juga, seperti acara PA Gabungan mudah-mudahan tahun depan lebih semangat untuk belajar main biola dengan lebih baik! Main biola tidak terlalu sulit asal suka belajar dan mau berlatih.  Anak-anak yang teratur berlatih mudah menerima pelajaran baru dan tidak ragu membaca not.  Harga biola juga tidak terlalu mahal *apalagi dibandingkan dengan harga piano :) * jadi hampir semua anak yang giat akan bergabung dalam tim. Cheers!

Say No To ‘Advent’ Grafitti

Say No To ‘Advent’ Grafitti

Tidak disangkal bahwa orang Advent suka untuk menjadi terkenal.  Tidak mengapalah saya menyebut orang Advent bukan? Karena memang demikianlah cara kita menyebutnya? Petuah dari Yesus kepada ke dua belas murid untuk : pergi, ajarlah dan baptis-lah, menjadi suatu acuan sehingga begitu giatnya orang Advent untuk melakukan pekerjaan pengabaran injil.  Jika ada yang menanyakan mengapa anda tidak makan kepiting yang enak itu? Tidak ragu itu adalah suatu cara untuk menyatakan: Saya Advent, kami tidak makan kepiting, udang dan jenis-jenis seafood lain selain ikan yang bersisik dan bersirip. Dan jika si penanya tertarik maka pembahasan akan berkembang mudah-mudahan sesuai harapan.

Saya jadi teringat jaman tahun 80-an, di kota kecil di tempat saya tinggal sangat mudah membedakan orang Advent pada Sabtu pagi.  Selain baju rapi, mengenakan dasi dan jas, dan para wanita mengenakan stocking, alkitab dan lagu sion selalu ikut dikepit naik angkot menuju ke gereja.  Pula jika orang Advent makan di restoran yang masih sedikit di kota kecil saya itu, pasti mereka akan minta ‘cai herang’ alias air putih sebagai pengganti teh yang complimentary pasti langsung disajikan pelayan tanpa perlu memesan *saya sering merasa kehilangan saat-saat seperti itu, sekarang jarang sekali ada resto atau warung makan yang menyediakan minuman complimentary, untuk segelas aqua harus pesan dan segelas air putih harus bayar*

Dengan semakin majunya teknologi, orang Advent semakin terkenal.  Mengudara melalui radio dan tayang di televisi.  Duduk bersama pemuka-pemuka agama lain dalam forum antar agama dan diberitakan di seluruh dunia.  Choir ini dan itu mendapatkan pujian dalam festival-festival musik  dan malah memenangkan perhargaan dalam kompetisi.  Saya masih menunggu-nunggu apakah ada orang Advent Indonesia yang akan berjaya menjadi seorang pianis, secara begitu banyaknya pianis yang handal di gereja, dan anak-anak dibiasakan dengan musik sejak masih sangat dini.  Bukankah baik terkenal dengan cara-cara demikian?  Stigma-stigma ekslusivitas akan mengelupas jika orang Advent terkenal dalam sisi-sisi positif.

Tentunya jauh lebih baik daripada terkenal terkenal melalui grafiti-grafiti di tembok-tembok pembatas jalan, di kursi-kursi metromini atau bis non-AC, atau di tembok-tembok perkantoran dan rumah. Ealah. Saya sendiri sangat anti grafiti.  Di masa sekolah, saya tidak punya kecenderungan duduk-duduk dengan teman-teman lalu menggrafiti dinding.  Setiap waktu luang dipakai untuk belajar dan belajar lagi. Belajar main piano, latihan renang, latihan basket, latihan baris-berbaris bersama grup paskibra, lalu membaca buku ini dan itu, hampir tidak ada waktu luang walaupun hari minggu.  Jika kita kepengen kumpul-kumpul, maka kami pergi ke toko buku Gramedia dan mencari bacaan, atau makan bakso lalu ngumpul di rumah salah satu teman menghabiskan sekantong keripik sambil nonton TVRI.  Sederhana.  Buat apa menggrafiti? Begitu banyak-kah waktu luang orang muda jaman sekarang? Dan kenapa harus menggrafiti kata-kata yang begitu baik: Advent? Advent artinya menantikan kedatangan Yesus, tetapi dijadikan coretan yang mengotori kebersihan kota dan angkutan publik.

Suka untuk terkenal. Ya. Grafiti? Tidak.

I- Bukan Cobaan Biasa

I- Bukan Cobaan Biasa

Seorang pernah mengatakan kepada saya: “Hanya pencobaan yang biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia yang kamu alami” seperti dituliskan dalam 1 Korintus 10:13. Mungkin ia merasa perlu menghibur saya yang sedang merasa terpukul akibat vonis penyakit yang saya derita. Namun, gantinya merasa terhibur saya justeru merasa lebih kecewa.

Biasa? Tidak melebihi kekuatan manusia? Saya justru merasa sebaliknya. Titik kekuatan saya dimana saya merasa bisa mengendalikan pikiran saya untuk tidak merasa kecewa sudah lewat. Titik terendah dimana saya merasa Tuhan tetap memegang tangan saya sudah terlampaui. Sebagai hasilnya, saya merasa tidak berdaya dan suntuk sendirian. Saya merangkak melalui hari-hari saya dengan kosong seperti tanpa harapan.

Entah mengapa pencobaan ini disebut biasa?

Seorang lain mencoba menghibur dengan mengatakan: “Kita tidak akan mengalaminya jika Tuhan merasa kita bisa menanggungnya.”

Tidak semua orang mengalami penyakit. Banyak orang yang hidup merdeka dari penyakit berat dan tutup usia setelah memiliki cicit. Saya mengenal seorang teman yang tidak pernah mengalami pergumulan apapun seperti yang saya alami. Setelah selesai sekolah menengah melamar ke universitas dambaannya, langsung masuk. Empat tahun langsung tamat. Setahun kemudian diterima di lembaga Negara. Dua tahun kemudian mendapatkan beasiswa ke Eropa. Beberapa waktu menikah dengan pasangan yang cantik sempurna, dibelikan rumah dan perlengkapannya oleh kedua orangtua yang bangga dan dalam tempo singkat memiliki keluarga sakinah mawardah yang tidak ragu memasang foto-foto cerminan kesempurnaan di facebooknya.

Sementara saya merangkak mencari universitas swasta yang paling bisa dibiayai oleh orangtua saya. Setelah selesai kuliah mengirim ratusan CV sebelum mendapatkan kesempatan wawancara dalam hitungan jari tangan. Berbulan-bulan menggangur sebelum mendapatkan pekerjaan dan harus puas dengan pekerjaan tanpa karir dan bergaji sedang sedang saja. Saya harus mencicil lima belas tahun untuk sebuah rumah sederhana. Setelah saya merasa tenang sedikit, saya mendapatkan vonis penyakit.

Ah. Lalu apakah itu berarti di mata Tuhan saya lebih kuat menanggung pencobaan daripada orang-orang yang lain? Sehingga kepada saya diberikan hanya sebegininya sedangkan orang lain sebegitunya?

Saya tidak terhibur dengan ide itu. Tidak sama sekali. Kalau tahu begitu, saya tidak akan bersikap begini tegar. Lebih baik saya cengeng dan mencla-mencle supaya Tuhan kasihan dan hidup saya dimudahkan. Bukankah begitu?

Saya ingin Tuhan mengatakan kepada saya: memang tidak ada pencobaan yang biasa. Menangislah dan marahlah. Aku akan menjamin, bahwa semua kemarahan dan tangisan itu, semua keraguan dan kekuatiran itu, sudah diampuni.